Thursday, November 27, 2008

His Dark Materials Trilogy

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Philip Pullman
Ya kemarin saya memborong 4 novel anak karya Philip Pullman, saya terkesan karena 3 dari 4 bukunya memang benar2 menarik dan sangat menghibur untuk dibaca. Dan resmi lah saya menjadi fans karya2 beliau. Untuk itu saya mohon maaf, saya memutuskan untuk me-repost review saya terdahulu tentang karya Pullman yang paling fenomenal ini, His Dark Materials Trilogy. Sebelumnya review2 pendek ini juga pernah diposting di situs Friendster milik saya yang telah lama terlupakan. Membaca review2 lama membuat saya tersenyum2 sendiri. Oke langsung saja:

Buku I : The Golden Compass

Cerita anak, fantasy, keren, seru, rada nyeleneh hehehe kontroversi... Awal membaca buku ini saya teringat Narnia, hanya saja dalam versi yang lebih seru, menarik dan bikin penasaran. Campur dengan original sin dan kitab kejadian, maka jadilah novel pertama His Dark Materials ini. Kita dibawa mengikuti petualangan gadis cilik yg ditakdirkan sebagai the choosen one. Awalnya biasa saja, tapi makin dibaca, semakin tangan kita tak bisa lepas dari buku ini.


Buku II : The Subtle Knife

Perjalanan menuju beragam dunia pararel pun dimulai. Lyra sang terpilih akhirnya bertemu dengan Will si pembawa pisau. Petualangan yg seru pun dilalui oleh mereka, berdua berusaha untuk mengungkap pertanyaan yang harus dijawab, yg menyangkut takdir Lyra dan siapa sebenernya ayah Will. Ceritanya makin menarik, seru dan yang jelas bikin penasaran untuk membaca sampai halaman terakhir.


Buku III : The Amber Spyglass

Pertempuran terakhir yang menentukan nasib spiritual umat manusia ceile hehehe... Di buku yang terakhir ini petualangan Lyra dan Will berlanjut, ke lebih banyak dunia pararel lagi. Tokoh Mary, sang ilmuwan mantan biarawati mendapat porsi yang banyak di sini, untuk menyibak partikel debu dan orignal sin. Semua pertanyaan yang ada di 2 buku sebelumnya akhirnya terjawab. Pertempuran yang dahsyat tidak menjadi ending di sini, ending yang sebenarnya terasa sangat menyentuh, humanis, filosofis dan sarat akan pesan moral tanpa kita harus merasa digurui. Go grab these books guys, these r definitely a MUST READ...!


Tambahan untuk Multiply:

Kekuatan di buku I adalah, tentu saja pertarungan duel sang beruang kutub, Iorek, yang digambarkan dengan sangat dahsyat oleh Pullman. Sedangkan buku II sangat memukau dengan pertempuran mendebarkan yang harus dihadapi oleh Lee Scoresby seorang diri di ngarai Alamo demi menyelamatkan Lyra, mengingatkan saya akan gaya shoot-out mencekam yang harus dihadapi oleh Leonardo Di Caprio pada film Blood Diamond. Buku III, ah sudahlah, tentu saja endingnya yang paling menggetarkan hati saya.

Cerita yang dijalin pada trilogi ini memang tidak semenarik dan seheboh apa yang ditawarkan oleh J.K. Rowling dalam serial Harry Potter. Bahkan awal ceritanya cenderung membosankan, tetapi semakin dalam saya tenggelam dalam ceritanya, semakin tangan saya sulit untuk lepas dari buku ini. Tema kontroversi yang ditawarkan memang berhasil membuat saya penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Petualangan yang dihadapi oleh Lyra dan Will juga cukup seru dan mendebarkan.

Bahkan buku III yang menurut sebagian orang membosankan, ternyata malah berhasil menarik perhatian saya. Memang actionnya tidak terlalu banyak, tapi terdamparnya Lyra di negeri mulefa untuk memahami lebih dalam tentang debu dan original sin menurut saya sangat mengasyikkan untuk dibaca.

Memang ada pertempuran terakhir, tapi menurut saya bukan itulah kekuatan utama trilogi ini. Justru ending yang mengisahkan pengorbanan yang harus dilakukan oleh Lyra dan Will lah yang menurut saya sangat sempurna. Janji yang mereka ucapkan benar2 menyentuh hati saya yang paling dalam. Tak pelak, ini adalah salah satu ending terbaik yang pernah saya baca, jauh mengungguli ending yang ditulis Rowling pada Harry Potter and the Deathly Hallows.

Wednesday, November 26, 2008

Rokok?

Di mana2 rokok dilarang, orang yang merokok dirazia...

Di sini? Rokok dibuang ke wastafel, ck ck ck...



