Monday, November 17, 2008

PHD

Di dekat rumah kami, di areal ruko daerah bekasi, belum lama ini dibuka sebuah gerai Pizza, namanya PHD. Gerai ini tidak menerima dine in, hanya delivery dan take away saja. Entah apa kepanjangan PHD ini, apakah Pizza Hut Delivery atau Pizza Hot Delivery. Yang jelas PHD ini memang masih satu atap dengan restoran Pizza nomer satu di Indonesia, Pizza Hut.

Tapi nama menu dan toppingnya memang agak berbeda dengan Pizza Hut. Begitupun dengan harganya, jauh lebih murah dari Pizza Hut. Tapi uniknya PHD juga menawarkan ukuran yang berbeda pula, tidak ada personal pan (4 potong) maupun medium size (6 potong). Yang ada hanyalah regular size (8 potong) = large size milik Pizza Hut. Dan satu lagi yaitu ukuran jumbo yang berisi 10 potong pizza dengan diameter 14 inchi. Wow….

 

Yang saya suka dari PHD ini adalah ketebalan rotinya yang lebih tipis daripada Pizza Hut. Entah kenapa, saya malah tidak suka dengan adonan roti Pizza Hut yang tebal itu, cuma bikin kenyang tidak karuan. Nah dengan hadirnya PHD yang memiliki adonan roti yang tipis, sekarang ada alternatif lain untuk Izzy Pizza yang harganya teramat mahal itu (walaupun rasanya juga teramat enak sih hehehe).

 

Kelebihan lain PHD, selain harganya yang cukup ekonomis, rasanya yang lumayan, dan adonan roti yang tipis adalah… Pelayanannya yang cepat. Mereka bahkan menjanjikan pizza gratis untuk pesanan yang terlambat datang atau tidak sesuai dengan waktu yang mereka janjikan. Selama ini memang mereka belum pernah melakukan wan prestasi hehehe sampai akhirnya kemarin, Pizza yang saya pesan jam 10, ternyata baru tiba di rumah jam 11… O o…

 

Lalu datanglah pegantar pizza itu, dengan membawa serta kupon ini..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

















Wow, benar2 pelayanan yang memuaskan… Sering2 saja terlambat, PHD… hahaha lumayan saya dapat pizza gratis… Yeah

Tuesday, November 11, 2008

Cerita si Kerupuk Palembang

“Mbak, ini ada sekedar oleh2 dari kami, seperti biasa mbak, kerupuk palembang…”

 

Mirna tersenyum, lalu sesaat dia tertegun menatap sendu bungkusan plastik itu, isinya padat dengan kerupuk asli Palembang yang terkenal lezat untuk menjadi teman makan ataupun sekedar cemilan. Tanpa terasa pikiran menerawang, tidak terlalu jauh ke belakang, terasa hangat… Ah matanya pun mulai berkaca2, makin terlihat jelas dari balik kacamata minus yang dkenakannya.

 

“Loh, kenapa mbak?”

 

“Oh maaf… maaf… terima kasih banyak atas pemberian kerupuk Palembangnya… Hanya saja, paman saya yang sangat suka dengan makanan ini, baru saja meninggal kemarin… Saya jadi teringat beliau”

 

“Ya ampun mbak, kami semua turut berduka cita yaaa…”

 

Suasana kantor yang tadinya penuh keceriaan menjadi sedikit berubah menjadi suasana duka saat rekan2 Mirna satu persatu menghaturkan ucapan turut berbela sungkawa.

 

Saat akhirnya kerupuk itu tiba di rumah, si anak bungsu pun ternyata tak kuasa untuk menitikkan air mata saat melihat penganan pemberian sepupunya itu telah ditaruh dalam wadah plastik kedap udara. Selama ini dia memang jarang mencicipi, karena tahu kalau kerupuk itu adalah makanan kesukaan ayahnya.

 

“Biarlah kali ini giliran aku yang mencicipi…” pikirnya.

 

Ah, lezat sekali, terasa benar ikannya. Gigitan demi gigitan tak hanya menimbulkan suara kriuk yang renyah, tapi juga membangkitkan serpihan kenangan yang dahulu pernah hadir dalam setiap bungkus kerupuk yang pernah dikirim ke rumah ini. Menghadirkan sebuah cerita, yang takkan dilupakan bagi mereka yang pernah berkumpul bersama.

