Tuesday, July 1, 2008

Sejenak Bersama Euro 2008, Internet, dan Ponsel

Mulai pagi hari ini saya kehilangan sebuah aktivitas yang telah menjadi rutinitas dalam minggu2 terakhir ini. Biasanya sambil iseng di angkot menuju bis jemputan, saya buka ponsel, menghubungkan dengan GPRS lalu membuka BBC Sport. Saya memang kurang menyukai sepakbola, tapi minimal saya selalu memantau hasil pertandingan Euro 2008 kemarin. Apalagi 3 teman dekat saya sangat menggilai sepakbola dan masing2 mempunyai timnas idaman, yaitu Italia, Belanda dan Jerman.

 

Tapi Euro 2008 sudah berakhir, jadi mulai hari ini saya tidak lagi mengecek hasilnya. Jadi kangen juga, dulu saya selalu menyemangati kawan2 saya tersebut meskipun hanya melalui sms, yah walaupun pada akhirnya sms yang saya kirim tak lain dan tak bukan adalah sms duka cita. Karena tak ada satupun timnas favorit mereka yang menjadi juara. Jerman yang paling beruntung hanya berhasil mencapai final, Italia dan Belanda lebih tragis lagi, mereka semua gugur di babak perempat final. Tapi yang paling merana sepertinya teman saya yang menjagokan Belanda, waduh luka hatinya terasa sangat dalam sekali, bisa dilihat dari postingannya yang ini dan yang ini. Padahal tadinya dia “terlihat” sangat bahagia dengan memosting ini.

 

Yah, internet lagi2 menunjukkan kedigdayaannya. Hanya dengan menekan2 keypad di ponsel, saya sudah bisa mengetahui hasil pertandingan, lengkap dengan ulasannya. Lagi2 teknologi lama, seperti surat kabar menjadi semakin terpinggirkan, karena hasil Euro 2008 tersebut memang sudah melewati batas tenggat mereka. Jadi jangan harap melihat hasil terkini pada surat kabar yang terbit pagi. Bagi saya yang tidak memiliki komputer di rumah, GPRS di ponsel menjadi semacam pelarian hahaha hanya butuh waktu sebentar, hasil paling terkini sudah dapat dipantau.

 

Hal lain yang membawa berkah bagi saya dengan hadirnya internet di ponsel adalah Yahoo Mobile. Situs yang berbasis WAP (Wireless Application Protocol) ini sewajarnya memang diakses oleh browser di ponsel. Tapi kemarin saya iseng mencoba mengakses WAPsite tersebut, eh ternyata bisa, padahal biasanya situs WAP menolak jika diakses oleh komputer biasa. Alhasil sekarang saya bisa chatting di YM melalui Yahoo WAP tersebut.

 

Komputer yang saya gunakan di tempat kerja memang agak unik, sebutannya Thin Client, komputer ini sedianya hanya untuk menginput transaksi akuntansi, memorinya hanya virtual menggunakan media flash memory, Windows XPnya juga versi khusus untuk sekedar menjalankan thin client, jadi kalau ingin beraktifitas harus koneksi dulu ke server melalui LAN. Tapi demi kemanan, kegiatan internet dilakukan di luar server. Jadi kami tidak dapat menjalankan software yang kami download dari dunia maya. Otomatis kami tidak bisa menjalankan Yahoo Messenger. Menggunakan Web Messenger juga menjadi mustahil karena kami tidak dapat menjalankan Flash Player pada thin client yang unik ini.

 

Jadi ketika saya menyadari kalau WAPsite bisa diakses di komputer biasa, oh yeaaahhh, rasanya tak berlebihan kan kalau saya berterima kasih kepada revolusi internet di ponsel?

Monday, June 30, 2008

Dr. Seuss' Horton Hears A Who!

