Tuesday, August 12, 2008

To Kill a Mockingbird

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Harper Lee
Sebenarnya malu juga sih membahas buku ini di kolom review, masalahnya novel ini sudah terbit di tahun 1960 di negara asalnya. Hehe basi banget ya, kemarin saya baru sempat membaca novel ini. Tapi berhubung kolom review saya masih ramping karena jarang diisi, akhirnya saya memberanikan diri untuk menulis novel ini di kolom review. Buku yang memenangkan pulitzer award ini memang layak masuk kategori klasik karena ceritanya yang tak lekang dimakan jaman. Bahkan buku ini dijadikan buku bacaan wajib bagi pelajar di sejumlah negara, karena ceritanya yang sarat akan nilai2 moral.

Ceritanya sendiri terjadi saat Amerika mengalami masa2 sulit great depression. Mengambil setting di sebuah kota kecil Maycomb County, Alabama Selatan, ceritanya bersentral dari sudut pandang seorang anak perempuan yang bernama Jean Louise Finch yang akrab disapa Scout. Gadis kecil yang di awal cerita ini berusia 6 tahun memiliki ayah yang berprofesi sebagai pengacara bernama John Atticus Finch. Kakaknya, Jeremy (Jem) Finch berusia 4 tahun lebih tua dari Scout.

Mereka menjalani sebuah kehidupan sederhana di Maycomb County, sampai akhirnya masalah itu datang ketika Atticus menyetujui ketika ditunjuk menjadi pengacara bagi seorang kulit hitam, Tom Robinson, dalam sebuah kasus penganiayaan dan pemerkosaan yang dilakukan terhadap seorang gadis kulit putih. Hinaan, cercaan dan ancaman pun datang beruntun dari masyarakat terhadap keluarga Finch yang merasa bahwa keputusan Atticus itu mencoreng kehormatan kaum kulit putih.

Di bab2 awal buku ini menceritakan kehidupan kanak2 Scout, Jem, dan Dill yang penuh canda tawa. Cukup menarik juga menyimak cerita2 ketika mereka bersekolah maupun saat bermain di sekitar lingkungan rumah mereka. Interaksi mereka dengan para tetangga juga sering dibahas sebelum ceritanya masuk ke dalam topik rasial yang lebih serius. Cerita subplotnya yang banyak mengajarkan kita agar lebih memahami, menghargai dan bertoleransi terhadap orang lain bolehlah dianggap sebagai bonus yang mengasyikkan dan mencerahkan.

Ya, memang cerita menjadi agak berat ketika masuk pada masalah rasial. Scout yang awalnya bingung ketika banyak hinaan yang ditujukan kepada keluarga mereka hanya karena mereka menganggap bahwa orang kulit hitam itu setara dengan kulit putih, akhirnya menyadari bahwa kebenaran tidaklah selalu menjadi pujaan di negeri yang abu2. Tidak ada batas yang jelas antara hitam dan putih. Di akhir cerita, Scout menyadari bahwa dalam menilai seseorang secara adil kita harus melihat sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kita menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.

Okelah, jika saya menjelma menjadi seorang afro-amerika dan membaca buku ini, saya pasti akan merasa sakit hati. Dalam menulis bukunya Harper Lee terasa masih merendahkan kaum kulit hitam. Memang benar, keluarga Finch sangat menjunjung tinggi kesetaraan ras. Tapi lihat betapa banyak kata2 “nigger” yang diucapkan di sini, baik oleh masyarakat maupun keluarga Finch. Selain itu di dalam cerita, kulit hitam banyak digambarkan sebagai orang yang kurang berada dan kurang berpendidikan. Stereotip orang kulit hitam kesannya seperti Calpurnia, juru masak yang bekerja sebagai pembantu (juru masak) keluarga Finch.