 

Sebuah cerita tentang si kerupuk Palembang

 

*terimakasih banyak untuk seorang sepupu, cerita yang terlalu simpel ini saya dedikasikan untukmu. You are not just a mere cousin to me, you are the best friend I have ever had.

 

PS: Saya hanya mendengar garis besarnya saja, mohon maaf kalau saya mendramatisir terlalu banyak

Monday, November 10, 2008

Grindhouse: Planet Terror

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Horror
Directed By: Robert Rodriguez

Huaa… sebenarnya saya agak malas juga mereview film Planet Terror, tetapi karena kemarin sudah janji di review sebelumnya, ya terpaksalah saya membuat review film ini hehehe uffff… Filmnya benar2 mengerikan, kejam, dan berdarah2 dari awal sampai akhir. Death Proof yang saya sampai miris menyaksikannya, rasanya tidak ada apa2nya kalau dibandingkan dengan kebrutalan yang disajikan di film ini. Benar2 tingkat kekerasan yang aduhai tingginya (harap maklum, saya belum pernah, dan sepetinya takkan mau, menyaksikan SAW, Hostel, dll).

Kisahnya standar saja, bercerita tentang senjata biologis, yang dalam suatu inisden, bocor dan menyebar ke seluruh kota. Manusia berubah menjadi zombie yang haus akan darah dan daging sesamanya. Sekumpulan warga berusaha untuk menyelamatkan diri dan keluarganya. Diantaranya adalah Cherry Darling (Rose McGowan) dan kekasihnya yang misterius El Wray (Freddie Rodriguez). Bersama dengan survivor lainnya, mereka bahu membahu untuk menyelamatkan diri dan mengungsi ke daratan Mexico.

Secara keseluruhan, memang hampir tidak ada hal baru yang ditawarkan oleh film ini. Film tentang senjata biologis yang bocor dan menginfeksi populasi manusia sudah sangat sering ditampilkan di film2 sebelumnya seperti berjilid2 seri Resident Evil. Dan jika ternyata ada segelintir manusia yang imun terhadap virus tersebut, hal ini juga pernah dihadirkan dalam film I am Legend.

Memang secara kualitas, film ini masih belum dapat disejajarkan dengan proyek Grindhouse besutan koleganya, Death Proof. Tapi meskipun demikian, film ini masih bisa sedikit menghiburlah. Terutama dengan tokoh Cherry yang unik dengan sebelah kaki palsu yang berupa gabungan antara machine gun dan grenade launcher, that IS a style.

Begitu banyaknya unsur komedi yang diselipkan juga bisa melupakan sedikit kengerian akibat terlalu banyaknya darah yang berceceran di film ini. Bayangkan, di saat genting tokoh utamanya masih sempat melakukan adegan sex yang menjadi adegan wajib setiap film horor murahan hahaha…

Bagaimana aksinya? Full dari awal ampai akhir, dan sebagian besar benar2 terlihat murahan hehehe termasuk adegan fenomenal yang menghadirkan Cherry menghindari rocket launcher dengan cara…. Kayang… pasti waktu sekolah dia dapat nilai bagus untuk praktek senam hihihi.

Bagi anda yang belum nonton, jangan ragu2 untuk menyaksikan, filmnya sangat seru, asalkan anda tahan dengan tingginya tingkat kekerasan yang dihadirkan di sini.

Friday, November 7, 2008

Grindhouse: Death Proof

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Other
Directed By: Quentin Tarantino

Akhirnya setelah sekian lama, berhasil juga saya menyaksikan film yang disutradai oleh Quentin Tarantino ini. Setelah gagal mendapatkan keping dvdnya, saya akhirnya memutuskan untuk mengopi file .avi milik kakak saja lah hehehe dasar mental pembajak

Film tahun 2007 yang tergabung dalam proyek Grindhouse antara Tarantino dan Robert Rodriguez ini menceritakan tentang sekumpulan wanita cantik yang bersama2 melakukan perjalanan dengan menggunakan mobil. Tanpa sadar mereka dikuntit oleh seorang stuntman psikopat haus adrenalin (Kurt Russel) yang juga berkendara mobil stunt miliknya.