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Animation
Directed by Jimmy Hayward & Steve Martino

Akhirnya kesampaian juga saya nonton film Horton ini. Padahal saya dari dulu sudah kepingin nonton film animasi 3 dimensi dari 20th Century Fox. ini, yang kemarin pernah sukses menggarap Ice Age dan Ice Age 2: The Meltdown. Jadi setelah terlewat di bioskop kesayangan anda, minggu lalu saya iseng2 cari dvdnya, dan ternyata ketemu. Alhasil saya pun sukses menonton Dr Seuss’ Horton Hears A Who di akhir pekan. Film ini adalah film adaptasi yang diangkat dari buku anak yang ditulis oleh Dr Seuss. Buku lainnya yang juga telah diangkat ke layar lebar diantaranya adalah How The Grinch Stole Christmas dan The Cat in the Hat.

Ceritanya tentang Horton, gajah lucu nan imut yang tinggal di hutan Nool. Suatu hari tanpa disengaja dia mendengar suara2 dari segumpal debu yang terbang di hadapannya. Selidik punya selidik, suara tersebut ternyata berasal dari kehidupan mikroskopik yang ada di debu tersebut. Ironisnya, Horton yang berasal dari dunia yang lebih besar, malah memiliki kehidupan yang primitif di alam bebas, sedangkan kehidupan mikro tersebut telah mengenali peradaban canggih dan hidup berkoloni di sebuah kota “besar” yang bernama Whoville.

Menyadari bahaya yang mengancam penduduk Whoville, Horton pun berjanji untuk membawa segumpal debu tersebut tempat yang lebih aman, dengan bunga serbuk sebagai wadah bagi segumpal debu tersebut bernaung. Tetapi ancaman datang dari pemimpin Nool yang menganggap bahwa perilaku Horton itu mengancam tatanan kehidupan hutan Nool karena membawa pengaruh buruk dan meracuni pikiran anak2 hutan tersebut. Maka dia pun berupaya untuk mengenyahkan Horton dan bunga serbuk yang dibawa olehnya.

Setting cerita terdiri dari 2 tempat, Hutan Nool tempat tinggal Horton dan binatang2 lainnya, dan Whoville tempat tinggal para makhluk mikroskopis. Sementara Horton berjuang meyakinkan masyarakat hutan bahwa ada kehidupan pada debu yang ia genggam, walikota Whoville harus berjuang untuk meyakinkan penduduknya bahwa hidup mereka ada dalam bahaya dan bergantung pada kebaikan seekor gajah bernama Horton. Berhasilkah Horton menyelamatkan Whoville?

Ceritanya menurut saya cukup menarik, walaupun imo agak terlalu pendek. Endingnya juga sepertinya masih bisa dibuat lebih baik lagi. Tapi entahlah, saya belum pernah membaca bukunya, mungkin memang dibuat seperti apa adanya. Unsur komedi yang dibawa film ini juga sangat menghibur, beberapa kali saya dibuat terbahak melihat kekonyolan si Horton. Lucu dan segar walaupun tidak sampai segila si beruang di open season. Jim Carrey sebagai pengisi suara Horton juga tampil atraktif, walaupun belum semua potensinya keluar di sini. Animasinya halus, indah dan warna2nya juga loveable banget buat anak2.

Well, in the end… A person is a person, no matter how small.

Friday, June 27, 2008

Back to E51

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya  ponsel favorit saya kembali lagi menjadi Nokia E51. Ya benar fiturnya memang tidak sehebat N78 yang saya bahas sebelumnya. Tapi ponsel seri bisnis yang juga cocok untuk regular user ini memiliki beberapa keunggulan seperti keypadnya yang sangat nyaman dipencet, desainnya yang elegan dan tentunya harganya yang lebih terjangkau.

 

E51 juga dipersenjatai ARM prosesor dan memiliki memori SDRAM untuk menjalankan sistem operasi Symbian s60 v.3 dan aplikasi2 lainnya dengan cepat dan tanpa hambatan. Kelemahan utama posel ini terletak pada kameranya, 2MP non autofocus, jadi jangan harapkan hasilnya setajam ponsel2 Nokia lain yang dibekali dengan lensa Carl Zeiss. Bahkan kamera 2MP nokia seringkali masih kalah tajam dengan kamera 1,3MP milik ponsel Samsung.

