Friday, September 12, 2008

Yang Muda Yang Diremehkan

Apa-apan ini, kok mereka mengirimkan anak PKL (SMA) ke kantor kita?

 

Begitu kira2 perkataan (atau setidaknya pemikiran) seorang pejabat tinggi di kantor kami tatkala kedatangan tamu dari BAPPENAS untuk meminta data.

 

Lalu setelah mereka berdiskusi, barulah pak pejabat menyadari siapa sebenarnya kedua wanita yang terlihat muda belia itu. Mereka cerdas, menguasai permasalahan dan tentu saja berpendidikan tinggi.

 

Duh makanya pak, jangan hanya melihat dari tampilan luarnya saja. Dahulu juga pernah ada orang Bappenas bertamu ke sini meminta data, masih muda, tapi siapa sangka kalau beliau sedang menyelesaikan program S3nya?

 

Hehe jadi ingat iklan rokok itu… Tanya Ken…apa?

 

Well, Selamat berakhir pekan guys…!!! Have a nice weekend..

Thursday, September 11, 2008

Kejadian Aneh di Tempat Kerja.

Hehehe bukan, ini tidak ada hubungannya dengan “penampakan”. Walaupun memang ada juga kejadian seputar hantu, kuntilanak dan kawan2nya di tempat kerja saya. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini. Okelah langsung saja…

 

Kejadian I: The Fewer is the Faster?

 

Ketika diadakan re-organisasi tempo lalu di perusahaan kami, personil bagian perbendaharaan atau lebih tepatnya sub bagian kas perusahaan berkurang 1 orang. Yang tadinya ada 4 orang, kini hanya ada 3 orang. Tapi anehnya pekerjaan mereka menjadi lebih cepat selesai. Tidak, tidak ada sistem atau software baru di sana, semua sama, yang berbeda hanya jumlah personilnya yang berkurang dan tentu saja pembagian tugas yang pastinya juga ada pergeseran. Anomali? Ya, tetapi hal ini tentu saja menguntungkan dan memperlancar pekerjaaan kami yang bertugas di bagian akuntansi.

Kejadiaan II: Show us your statement, so we can pay our debt..!

 

Ada suatu perusahaan, sebuta saja PT S, debitur dari perusahaan kami. Sudah cukup lama juga perusahaan yang bergerak di bidang pembenihan padi itu menunggak pembayaran tagihan kepada perusahaan kami. Nah, akhirnya PT S berkomitmen untuk melunasi hutang2/tagihan tahun 2007 terlebih dahulu, besarnya sekitar 1 miliar, dalam waktu dekat. Tapi dengan 1 syarat (nah belum2 sudah aneh khan? Mau bayar hutang saja kok pakai syarat segala), mereka meminta kami mengirimkan laporan keuangan audit tahun 2007 sebelum mereka melunasi hutang2nya. What??? PT P yang tagihannya bisa mencapai belasan miliar saja selalu rutin membayar tanpa meminta ini-itu segala.

Nah kalo ini namanya anomali yang merepotkan hehehe mau tak mau saya harus menjelaskan ikhwal perbedaan jumlah piutang usaha yang ada di daftar piutang laporan audit dengan jumlah piutang yang ada di laporan Bagian Usaha selaku penagih piutang. Ya perbedaan jumlah piutang memang senantiasa terjadi, ada cut off, deposit on transit, dll yang menjadi penyebabnya.

 

Fiuh, 2 kejadian anomali, yang 1 menguntungkan, yang 1nya lagi merepotkan. Balanced deh, kalau kata orang akuntansi hehe.

Tuesday, September 9, 2008

Puasa dan (Oh not again) Flu (Hiks)

Halo semuanya? Bagaimana kabar puasa kalian?

Saya doakan semua lancar2 saja ya.