Setelah berpesta di bar mulailah stuntman Mike menjalankan aksinya. Setelah mendapatkan 1 korban, Mike pun berencana menghabisi semua wanita yang melanjutkan perjalanan. Caranya simpel, hanya dengan menabrakkan mobil stuntnya dengan mobil yang dikendarai para wanita tersebut.

Singkat cerita Mike hanya mengalami cedera ringan dalam menjalankan aksinya, dan setting film pun bergeser 14 bulan kemudian saat Mike sudah sehat wal afiat dan siap menjalankan aksi berikutnya dengan mengincar sekawanan wanita (yang lagi2) cantik untuk memuaskan nafsu setannya.

Awalnya film ini menwarkan percakapan yang sangat membosankan di antara pemeran wanitanya yang asyik bergosip tentang kehidupan, cowok, sex, dll. Bagai jet coaster, Tarantino membawa penontonnya ke dalam suasana thriller yang mencekam… dan akhirnya? Ditutup dengan suatu ending murahan ala Power Puff Girls dan Charlie’s Angels hahaha…

Ya begitulah style Tarantino, film yang dibuat dengan gaya retro (filmnya, bukan kameranya, agak goyang dan penuh scratch di mana2) ini sepertinya asal2an dan seenak udelnya saja dibesut olehnya. Tapi kalau diperhatikan lebih mendalam, film yang sarat dengan kekerasan ini memang penuh dengan nilai2 artistik. Lihat saja adegan favorit saya, the ultimate frontal car crashing… Saya sampai tidak habis pikir, kok bisa sih Tarantino memikirkan untuk membuat adegan sedahsyat ini? Dengan teknik editing yang brilian… This is totally fucking insane…!!!! Awesome! Sadis, tapi kreatif. Miris dilihat, tapi orisinil dibuat.

Yah begitulah kualitas sang maestro Tarantino, film yang seharusnya bisa masuk ke dalam kategori B-Movie, dikemas dengan sangat berkelas dan sarat dengan nilai2 artistik pada gaya retro dan sinematografinya yang sangat memikat. Lap Dance yang diperagakan juga sangat indah dan menggairahkan (he?). Selain itu adegan car chasing di sesi kedua juga cukup menarik untuk disimak. Adegan baku hantam di ending yang saya bilang murahan di awal, sebenarnya juga digarap dengan serius oleh Tarantino yang memang sangat piawai dalam membuat adegan jenis ini.

Bagi anda yang belum sempat menyaksikan filmnya, anda mendapatkan rekomendasi penuh dari saya. Tapi perlu diingat, film ini penuih dengan kekerasan tingkat tinggi, walaupun tidak sampai sesadis proyek Grindhouse Rodriguez yang berjudul Planet Terror, tapi tetap saja, membuat saya miris juga melihatnya hehe…

Owkey Planet Terror, you are NEXT…!!!

Wednesday, November 5, 2008

SMS Malam Pertama

Tadi pagi di mikrolet saya tersenyum2 sendiri… Apa pasal? Saya iseng cek e-mail di Hape. Lalu membaca guyonan yang dikirim Mahesa ini…

 

Alkisah ada 3 orang saudara, sebut saja mereka Vira, Voni, dan Veni yang dinikahkan secara masal oleh orangtuanya. Setelah itu mereka pergi berbulan madu bersamaan. Kalau Vira pergi ke Pulau Batam, Voni pergi Ke Kepulauan Seribu dan Veni si bungsu pergi ke Bali . Namanya orang Tua sayang sama anak, selama mereka berbulan madu kedua Orang Tua mereka minta dikirim kabar tentang segala yang terjadi selama mereka berbulan madu.

 

Tapi agar berita yang dikirim singkat dan tidak terlalu Vulgar, mereka menggunakan Kode/Sandi tentang moto-moto (tagline –sky) Iklan. Supaya praktis dan murah, berita dikirim lewat SMS. 3 hari setelah kepergian anak mereka berbulan madu, diterimalah sebuah SMS... yang rupanya dari VIRA di Pulau Batam. Isi beritanya cukup sederhana, “STANDARD CHARTERED”.

 

Setelah membaca berita tersebut mereka mencari Iklan Standard Chartered di koran dan terbacalah tulisan besar berbunyi, “BESAR, KUAT dan BERSAHABAT!” Tersenyumlah kedua orang tua mereka membaca berita dari Vira. Hari ke 4 datang SMS kedua, yang rupanya berasal dari Voni di Kepulauan Seribu. Isi beritanya juga cukup singkat yaitu, “NESCAFE”.