Tetapi di luar kekurangan itu, buku ini memang menawarkan banyak pesan moral yang positif tentang keseteraan ras. Untuk ukuran novel yang diterbitkan di tahun 1960, yah isunya sudah cukup menyentillah, apalagi di tahun tersebut, isu ras memang masih menjadi sesuatu yang lumayan sensitif. Terlepas dari temanya yang cukup berat, buku ini ternyata sangat menarik untuk dibaca. Bab demi bab terlalui tanpa terasa. Keputusan untuk mengambil sudut pandang cerita dari Scout ternyata merupakan formula yang tepat sehingga membuat ceritanya tidak terlalu berat, selain itu pembaca juga jadi tidak terlalu merasa digurui.

Manusia memang berasal dari akar yang sama, sejatinya tidak ada yang boleh merasa lebih tinggi. Toh di hadapan Sang Pencipta, hanya akhlak yang membedakan derajat kita semua.

Friday, August 8, 2008

Makin Gendut Makin Sexy

Wah, kemarin di ruangan dibagikan USB flash disk lagi. Setelah saya lihat… WHAT? Kapasitas penyimpanannya 4 Giga Byte, wow. Padahal flash disk yang biasa dibagikan di kantor kami adalah flash disk yang memiliki storage yang sudah mainstream. Berarti 4 GB sudah menjadi ukuran yang “biasa” hari ini.

 

Padahal dulu saya masih ingat, di tahun 2005, kapasitas flash disk yang umum adalah 128 Mega Byte. Jadi kalau saya memiliki flash disk berkapasitas 256 atau 512 MB, itu sudah di atas rata2 hehehe… Makanya agak kaget juga ketika kemarin saya menerima yang 4 GB, wuh perkembangan dunia IT memang sangat pesat. Oia, yang gendut di sini adalah kapasitas penyimpanannya, kalau secara fisik sih flashdisk tersebut ukurannya ya segitu2 saja, kecil dan imut, pas di kantong, ringan dijinjing.

 

Yang sulit terpikirkan oleh saya adalah, mau diisi apa 4 GB itu? Yang 512 saja sulit penuhnya. File2 kerja saya kebanyakan dalam bentuk Excel paling hanya menghabiskan beberapa Mega Byte saja. Alhasil flash disk itu kebanyakan berisi lagu2 Mp3 favorit saya. Kemarin ketika berkunjung ke divisi 1 dengan berbekal Flash Disk 512 MB, memorinya memang langsung full, tetapi bukan oleh file pekerjaan, tetapi film Nagabonar 1 yang berformat .avi hehehe…

 

Jadi membayangkan bagaimana perkembangan si gendut yang sexy ini beberapa tahun ke depan, jangan2 nanti kapasitasnya meroket menjadi 120 GB hahaha ngimpi kali yeee…. Pasti bakalan tambah bingung mau diisi apa, tidak hanya lagu2 format MP3, tetapi film2 dengan format sekualitas DVD juga muat dimasukkan ke dalamnya. Wuih.

 

Oke, Mahesa, punya koleksi e-book atau film2 yang OK? Kalau ada dan nanti saya berkunjung ke divisi 1 lagi, minta ya… 4 GB nih…!!!

Dua Iklan Telkom di Televisi

Tadi malam saya berniat menyaksikan film Otomatis Romantis yang akan diputar di RCTI. Tapi karena masih lama, iseng2 saya browsing2 remote dulu ke beberapa TV swasta nasional. Wah ternyata sudah banyak iklan baru. Yang mau bahas di sini adalah iklan Telkom. Kenapa? Karena ada 2 iklan yang sangat bertolak belakang yang ditampilkan di stasiun TV.