 

Jangan seperti saya, duh tidak, lagi2 terkena flu. Memang dari kemarin di ruangan ada 2 orang yang kena flu. Eh, sekarang jadi 3 deh sama saya hahaha… Paling males kalau terkena flu di bulan puasa, hidung pilek dan mampet, tenggorokan juga rasanya tidak nyaman. Kalau sedang tidak puasa sih masih bisa ngemut permen tolak angin yang bisa membantu menyamankan tenggorokan itu, tapi berhubung sedang puasa, ya sudah, gigit jari saja hehehe…

 

Tapi untungnya sih (dasar orang Jawa, teuteup), di rumah kemarin mertua saya beli Madu. Ya sudah, untuk menambah stamina dan memperkuat kekebalan tubuh, sudah beberapa hari ini tiap habis sahur dan berbuka puasa, saya minum sesendok madu yang manis lezat tersebut. Hihi maaf ya Dee, madunya bakalan cepat habis. “Dasar menantu edyaan, kerjanya cuma ngabisin yang enak2 punya mertuanya”, timpal Dee. Hihihi…

 

Untung menambah dopping, saya juga telah memesan habatussauda kepada ortu. Dan senangnya, ternyata pesanan saya sudah tersedia hihihi dasar anak kurang ajyar, bisanya ngerepotin orang tua. Mudah2an akhir pekan ini kami bisa berkunjung untuk mengambil jintan hitam itu.

 

Halah Sky, sky… Dopping kok banyak banget sih, hati2 nanti OD loh, Over Dopping hihi…

 

Ya semoga semuanya lancar2 saja, mudah2an flu saya tidak bereformasi menjadi flu berat (God, please NO). Berikanlah saya nikmat sehat-Mu untuk menjalankan ibadah puasa, Ya Allah…

 

Amin.

Dee dan Game Boy

Kemarin Dee menemukan mainan baru (sebenarnya lama juga sih hehehe), yaitu Game Boy. Awalnya, Dee senang memainkan puzzle bobble yang ada di HP saya, hanya saja karena HP saya sudah jadul jadi baterainya cepat habis, alhasil anak itu sering saya larang maen2 game di HP saya hehehe maaf ya Dee, soalnya repot juga kalau lagi butuh menelpon tau2 batrenya habis. Akhirnya saya bongkar gudang, nah daripada dia manyun, saya pinjami saja handheld game keluaran Nintendo itu.

 

Duh, game2 yang agak modern ternyata Dee tak suka. Untung saja saya punya cartridge yang isinya game2 klasik. Dulu niatnya beli itu karena ingin bernostalgia saja dengan game2 NES lawas macamnya Super Mario Bross, Tennis, Donkey Kong, Pacman, dll. Singkat cerita Dee bermain Pacman, tapi karena mati terus (haduh Dee) akhirnya saya berusaha mencarikan game yang lain.

 

Lalu iseng2 saya coba pilih game yang agak aneh, judulnya Wahren 18, kenapa aneh? Karena text dan judulnya menggunakan bahasa Rusia, tipenya puzzle solving game. Sepertinya sih terlihat mudah, “Gampiiiillll…” sahut Dee. Tapi setelah mencoba, baru deh terasa sulitnya hehehe ternyata ini adalah game yang cukup menantang, dan mengasyikkan tentunya. Tak terasa, bermain dari pukul 1 siang sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 4 sore hihihi…

 

Ayo siap2, katanya mau buka puasa di Obonk Steak?

 

Fiuh kalau sedang asyik bermain game, waktu memang menjadi tak terasa, tahu2 sudah mendekati waktu berbuka hehehe dasar Sky, bukannya membaca Al-Qur’an kok malah main game. Jangan ditiru yaaaa…

 

Friday, September 5, 2008

Terbit Liurku Melihat Kolak (Pisang)

Entah kenapa, tiba2 beberapa hari ini saya kangen dengan kolak pisang yang dijual oleh abang2 yang biasa lewat di depan rumah ortu saya. Pada saat saya begitu ingin makan kolak, eh ternyata kemarin kami berbuka dengan kolak biji salak, wah nikmat juga rasanya, cukup mengobati kerinduan saya terhadap kolak pisang (halah). Mengobati, ya, tapi sepertinya tetap belum sepenuhnya menyembuhkan. Maaf ya Dee, dengan tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk mengurangi rasa syukur saya terhadap panganan lezat yang tersaji kemarin.

 

Saya hanya kangen, itu saja, kangen dengan kolak pisang yang sangat lezat itu. Pisanganya sangat lembut dan manis, kuahnya tidak terlalu manis, pas lah dengan selera saya. Topping tambahannya bisa terdiri dari kolang kaling, buah nangka, ubi ataupun biji salak yang terbuat dari ubi. Dicampur jadi satu, ah nikmat sekali sensasi kelezatannya, apalagi jika disantap di saat berbuka puasa.