 

Setelah membaca surat tersebut, dengan tergesa-gesa kedua orang tua mereka mencari koran dan membaca Iklan NESCAFE yang berbunyi, “NIKMATNYA SAMPAI TETES TERAKHIR”. Maka kedua orang tua mereka pun tersenyum bahagia sambil sedikit haha.. hihi..

 

Hari ke 5 ditunggu tidak ada berita/SMS yang datang. Hari ke 6 begitu pula tidak ada sebuah SMS pun. Hari ke 7 begitu pula tidak ada kabar dari anak bungsu mereka si Veni yang berbulan Madu... Memasuki hari ke 8... akhirnya kedua orangtua mereka menerima SMS juga dari Veni yang berbulan madu di Bali dan isi beritanya cukup singkat, “CATHAY PASIFIC”.

 

Segera kedua orang tua mereka mencari Iklan penerbangan Cathay Pasific yang ada dikoran, dan dijumpailah iklan penerbangan dengan tulisan besar: “7 KALI SEMINGGU, 3 KALI SEHARI, 5 JAM NON-STOP”.

Monalisa

Alkisah Paman saya beserta seluruh keluarganya berkesempatan untuk liburan ke Eropa. Salah satu negara yang dikunjungi tentu saja Perancis. Lalu berkunjunglah mereka ke museum Louvre yang fenomenal itu. Saat itu ruangan yang paling ramai dikunjungi adalah, tentu saja ruangan tempat di mana lukisan Monalisa dipajang…

 

Salle des États

 

Tergantung dengan sangat elegan di sana, di dalam sebuah kaca anti peluru dengan suhu dan kelembaban udara yang diatur dan terkontrol setiap saat.

Mengantrilah paman saya beserta istri dan anak2nya… Setelah sekiaaaaan lama mengantri, akhirnya sampailaih mereka, berdiri, di hadapan maha karya sang maestro Leonardo da Vinci itu…

.

.

.

Hening sejenak

.

.

.

Tak lama anak tengah mereka yang masih duduk di bangku 3 SMP pun berkomentar…

 

“Yah papa, cuma ngeliat lukisan ini aja kok pake capek2 ngantri segala sih? Di rumah uwak Pondok Kelapa kan juga ada…?!”

 

LOLZ….!!!!

Monday, November 3, 2008

A Tribute to My Father

Tepat 2 minggu lalu saya kehilangan seseorang yang saya cintai. Bapak. Beliau memang sudah terdeteksi suatu penyakit pada akhir tahun 2007 kemarin. Saya sendiri agak kaget ketika bapak masih bisa berdiri menyambut para tamu saat pernikahan kami di awal tahun 2008. Memang secara medis bapak harus menjalani operasi kala itu, tapi seperti yang saya duga, bapak menolak.

 

Mungkin bapak masih bersama kami kalau beliau memutuskan untuk menjalani operasi. Ah, tapi sudahlah, garis takdir bapak memang sudah seperti ini adanya. Toh kemungkinan itu bagai 2 sisi mata uang. Kalau misalnya operasi tersebut gagal, bapak bahkan mungkin tidak bisa menghadiri pernikahan saya dengan dee.


Kenangan saya bersama bapak memang cukup dalam, sebenarnya saya terlalu sedih untuk dapat menulis tentang bapak. Itulah mengapa saya terus menunda untuk mengetik tulisan ini. Tapi saya bertekad untuk menyelesaikan tulisan ini, betapapun sulitnya menahan emosi saya dalam setiap kata yang terlontar dari pikiran saya. Ya, saya harus menyelesaikannya. Paling tidak, hanya inilah yang bisa saya lakukan untuk bapak di Multiply.


Hubungan saya dengan bapak memang cukup dekat layaknya seorang teman. Sampai saat ini saya masih bisa mengingat kala Bapak mengajarkan saya sholat untuk kemudian menjadi makmun ketika adzan magrib tiba. Saya masih ingat betapa lucunya saya saat bapak mengajarkan saya bermain catur. Ya lucu, karena sampai saat ini saya tidak juga mahir dalam strategi catur haha yah minimal saya jadi tahu bagaimana langkah tiap biji catur.