Tanya ken...apa?

Tuesday, November 25, 2008

I Was a Rat

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Philip Pullman
Nah… kalo buku ini saya rasa aman deh buat dikonsumsi anak2. Buku yang diterbitkan tahun 2000an ini telah diadaptasi menjadi miniseri TV. Kalau tidak salah pernah tayang di Trans7, tapi saya sendiri luput untuk menyaksikannya.

Bob Jones dan Joan adalah sepasang suami istri yang sampai pada masa tuanya belum juga dikaruniai anak. Hingga pada suatu malam, ada seorang anak laki2 yang mengetuk pintu rumah mereka dan berkata, “Dulu aku tikus.” Mereka memutuskan untuk merawat anak yang tak memiliki nama tersebut dan memberinya nama Roger.

Walaupun secara fisik bocah tersebut tampak seperti selayaknya anak laki2 biasa, namun tingkah lakunya benar2 mencerminkan seekor tikus sejati. Sampai kemudian anak itu menghilang dan membuat kedua ortu angkatnya khawatir. Ke manakah Roger?

Berpetualang, mulai dari menjadi tontonan sirkus nomaden, direkrut menjadi maling profesional, sampai kemudian nyawanya terancam karena dianggap sebagai monster yang berbahaya bagi masyarakat.

Benarkah Roger dulunya adalah tikus? Atau apakah itu hanya bualannya belaka? Jawabannya tentu saja bisa anda dapatkan pada akhir cerita.

Unik. Ilustrasi pada buku ini tidak hanya ilustrasi biasa, tapi ada juga kliping berita dari koran setempat, The Daily Scourge. Isinya berhubungan dengan kejadian yang diceritakan di novel ini. Jenaka, sepertinya Philip Pullman memang sengaja mengolok2 pers, khususnya surat kabar dengan gaya ilustrasi ini. Lumayanlah untuk membuat pembacanya tersenyum.

Ceritanya juga cukup menarik dan menghibur, saya jadi penasaran, siapa sih sebenarnya Roger ini? Apa benar dulunya dia memang seekor tikus? Oalah… Ternyata endingnya… Ini semua adalah kisah dongeng yang sukses diparodikan oleh Pullman, dilihat dari sudut pandang tokoh pembantu (benar2 pembantu karena porsinya di dalam dongeng aslinya memang sangat kecil). Hahaha maaf2… saya tak tahan untuk spoiler.

In the end, kita tidak boleh menyesali segala keputusan yang telah kita ambil. Kalau kita mau belajar untuk mencintai dan menghargai apa yang telah kita dapatkan, niscaya semuanya akan lebih mudah untuk dijalani. Dan mudah2an ada kebahagiaan yang akan kita raih di akhir. Amin.

Monday, November 24, 2008

Clockwork

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Mystery & Thrillers
Author:Philip Pullman
Ouch buku anak2 yang satu ini menurut saya tidak cocok dibaca untuk anak2 karena ceritanya terlalu mencekam dan mengerikan. Mungkin karena itu juga buku ini hanya meraih silver medal dari smarties award, sedangkan buku yang saya review sebelumnya, the Firewok-Maker’s Daughter meraih gold medal. Padahal menurut hemat saya, Clockwork ini jauh lebih menarik.

Karl adalah seorang murid pembuat jam di kota Glockenheim. Syarat kelulusannya hanya satu, ia harus membuat patung mekanis untuk ditempatkan pada jam besar di pusat kota. Sampai saat terakhir, ia belum juga berhasil membuat patung tersebut.

Di saat akhir keputus-asaannya, tiba2 seorang tokoh dari dongeng yang ditulis oleh Fritz, teman Karl yang berbakat dalam menulis, hadir membawa jawaban. Dr. Kalmeneius yang sejatinya adalah tokoh dongeng yang diciptakan Fritz, tiba2 hadir di dunia nyata menawarkan sebuah patung mekanis untuk dipakai oleh Karl.

Edan… begitu komentar saya saat membaca buku ini. Dari awal pembaca sudah dibawa ke dalam suasana yang mencekam. Tensi ketegangan ini juga terjaga dari awal hingga menjelang kisahnya berakhir. Suspense yang ditawarkan oleh Pullman juga membuat saya menjadi penasaran untuk segera merampungkankan novel tipis 100 halaman ini.

Gaya penulisan novel ini, oh brilian, dengan gaya alur maju dan mundur. Seperti ada cerita di dalam cerita, awalnya alur maju yang menceritakan keputusasaan Karl dan dongeng tulisan Fritz, lalu kemudian alurnya mundur untuk menceritakan latar belakang yang belum diceritakan pada kisah dongeng Fritz. Setelah beberapa bab berlalu, kedua cerita itu pun akhirnya menyatu menjadi sebuah satu kesatuan cerita yang utuh. Dahsyat.