 

Saya salut dengan penjualnya. Sejatinya dia bukan penjual kolak. Sehari2 dia menghidupi keluarganya dengan berjualan ketupat sayur jawa di pagi hari. Ya, kupat sayurnya imo adalah salah satu kupat sayur terlezat yang pernah saya cicipi. Rasanya agak manis, tetapi bagi yang suka pedas, disediakan juga sambal maknyus yang lumayan bikin saya megap2 karena pedasnya.

 

Nah jika masuk bulan puasa, si abang berhenti berjualan kupat sayur, sebagai gantinya dia pun berjualan kolak. Kagum saya dibuatnya, asap dapur tetap bisa ngebul tanpa mengurangi kaborakahan dalam mencari rejeki. Kreatifitas, dan tentu saja bakat memaasak sang istri turut mengambil peranan penting dalam hal ini.

 

Ah, semoga saja nanti saya masih berkesempatan untuk mencicipi kolak pisang yang lezat itu.

 

Kolak kolak kolak kolak kolak… Diguyur diguyur diguyur yur……

 

Ah ya, lagi puasa begini enaknya menyantap kolak pisang sambil menunggu waktu berbuka hihihi…

Thursday, September 4, 2008

? Digital Music Store ? Yes or No?

Miris rasanya membaca sebuah artikel di harian kompas hari Minggu kemarin. Di situ tertulis kalau grup band Naif baru saja membagi2kan secara gratis album mereka yang terbaru dan mempersilahkan siapa saja untuk membajaknya. Itu adalah wujud dari protes dan keputusasaan mereka menghadapi tindak pembajakan yang kian menggila terjadi di negeri kita.

 

Lain lagi dengan The Upstairs dan Koil, band inidie ini memang sudah memutuskan untuk menggratiskan album mereka mulai saat ini. Lalu dari mana mereka dapat uang? Mereka hanya berharap dari honor konser dan royalti penjualan merchandise dan pernak-pernik lain yang berhubungan dengan band mereka. Lagu2 yanhg tercipta hanyalah sekedar media promosi untuk lini produk mereka yang lain.

 

Untuk band kecil yang terbiasa dengan biaya yang kecil (dan tentu saja pendapatan yang juga tak terlalu besar) mungkin hal ini tidak terlalu bermasalah. Tapi bagi band besar yang sudah terbiasa hidup dengan biaya produksi yang tinggi, tentu saja berat untuk menggratiskan album2 mereka. Lalu bagaimana ya? Rasanya semua jadi serba salah. Kasihan juga sih kalau melihat para pemusik lokal yang bertalenta tinggi akhirnya harus menyerah pada hancurnya industri musik yang diterpa badai pembajakan.

 

Saya sendiri punya mimpi, di suatu saat nanti di negeri ini akan muncul yang namanya Digital Music Store. Jadi kalau kita ke mall, kita bisa membeli file mp3 atau aac musik2 dari artis lokal. Ya hanya filenya, terserah akan di download langsung ke flashdisk, ponsel ataupun mp3 player (non iPod) milik kita. Jadi diharapkan hal ini akan memangkas biaya produksi album mereka, tidak perlu cost lagi untuk produksi CD/kaset dan biaya percetakan.

 

Bisa tidak ya? Untuk menghemat biaya, para pemusik putus hubungan dengan major label mereka, kerjasama hanya dilakukan antara 2 pihak yaitu pemusik dan toko musik digital tersebut. Tentu saja bagi hasilnya bisa mereka bagi 50:50. Kalau 1 lagunya dihargai Rp 2.000, berarti 1 album harganya bisa menjadi Rp 20.000. Kalau membeli single/mix, tentu saja tidak masalah, hanya saja harganya menjadi per-lagu, dan tentu saja harus sedikit lebih mahal daripada membeli paket 1 album. Jadi jika albumnya terjual 1 juta kopi, pemusik bisa menikmati penghasilan kotor sebesar 10 miliar.