 

Yang pertama Telkom Flexi, yang ini lucu banget, kartun hitam putih ala karikatur seorang gadis, badannya dibuat kecil, kepalanya gigantis tetapi cute. Walaupun penampakannya imut, ternyata suaranya bak dinosaurus, meneriakkan keunggulan yang dimiliki Telkom Flexi, tak jauh2 sih, soal tarif murah yang mereka tawarkan. Tapi animasinya memang cute banget. Tak lupa pada akhirnya dibuatkan logo Flexi yang juga dibuat hitam putih & animated ala skesta kartun. BAGUS

 

Yang kedua, Telkom telepon rumah atau yang dalam bahasa telekomunikasi sering disebut PSTN. Iklannya bercerita tentang bapak-ibu pasangan suami istri berusia sekitar 50 tahunan. Sang suami dari gedung perkantoran berusaha menelpon istrinya dengan menggunakan ponsel, tetapi mengalami kesulitan karena suaranya putus2 akibat sinyal yang buruk. Iklan yang rada garing ini ditutup dengan sebuah kesimpulan: lebih baik menggunakan telepon rumah daripada ponsel. Lalu logo Telkom pun muncul lengkap dengan embel2 Committed 2 U. BIASA SAJA

 

Saya sempat tersenyum getir campur sinis menyaksikan iklan yang kedua. Langsung saya tanya Dee, berapa tagihan telepon rumah? Hmm, 90ribu jawabnya. Hahaha meledaklah tawa saya. Kenapa? Iya, karena itu sudah termasuk dengan biaya abodemen yang cukup mahal, entah berapa sekarang. Padahal, dulu sebelum jamannya tarif ponsel murah, tagihan telepon di rumah bisa mencapai 300rb/bulan. Mertua saya memang sering menelepon kakak ipar yang sekarang ikut suaminya yang dinas di pulau Lombok. Tapi itu dulu, sekarang nelpon anak dan cucu di Lombok menggunakan ponsel, paling banter cuma menghabiskan 2000 rupiah saja. Terima kasih banyak kami ucapkan untuk perang tarif yang dilakukan semua provider ponsel.

 

Dahulu, telepon rumah berjaya karena monopoli, praktis tak punya saingan. Mau pasang sambungan baru saja susahnya minta ampun. Sekarang malah mereka sudah tidak menerima pemasangan baru untuk perumahan (cmiiw). Kalau ada yang ingin apply pasti langsung dirujuk ke Telkom Flexi saja. Makanya lucu kalau melihat iklan yang kedua tersebut, hah pasti divisi telepon rumah Telkom sekarang sedang kebat kebit sampai harus membuat iklan garing itu. Pendapatannya mungkin mulai menipis karena jatah kuenya perlahan tetapi pasti diambil oleh provider ponsel yang kini juga mulai menjamur.

Maka terciptalah iklan putus asa itu.

 

Hehe memangnya sekarang masih ada orang yang pacaran menggunakan telepon rumah PSTN, alih2 memanfaatkan ponsel dengan tarif super hemat?

 

PS: Oia, film Otomatis Romantisnya malah tidak ditonton sampai habis, keburu ngantuk dan ceritanya juga mulai garing karena terasa terlalu dipaksakan.

Thursday, August 7, 2008

Pixar dan 21

Kenapa ya, kok akhir2 ini bioskop 21 terlambat dalam memutar film2nya Pixar Disney. Sampai saat ini Wall-E belum juga diputar, padahal film ini sudah rilis di negara asalnya pada bulan Juni 2008. Wall-E bukanlah film Pixar pertama yang terlambat dirilis di Indonesia, sebelumnya Rattatouille juga sangat terlambat diputar di bioskop2 Indonesia.

 

Padahal kalau dilihat dari potensi jumlah penonton, film2 Pixar pasti akan mencetak box office di Indonesia walaupun mungkin tidak semeledak franchise Harry Potter. Karena film animasi pixar adalah film keluarga yang memiliki kualitas di atas rata2. Karakternya kuat, tokoh2nya juga loveable sehingga disukai anak. Penonton dewasa juga tidak akan menyesal mengantarkan anak2 mereka menonton film Pixar, karena dimanjakan oleh cerita yang juga berkualitas. Bahkan sangat mungkin justru malah ortulah yang mengajak anak2 mereka ramai2 pergi ke bioskop hehe

 

Entahlah kenapa hal ini bisa terjadi, tapi yang jelas kemarin seorang teman memberitahu saya kalau Wall-E baru akan dirilis di sini tanggal 14 Agustus 2008. Waduh padahal kalau tidak ada perubahan jadwal, Clone Wars juga akan dirilis 15 Agustus 2008. Hmm, bulan September sudah memasuki bulan puasa, Agustus memang bulan yang baik untuk dilewatkan dengan menyaksikan kedua film ini. Duh, masa kami harus membuat rencana gila2an lagi sih?