Saya juga masih ingat ketika dulu selalu mengajak kami sekeluarga ke blok m untuk sekedar menghabiskan akhir pekan. Ya saya yang manja, selalu minta digendong bapak kala kaki kecilku terlalu lelah untuk melangkah. Ah ya, maklum bapak kalau memarkir mobil itu agak jauh dari tujuan haha bapak malas berdesak2an dengan manusia dan mobil2 lain saat memarkir kendaraan.

 

Tempat favorit saya dan bapak, apalagi kalau bukan toko buku Gramedia. Ketika saya dan kakak masih kecil, orang tua kami memang sangat jarang membelikan kami mainan. Setahun paling hanya 2x, yaitu saat kami ultah dan saat natal tiba (hadiah mainan bukan dari bapak, tapi dari sinterklas karena kami mau berbaik hati memberi makan rerumputan di dalam sepatu kami untuk rusa2 yang lelah dan kelaparan menempuh perjalan panjang dari kutub).

 

Tetapi kalau untuk membelikan buku, bapak sangat royal. Tiap ke toko buku saya pasti membeli buku. Waktu itu buku yang sering saya beli adalah novel anak Noddy maupun buku2 dongeng lainnya. Ketika saya beranjak SD, saya sangat suka membeli buku komik Smurf, Johan dan Pirlouit, Asterix, dll. Kadang bapak suka kesal melihat kelakuan saya. Belum juga tiba di rumah, buku komik yang saya beli sudah habis dibaca di dalam mobil hahaha “Bayar mahal2 kok belum sampai rumah sudah habis dibaca sih?” , begitu bapak selalu protes.

 

Selain buku, bapak juga sering mengajak saya nonton bioskop. Bukan bioskop 21 tentunya, tetapi bioskop kampung tak ber-AC di dekat rumah nenek. Filmnya? Pembalasan Nyi Blorong hihihi or some sort lah… Frekwensi menonton bioskop bertambah tinggi saat di bekasi dibuka bioskop baru (bukan 21, tapi lumayan sudah ada ACnya). Masih ingat saat saya, bapak dan sepupu ditolak masuk ruang bioskop saat ingin menonton Pembalasan Ratu Selatan hahaha alasannya? Saya dan sepupu masih belum cukup umur untuk menyaksikan film yang masuk kategori 17 tahun ke atas tersebut.

 

Barulah setelah saya menginjak bangku SMP (atau SMA ya?), bapak kerap kali mengajak saya nonton di 21. Yah namanya juga bukan anak gaul, bukannya jalan2 sama teman atau pacar, saya malah menghabiskan malam minggu dengan bapak dan mama nonton film di 21 Blok M Plaza. Kalau mama sedang malas, ya paling2 saya berdua saja dengan bapak nonton film. Mulai dari pertunjukan biasa, midnight show, bahkan sampai pertunjukan old & new pernah kami jabani. Ya, pernah saya dan bapak nonton pertunjukan old & new di 21 dekat rumah. Film pertama saya masih ingat judulnya Fair Game (Cindy Crawford). Tapi film kedua saya lupa judulnya, maklum saya keburu terlelap di dalam bioskop.

 

Mall favorit saya dan bapak saat saya menginjak bangku SMA tak lain dan tak bukan adalah PIM hahaha ya Pondok Indah Mall. Memang sangat jauh dari tempat tinggal kami. Ah andai saja dahulu jalan tol JORR sudah rampung dibangun, perjalanan dari rumah menuju PIM mungkin hanya memakan waktu 30 menit saja. Kami sering menghabiskan hampir setiap hari sabtu atau minggu dengan jalan2 ke sana. Dengan dibekali uang 50ribu dari bapak, biasanya saya membelanjakannya untuk membeli komik maupun kaset.

 

Bapak jualah yang pertama kali mengakrabkan saya dengan komputer bersistem operasi windows. Ceritanya sepulang dari kantor bapak memberi kejutan dengan membawa pulang sebuah laptop bekas. Uh, merknya abal2, Chicony. Prosesornya? Ajaib juga, citrix namanya. Awalnya saya agak marah dengan keputusan yang diambil bapak, bukan karena merk laptop, tapi masalahnya kami sekeluarga gaptek soal komputer. Apakah nanti bisa mengoperasikannya?