 

Jadi dengan harga lebih murah, konsumen sudah bisa mendapatkan kualitas suara yang aduhai beningnya, daripada membeli kaset yang walaupun original, tetap saja kualitasnya masih di bawah mp3. Selain itu karena formatnya digital, paket album juga bisa disertai dengan file2 lain yang berupa foto artis, lirik lagu, maupun iklan2 dari para sponsor yang bisa diakses melalui PC tanpa harus menambah biaya produksi lagi.

 

Tentu saja sistem seperti ini memiliki kelebihan dan kekurangannya. Salah satu kekurangannya adalah kerepotan di awal penerapan sistem. Karena sifatnya digital, sebenarnya barang yang diperjualbelikan juga tak berwujud. Jadi harus dibuat software khusus untuk melakukan transaksi agar tidak terjadi penyalahgunaan. Kekurangan yang lain adalah sistem ini hanya membuat harga produk menjadi lebih terjangkau, tapi tidak menjamin dapat 100% mengatasi masalah pembajakan. Hanya saja dengan harga yang terjangkau, diharapkan masyarakat tidak lagi tergiur untuk membeli produk bajakan. Saya sendiri tidak keberatan mengeluarkan Rp 20.000 untuk sebuah album musik yang legal, no more piracy for our local product.

 

Kelebihannya? Tentu saja band2 indie/kecil tak akan kesulitan lagi menembus pasar musik di Indonesia. Album mereka dengan mudahnya beredar di toko2 musik terkemuka tanpa harus memikirkan biaya produksi kaset dan CD. Jadi, yang terpenting ,tak perlu khawatir jika albumnya tidak laku terjual. Hmm… Saya takkan lagi kesulitan untuk membeli lagu2 Mocca dan Pure Saturday kesukaan saya hehehe

 

Well, apapun yang terjadi, itu semua hanyalah mimpi saya. Jadi jangan menertawakan saya ya hehehe… Bagaimana dengan anda? Apakah anda mempunyai solusi lain untuk menyelamatkan industri musik di Indonesia?

Monday, September 1, 2008

Secuil Kebahagiaan Menjelang Ramadhan

Ahhh… rasanya lega sekali setelah beban itu terlepas, akhirnya saya pun bisa bernafas kembali. Rasanya mirip ketika selesai menghadapi sidang skripsi, lega sekali, sejuk bagaikan ada udara pegunungan bersih yang mengisi rongga paru2. Saya tersenyum, Dee tersenyum, semua bahagia.

 

Senang sekali rasanya, sekali lagi saya bisa merasakan indahnya hidup setelah menjalani hari2, bahkan bulan2 yang sangat berat secara finansial. Kalau diibaratkan, mungkin seperti kalau saya harus membeli sebuah laptop dual-core branded setiap bulannya, dalam waktu 6 bulan berturut2. Sesak sekali rasanya dihimpit kewajiban itu, untungnya 6 bulan yang berat kini telah berhasil saya, atau tepatnya kami lewati.

 

Setiap kehidupan pasti ada ujiannya, sekali lagi saya telah melewati ujian itu, entah berapa kali lagi saya harus menghadapi ujian berikutnya. Saya sadar, setiap ujian adalah merupakan jalan panjang menuju proses pendewasaan diri. Mungkin rasnya tidak enak harus mengikuti ujian, tetapi yang namanya manusia takkan merasa hidup tanpa menghadapi tantangan.

 

Tak heran manusia dengan sadar berkali2 sengaja mengambil tantangan berikutnya tanpa pernah merasa menyesal, karena ketika tantangan menjadi kebutuhan, semuanya menjadi nikmat. Serupa candu, manusia merasakan kesenangan dalam menjalani tantangan yang ditawarkan kehidupan. Senang menghadapi tantangan, bahagia saat berhasil mengatasi setiap tantangan yang menghadang. Bagai memetik dan mencicipi buah manis yang ditanam dengan usaha dan keringat sendiri.

 

Hm, kira2, apa ya tantangan berikutnya? Apakah saya siap menghadapinya? Hidup memang berat, tapi harus dijalani. Semoga dapat beroleh kebahagiaan di akhir… Semoga... Seperti secuil kebahagiaan yang akhirnya kami raih sehari sebelum masuknya bulan suci Ramadhan. Dan tak lupa, saya ingin mengucapkan:

 

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa… Mohon Maaf Lahir dan Batin.