 

Walah, DVD bajakannya sudah beredar banyak sekali di mana2 nih. Mudah2an hypenya belum turun drastis ketika Wall-E dirilis di sini besok.

Wednesday, August 6, 2008

Lagu Jadul Ada di Kasur

Beberapa hari belakangan, saya dan Dee punya kebiasaan yang tidak biasa. Awalnya mungkin karena postingan saya yang dulu. Kebiasaan ini dilakukan saat mata mulai 5 watt menahan kantuk menjelang tidur di malam hari. Kebiasaan itu adalah….

 

Nanyi lagu jadul, baik lagu lokal maupun lagu londo.

 

Hyahahahar…. Lagi2 pikiran kembali dibawa mudik menuju negeri antah berantah yang bernama masa lalu. jadi Kangen… Stop, itu lagu dewa19 jadul jaman kami smp ayo coba nyanyikan. Lalu kami pun menyanyikan lagu tersebut. Lagu tahun 80an yang norak2 pun jadi korban kekurangkerjaan kami berdua. Mulai dari lagunya Debbie Gibson, Jasaon Donovan sampai New Kids on The Block tak luput dari suara cempreng kami.

 

Masih ingat lagu Touch Me Touch Me yang pernah menduduki peringkat Number One di Prambors Top 40? Atau lagunya Queen sepeninggal Freddie Mercury? I want it all… yeeei yeah. Lagu itu menjadi sangat fenomenal karena dari status New Entry tapi langsung menerobos menjadi Number One di chart, fiuuhhh… semuanya menjadi proyek keisengan kami di malam hari.

 

Lalu saya diminta mengingat lagu favorit Dee yang dia sendiri malah lupa. Peras otak, konsentrasi, lalu bersenandung:

 

I wonder how, I wonder why

Yesterday you told me about the blue blue sky

And all that I can see…

Just a yellow Lemon Tree

 

Tak pelak kecupan pun berlabuh sebagai hadiah dari Dee untuk Sky yang pandai mengingat lagu lawas milik Fool’s Garden ini hahaha…

 

Saya jadi teringat koleksi kaset saya yang sekarang cuma nangkring di meja belajar. Seandainya saja bisa saya transfer ke format MP3, pasti bakalan seru, bisa mengenang hari-hari yang telah lalu ditemani alunan tembang nostalgia dari Moonpools & the Caterpillars, The Cranberries, Pure Saturday, Mocca, Smashing Pumpkins, Live, dll.

 

Jadi, kapan nih kita mau karaokean di NAV? Masak cuma di kasur?

 

Sepanjang Jalan Kenangan

Sial…. Ditinggal orang2 ke bandung, okelah, always look at the bright side, minimal sekarang saya bisa konsentrasi menulis postingan ini hahaha…

 

Baru2 ini saya nekat merubah rute perjalanan pagi saya, yang tadinya menuju ke Bekasi Barat, sekarang menuju Jakarta Timur, atau lebih tepatnya ke arah Halim. Bus jemputan masih sama, hanya saja yang di Jakarta itu adalah start awalnya, sedangkan yang di Bekasi adalah tempat pemberhentian yang ketiga. Awalnya saya memilih Bekasi Barat karena alasan kelancaran lalu lintas, tapi lama2 merasa lelah juga dengan perjalanan yang cukup jauh itu. Ternyata menuju ke arah Jakarta belumlah terlalu macet jika jadwal keberangkatannya very early in the morning seperti yang biasa saya lakukan, tidak sampai 30 menit sudah sampai di pool jemputan.