 

Terakhir ada komputer di rumah kami adalah sebuah desktop tua, PC-XT dengan layar CGA, tak berharddisk, dengan sistem operasi DOS yang ada di floppy disk ukuran raksasa. Tetapi setelah saya mengeksplor laptop itu, waw ternyata asyik juga. Apalagi ada microsoft word yang lebih user friendly dibandingkan Wordstar dan mesin ketik portable bermerk canon yang menjadi andalan kami sebelumnya dalam ketik mengetik. Alhasil di kemudian hari saya dipermudah dalam mengerjakan tugas akhir di SMA yang berupa karya tulis. Terima kasih untuk bapak yang mengenalkan saya dengan windows.

 

Bapak adalah seorang ayah yang sangat demokratis terhadap kedua anaknya, belum pernah sekalipun beliau memaksakan kehendak. Saya sangat yakin tentang hal ini, karena saya memang pernah mengecewakan beliau dengan pilihan pendidikan tinggi yang saya ambil. Tapi toh akhirnya bapak menyerahkan sepenuhnya segala keputusan di tangan saya. Saya sangat berterima kasih untuk hal ini, dan saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk menunjukkan rasa terima kasih saya, dan alhamdulilah saya akhirnya berhasil menyelesaikan S1 saya tepat waktu dengan nilai yang cukup memuaskan.

 

Mungkin itu sudah… Pengalaman saya bersama bapak yang bisa saya tumpahkan dalam blog ini. Mungkin bukan pengalaman terindah yang biasa dilalui oleh anak dan ayahnya, tapi minimal ini adalah kenangan terindah dalam hidup saya selama 29 tahun hidup bersama beliau. Walaupun kini beliau telah tiada, segala kenangan hidup saya bersama beliau tetap rapi tersimpan dan terus hidup dalam kenangan saya. Dan bila telah tiba nanti giliran saya, kenangan secuil ini semoga bisa tetap hidup dalam halaman ini, blog yang cukup panjang ini, selama server Multiply masih menyala dan terus aktif.

 

Alhamdulilah saya bisa sampai di sisimu saat siang menjelang. Sekedar untuk membacakan bait2 surat Yasin yang (semoga) bisa menerangi langkahmu dalam memasuki dunia berikutnya. Sore yang kelabu itupun tiba, saat saya tengah khusyuk membaca Yasin, lalu tiba2 tanpa saya sadari suster tengah sibuk mengecek denyut nadi bapak. Saya tidak sadar kalau nafas bapak sudah mulai jarang. Seketika saya pun menghentakkan buku Yasin itu ke tempat tidur bapak. Saya menelungkupkan muka, tak kuasa untuk menahan tangis.

 

Saya tahu, saya tidak boleh menangis, karena ini mungkin adalah yang terbaik untuk bapak, dan saya harus meringankan jalannya. Ya saya tahu tentang hal ini, tapi akhirnya saya mengalami juga hal ini, saat emosi tak dapat lagi saya tahan. Maka meledaklah tangisan. Toh saya hanya manusia biasa, saya hanya bisa berdoa, semua tangisan saya tidak sampai memberatkan langkahmu.


Lalu kau pergi dengan tenang, disaksikan oleh semua anggota keluarga, disaksikan oleh orang2 yang sangat mencintaimu, disaksikan oleh orang2 yang pernah mengisi setiap lembar kehidupanmu. Dulu kau yang merawat kami, sekarang giliran kami telah tiba untuk memandikan dan mensholatkanmu, untuk yang terakhir kalinya. Giliran kami untuk mengantarkanmu sampai ke liang lahat, pembaringanmu yang terakhir.

 

Selamat jalan Pak, maaf saya belum bisa memberikan yang terbaik untukmu. Maafkan saya, anakmu yang sampai saat ini mungkin belum bisa membahagiakanmu. Maafkan segala dosa2 yang telah saya berbuat selama ini kala diskusi denganmu kerap berubah menjadi sebuah perdebatan yang sengit. Semoga Tuhan juga senantiasa memaafkan segala dosamu.

 

Bapak, engkau kini tenang di sana, semoga rasa sakit yang selama ini kau derita dapat membantu menghapus segala dosa dan kesalahan yang telah kau perbuat semasa hidup. Semoga Tuhan menerima segala amal dan ibadahmu. Semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.

 

Amin ya Allah, Amin…