 

Fitur lain dari E51 adalah koneksi 3,5G HSDPA (tanpa kamera depan, jadi tidak bisa videocall). Oia, ponsel ini juga memiliki koneksi WLAN tapi tidak memiliki navigasi GPS. Secara overall fitur2nya lumayan, cukuplah walaupun tidak selengkap ponsel seri multimedia Nokia. GSMarena pun mengakui bahwa ponsel ini sangat tangguh dan dapat diandalkan. Jadi kalau budget anda terbatas, tidak ada salahnya mempertimbangkan posel ini.

 

Ponsel favorit adalah satu hal, tapi membeli posel baru adalah hal lainnya hahaha tidak, saya belum berencana untuk membeli ponsel baru. Kalau tidak ada apa2 dengan ponsel Nokia 3660 kesayangan yang telah setia menemani saya selama hampir 4 tahun, hmm paling cepat tahun depan saya berniat membeli ponsel baru.

 

Jadi sekarang ya bersabar dulu untuk tidak ngiler

Arsip yang Bikin Pusing

Yup, inilah pekerjaan yang paling saya benci selama bekerja di bagian akuntansi. Mengurus arsip berarti harus berurusan dengan gudang, timbunan ordner lengkap dengan debu dan kadang satu pake juga dengan penghuninya (kecoak dkk hehehe). Tapi yang paling mengganggu tentunya adalah debu, salah2 masuk hidung bisa menyebabkan bersin2 dan kalau keterusan, bencana flu datang membayangi. Gaaah, menyebalkan sekali.

 

Tapi mau tak mau kami semua harus bahu-membahu membenahi arsip minimal 1 tahun 1x. Karena arsip2 lama harus dipindahkan dari ruang arsip kantor pusat ke gudang arsip rongsokan tak jauh dari kantor pusat, letaknya di bawah tebing dekat waduk. Hal ini memang harus rutin dilakukan agar ruang arsip bisa dikurangi kepadatannya sehingga arsip2 yang menumpuk di ruangan bisa dipindahkan ke ruangan arsip.

 

Iri rasanya melihat bagian lain bisa memperlakukan arsip2 lama mereka, just toss the fuckin’ ring binders into the warehouse. Karena sangat jarang data lama tersebut dibutuhkan kembali, kecil kemungkinannya, cenderung tidak mungkin. Berbeda dengan data keuangan, terutama data akuntansi. Karena bukti/dokumen asli tersebut memang bermuara ke akuntansi, bisa dibilang akuntansi memang tempat pembuangan sampah akhir. Suatu saat ada kalanya bagian lain membutuhkan data lama tersebut yang membuat kami seringkali mengengok lagi ke belakang. Jadi sebelum di buang ke ruang arsip atau ke gudang, arsip2 tersebut harus disusun yang rapi, diberi label, juga diberi nomor agar tidak tercecer.

 

Proses penempelan label nomer juga cukup melelahkan loh, kami harus berdiri dalam waktu yang cukup lama karena begitu banyaknya ordner. Kemarin saya baru saja menempelkan label untuk 117 ordner. Selesai menempel, kaki pada pegal, perut juga entah kenapa tiba2 keroncongan minta cepat2 diisi, untungnya tak lama kemudian kami semua diganjar oleh paket makan siang spesial sate kambing dan segelas es kelapa muda yang segar. Pikiran saya sesaat melayang kepada buruh pabrik wanita yang dalam satu shift harus nonstop berdiri menjalankan tugasnya, huff pasti sangat melelahkan. Membuat saya lagi2 bersyukur karena tidak harus bekerja sekeras mereka.

 

Pekerjaan yang melelahkan kadang memang tidak hanya menghasilkan peluh dan lelah tetapi juga rasa syukur atas nikmat yang telah dilimpahkanNya.