 

Rute saya yang baru ini adalah rute yang agak sentimentil buat saya. Karena rute ini pulalah yang selalu saya tempuh 20 sampai belasan tahun yang lalu. Menjadi lebih sentimentil lagi karena gedung itu berdiri persis di pinggir jalan besar, yang kini selalu saya tatap dengan senyum di hati. Ahhh rute perjalanan ini, kok lagi2 malah membuat saya ingin kembali lagi ke masa lalu, andai mesin waktu itu ada. Di gedung itulah saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di dunia pendidikan. Kecil, rapuh, percaya diri yang rendah, berusaha untuk menyesuaikan diri di lingkungan baru di mana egosentris bayi harus dibuang jauh2 ke laut.

 

Di TK itu pula saya pernah menangis, bukan karena perkelahian, tapi karena ditinggal jemputan, dan dengan baik hatinnya seorang guru mengantarkan saya pulang dengan mikrolet. Kemudian tahun bergeser, tidak jauh2 (suangat dekat malah), saya pindah ke gedung sebelah. Yup, TK dan SD ini memang masih satu atap, maksudnya bukan berbagi gedung, tetapi memang sama2 milik yayasan sebuah departemen tempat ortu saya bekerja. Saya beruntung bisa sekolah di situ, karena saya merasa di SD inilah yang teman2nya paling kompak.

 

Dulu waktu di SD kami tidak mengenal istilah gank, semua kompak bermain bersama. Pernah sehabis class meeting kami (hampir semua anak cowok) jalan2 ke Gramedia Matraman, untuk sekedar menumpang baca buku anak2 hahaha… Dalam sekejap gramedia yang dahulu belum seluas sekarang, dipadati oleh anak2 unyil berseragam putih merah. Di lain waktu, pernah kami segerombolan main ke rumah anak yang paling pintar di kelas. Bayangkan, bahkan anak yang paling jenius saja mau bergabung untuk bermain bersama.

 

Yang baru kepikiran sekarang sih, bagaimana yah perasaan ortu anak itu kedatangan tamu gerombolan siberat. Pasti pusing banget tuh hahaha… Tapi tidak, sang ibu tetap menyambut dengan senyum, malah saking baiknya, kami semua ditraktir makan bakso yang lewat di depan rumah. Yah walaupun kami berusaha untuk tidak menimbulkan kekacauan di rumahnya, tetap saja yang namanya anak2 pasti berisik dan bikin puising hehe

 

Ada lagi kenakalan yang saya ingat, sebuah tindakan kriminal yang terorganisir. Kami ke rumah si C untuk mengambil video bokep milik ortunya. Lalu ramai2 ke rumah si E untuk menonton. Kenapa? Karena di rumah E tidak ada orang hahaha… Mulai dari anak yang pandai sampai yang paling nakal pun ikut bergabung. Tiak ada batasan, tidak ada paksaan. Jadi di rumah E ada anak2 yang nonton video, ada yang bermain PC games, dan ada juga yang bermain bola di halaman. Kompak banget kan?

 

Yah, sepanjang jalan kenangan ini sekejap membawa saya kembali. Kembali kepada kenangan indah yang selalu terukir rapi di dalam benak saya. Kenangan kecil semasa SD, ada yang lucu, ada pula yang menyebalkan. Tapi tidak, saya takkan pernah melupakannya. Karena semuanya ditutup dengan sebuah kenangan yang indah. I’’ll never forget you guys…!!! I’ll always remember… Tapi sekarang semua teman saya sibuk dengan kegiatannya masing2. Rata2 semuanya sudah sukses yah sekarang, ada yang kerja di BUMN ternama, Kantor Akuntan franchise Amerika terkenal, perusahaan multinasional kenamaan, dll.