Seperti biasa, layaknya dongeng Pullman, tak lengkap rasanya bila novel ini tidak menawarkan suatu pesan moral yang tersirat. Walaupun makananya tidak sesarat The Firework-Maker’s Daughter, tetapi cerita tentang hasrat dan keserakahan manusia yang tak pernah puas dengan apa yang telah mereka dapatkan, cukuplah untuk menyentil pembacanya. Oia, gambar sketsa yang menjadi ilustrasi pada novel ini juga cukup artistik dan indah dilihat.

Tak ayal lagi, anda semua harus membacanya, apalagi harganya sangat murah karena jumlah halaman yang sedikit. Lalu? Menceburlah ke dalam buaian kengerian yang mencekam.

The Firework-Maker's Daughter

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Philip Pullman
Lila adalah seorang anak pembuat kembang api. Dia tinggal hanya bersama ayahnya karena ibunya telah tiada. Sejak masih kecil, Lila tampak berbakat dalam membuat kembang api. Ayahnya tentu saja senang karena putrinya itu mewarisi bakatnya.

Tapi setelah Lila hampir menguasai seluruh teknik pembuatan kembang api, sang ayah berubah pikiran. Menurutnya seorang anak gadis tidak sepantasnya menjadi pembuat kembang api, karena pekerjaan itu bisa membuat anak gadisnya menjadi dekil, kusam dan tidak tampak seperti anak gadis pada umumnya.

Lila kecewa, dan atas bantuan Chulak, temannya yang bekerja sebagai pengawal Gajah putih milik kerajaan, Lila pun bertekad untuk meraih impiannya menjadi pembuat kembang api sejati. Dimulailah perjalanan Lila ke kawah Gunung Merapi untuk menempuh ujian berat yang disyaratkan guna melengkapi keahliannya sebagai pembuat kembang api.

Berhasilkah Lila? Yang jelas akibat ulahnya, kini nyawa sang ayah terancam, hanya keahlian mereka berdua yang bisa menyelamatkan, sampai saat pembuktian diri itu tiba…

Cerita anak yang cukup menarik ini ditulis Pullman dengan gaya bahasa yang ringan dan jenaka, sangat cocok buat anak tapi juga tidak membosankan untuk dibaca oleh orang dewasa. Apalagi pesan moral tentang kerja keras dan persahabatan yang disampaikan cukup mengena bagi pembacanya.

Untuk meraih kesuksesan, kita memang harus bekerja keras. Dan rasa cinta akan apa yang kita kerjakan membuat segalanya menjadi lebih mudah dan berarti.

Friday, November 21, 2008

Spring-Heeled Jack

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Philip Pullman
Tiga bersaudara yatim piatu Lily, Rose dan Ned berusaha kabur dari sebuah panti asuhan di Inggris. Di tengah jalan mereka malah menjadi incaran penjahat terkenal di Inggris, Mack si pelempar pisau, yang menginginkan Liontin emas, satu2nya harta terakhir peninggalan orangtua mereka.

Rencana mereka untuk pergi ke Amerika pun terancam batal saat Ned kemudian diculik oleh Mack. Tapi beruntung masih ada orang2 yang berbaik hati untuk menolong ketiga saudara malang ini. Belum lagi ada sesosok misterius yang turut membantu mereka, Spring-Heeled Jack (Jack si Pelompat), untuk menghadapi Mack.

Belum lagi urusan dengan Mack selesai, muncul ancaman berikutnya dari pengurus Panti Asuhan yang serakah, Mr. Killjoy dan Ms. Gasket, yang juga turut mengincar Liontin Emas tersebut. Mampukah ketiga anak ini selamat dan pergi ke negeri impian, Amerika?

Novel anak ini cukup unik karena menggabung antara novel dengan komik. Masalahnya pada buku terjemahan Gramedia, sepertinya mereka agak kesulitan dalam penempatan lay-out komiknya. Hal ini jelas akan membingungkan para pembacanya, karena (pada beberapa kasus) alur ceritanya menjadi sedikit tidak nyambung antara cerita pada novel dengan komiknya.

Secara keseluruhan, karya Philip Pullman yang menceritakan tentang kepahlawanan sosok legenda dari Inggris ini tak ubahnya menjadi cerita untuk anak2 belaka. Kisahnya sangat simpel tentang si baik melawan si jahat. Klise. Flat tanpa twist, karena endingnya juga terlalu mudah ditebak dari awal cerita.

Oke, saat itu saya pikir, mungkin beginilah buku anak2 karya Pullman sebelum era His Dark Materials Trilogy.