 

Sepanjang Jalan Kenangan, muridnya banyak yang telah sukses sekarang, tapi gedung itu sampai kini masih tetap berdiri di situ. Kalaupun ada perubahan paling hanya kelasnya yang bertambah banyak karena bangunannya menjadi bertingkat.

 

Sepanjang Jalan Kenangan, biarlah saya tersenyum, sambil berucap: terima kasih sekolahku tercinta.

 

Kerja kan membawaku, kembali di sini, menuai rindu…

 

Mau Keluar Kok Ditahan?

Ini mungkin pernah, atau bahkan sering dialami oleh sebagian orang. Mungkin bukan sebagian orang, tetapi lebih tepatnya setiap orang. Atau mungkin anda terlalu cuek untuk tidak pernah mengalaminya? Anda mungkin bertanya2, apa sih sebenarnya yang berusaha saya ceritakan di blog ini? Saya sendiri sebenarnya agak bingung bagaimana caranya untuk mengungkapkan hal ini.

 

Okelah, sebenarnya yang saya bahas ini adalah *uhuk-uhuk*… [clear throat]… KENTUT. Tuh kan ancur banget hehehe… Ngga tau kenapa saya ingin membahas hal ini, mungkin lagi kehabisan ide makanya ide yang sebenarnya tabu ini akhirnya saya bahas juga. Ingin posting dari dulu tentang hal ini, tapi baru sempat kepikiran lagi sekarang. Liat saja di media cetak yang terkenal, biasanya mereka minta maaf dulu sebelum menulis kata “kentut”. Memangnya segitu rendahnya kah aktivitas metabolisme yang satu ini? Sampai begitu tabunya perbuatan ini dalam pandangan masyarakat.

 

Padahal kalu dipikir, kentut ini adalah salah satu anugerah Tuhan yang paling indah lho. Coba saja kalau anda tidak bisa kentut, seminggu saja, pasti rasanya akan tidak karuan, dan paling banter anda akan dilarikan ke RS. Masalah timbul ketika suhu di ruangan kerja 20oC, lalu tiba2 anda ingin kentut, duh…!!! Beranikah anda mengeluarkan gas di depan rekan2 kerja anda? Kalau saya, terus terang tidak berani. Malunya itu loh…

 

Sepupu saya pernah bilang, kalau cewek sih memang suka malu2, tapi kalau cowok sih cuek aja. Tapi tetap saja, saya belum PD kentut di depan orang banyal. Kalau tidak berbunyi sih tak masalah, paling baunya saja yang menyebar di seantero ruangan. Tapi siapa yang bisa jamin kalau kentut kita sudah diset ke silent / vibrate only? Pernah saya mencoba untuk ke toilet demi melepas gas ajaib ini, tapi sesampainya di sana, rasa ingin kentut itu tiba2 hilang dan baru muncul lagi setelah saya kembali ke ruang kerja. Aaaarrrrggghhh…

 

Lalu apa akibatnya kalau kita menahan kentut? Jika terlalu lama pasti perut kembung, karena anginnya berputar di situ2 saja, makin lama makin bertambah banyak pula. Wah rasanya memang ngga karuan deh kalau kita tidak mensyukuri nikmat Tuhan dengan menahan kentut ini hahaha…

 

Kadang saya suka mengkhayal… Ah, seandainya kentut itu seperti bersendawa pasti dilema ini takkan pernah terjadi. Kita takkan perlu merasa malu, karena bersendawa bisa diatur volumenya, mulai dari sangat keras sampai tidak berbunyi. Kadang saya juga berkhayal menjadi Evie Garland di serial lawas Out of this World, ah enaknya, kalau ingin kentut tinggal menempelkan kedua jari jari telunjuk untuk sesaat menghentikan putaran waktu, lalu setelah selesai tinggal menempelkan kedua telapak tangan untuk kembali menjalankan waktu.

 

Hahaha sampai segitunya ya? Nah, apakah anda sudah berani kentut di depan umum?