Sampai akhirnya saya membaca buku Pullman berikutnya…..

Thursday, November 20, 2008

Laskar Pelangi

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Kids & Family
Directed by: Riri Riza

Ya ampun sky… kemana saja, kok hari gini baru nonton Laskar Pelangi?

Hahaha jadi malu nih, udah posting foto2 LP the Movie dari bulan Agustus 2008 tapi ternyata baru sempat nonton filmnya setelah hampir 2 bulan berselang setelah peluncuran filmnya di bioskop.

Hehehe ah biarlah terlambat, saya tetap senang bisa turut serta dalam usaha pemecahan rekor jumlah penonton film lokal terbanyak di Indonesia. Hmm, sudah berapa ya sekarang jumlah kursi yang terjual? Mungkin sekitar 4 juta, saya rasa angka 5 juta penonton tidaklah terlalu berlebihan untuk film sekelas Laskar Pelangi.

Kenyataan memang pahit, tapi itu semua tak menyurutkan langkah Ikal dan seluruh anggota laskar pelangi lainnya dalam memperoleh hak mereka dalam mendapat pendidikan. Mereka semua adalah anak2 miskin dari pulau Belitong, yang sedari lahir sepertinya sudah ditakdirkan untuk menjadi kuli timah bilamana mereka dewasa nanti.

Sekolah Muhammadiyah reyot yang juga berfungsi sebagai kandang kambing di kala malam pun tak sanggup menghapus impian mereka untuk tetap belajar dan berprestasi. Hal ini tentu saja tak lepas dari dukungan Pak Harfan dan Bu Muslimah yang mengajar dan mendidik dengan penuh keikhlasan dan dedikasi tinggi, menyayangi setiap murid yang hanya 10 orang itu bagai anak2 mereka sendiri.

Memang tidak dapat disangkal, kekuatan utama film ini berpangkal pada jalinan cerita novel karangan Andrea Hirata. Tapi naskah adaptasi yang dikerjakan oleh Salman Aristo juga patut diacungi jempol. Salman berhasil memindahkan spirit yang ada di dalam novel ke dalam naskah film. Memang banyak cerita yang tidak dimasukkan ke dalam filmnya, tapi itu semua tak membuat filmnya terasa lompat2 atau sekedar menjadi visualisasi belaka.

Riri Riza? Ah, kepiawaiannya dalam mengarahkan anak2 yang belum pernah bermain film sudah teruji saat ia berhasil menggarap Untuk Rena. Kali ini tentu saja tingkat kesulitannya bertambah tinggi karena yang diarahkan adalah anak2 asli Pulau Belitong yang mungkin mempunyai kebiasaan dan bahasa berbeda dengan anak2 yang tinggal di Pulau Jawa. Tetapi toh pada akhirnya Riri berhasil mengarahkan mereka semua dengan baik.

Jadi apalagi? Cerita yang menarik, adaptasi yang sempurna, akting matang dari para aktor dan aktris berpengalaman, sinematografi yang menawan dan arahan sutradara yang brilian membuat film ini menjadi begitu sempurna. Sepanjang film, Riri berhasil mengaduk2 emosi penonton, tak heran pada endingnya begitu banyak air mata penonton terkuras dibuatnya. Fantastis. Bolehlah film ini menjadi tonggak untuk kesekian kalinya dalam kebangkitan film Indonesia.

So? Fuck Kompas. Fuck their snobbish review. Sudah saatnya mereka berhenti membantai film2 berkualitas karya anak bangsa. Menurut saya cerita yang dimasukkan ke dalam film tidaklah terlalu berjejal seperti yang mereka bilang. Jalinan cerita film yang berdurasi sekitar 2 jam ini cukup padat, ringkas dan mengalir dengan mulus.

Tak mungkin hanya soal pendidikan yang dimasukkan di film ini, karena film layar lebar dibuat untuk menghibur, jadi sangat tepat bila Riri juga mesukkan unsur2 komedi untuk menyegarkan penontonnya. Tengok saja kisah jenaka cinta monyet Ikal dengan A Ling yang menarik untuk diikuti dan berhasil membuat penonton tergelak.

Hiburan tambahan yang ringan memang mutlak diperlukan, asalkan tidak sampai mengurangi pesan moral yang terkandung dalam novelnya. Semangat pantang menyerah. Saat salah seorang dari Laskar Pelangi gagal meneruskan sekolah, tak hanya kesedihan yang hadir, tapi juga bisa menjadi cambuk semangat bagi Ikal untuk tetap berusaha meneruskan pendidikannya ke jenjang yang paling tinggi.

Ya, seorang anak dari desa yang miskin bisa melakukan itu. Jadi, memang tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah bukan?