Wednesday, June 25, 2008

Family Movies

Libur telah tiba.

 

Buat pecinta film seperti saya liburan anak sekolah berarti satu hal… Banjirnya family movies di televisi lokal, yeeeeeeaaaahhh. Saatnya untuk memanjakan diri menyaksikan film2 keluarga yang mungkin belum sempat saya saksikan. Karena bisa dibilang saya ini pecinta film2 keluaraga hehe ya betul, bocah kecil dalam diri saya memang sulit untuk dihapus begitu saja. Karena itulah saya sulit jika disuruh untuk mereview film2 keluarga, mungkin hampir semua film keluarga yang pernah saya tonton mendapat rating yang bagus. Entah mengapa, saya selalu merasa nyaman saat menyaksikan film2 keluaraga, yang saya pikir sudah agak jarang muncul di bioskop akhir2 ini (dalam hal ini saya mengkhususkan film2 keluarga yang mengandung unsur live action, bukan yang murni animasi seperti Rattatouille, Finding Nemo, Shrek, dll).

 

Sabtu-Minggu tanggal 14-15 Juni 2008 kemarin, TransTV memutar film Stuart Little 1-2. Tetapi saya hanya menyaksikan Stuart Little 2, tidak apa2 karena prequelnya sudah saya saksikan sebelumnya. Sebenarnya SL2 juga sudah sangat sering diputar di TV lokal, entah berapa kali, tapi semuanya terlewat oleh saya, akhirnya baru minggu lalu saya sempat menyaksikan. Banyak kritikus yang mereview buruk SL2, hmm, memang sih menurut saya SL2 sepertinya terlalu mengandalkan grafis / CGI tanpa didukung cerita yang kuat dan orisinalitas seperti SL1. Tapi tetap saja, saya sangat enjoy ketika menyaksikan SL2. Ya, rasanya saya tidak akan bisa obyektif dalam mereview film2 keluarga.

 

Apa sih film keluarga favorit anda? Saya sangat suka dengan Home Alone, wah Chris Colombus memang keren banget dalam menyutradarai film ini, belum lagi akting Macaulay Culkin yang sangat ekspresif. Walaupun saya telah memiliki DVDnya, tetap saja kalau diputar di TV, saya berusaha menyempatkan diri untuk nonton lagi (aneh ya?). Selain itu hmmm, masih ingat petualangan paus orca imut bernama Willy? Dulu Free Willy adalah film keluarga yang sangat populer di jamannya. Selain cerita dan visualisasi yang menarik, film ini juga didukung oleh kumpulan lagu soundtrack yang aduhai.

 

Tapi jangan tanya kalau Trans7 memutar film2 keluarga, huh, malas saya dengan TV yang satu ini. Sudah sering memotong scene tanpa sebab, dialognya didubbing pula ke Bahasa Indonesia (bukannya saya anti Inonesia, tapi ekspresi dubbernya mati gaya jika dibanding aslinya). Memang sih modenya bilingual, tapi tetap saja repot karena English saya masih di bawah standar, jadi agak kesulitan juga untuk memahami dialognya 100% tanpa subtitle. Walaupun film2 keluarga level englishnya paling2 hanya basic-intermediate hehe… Tapi tetap saja saya lebih prefer yang memakai subtitle.

 

Nah, anak2, selamat menikmati liburan yah, jangan lewatkan film2 keluarga yang mencerahkan dan nikmati sensasi kenyamanannya.

 

Friday, June 20, 2008

My Biggest Decision, Ever

Ya, mungkin inilah keputusan terbesar yang pernah saya dan istri saya ambil. Transaksi ini bernilai jutaan rupiah. Halah apaan seh hehehe tidak, kami kemarin hanya memutuskan untuk membeli sebuah unit apartemen mungil bersubsidi, luasnya hanya 36 m2. di daerah perbatasan antara Jakarta dan Bekasi. Yah memang saya nekat untuk menjadi kelinci percobaan. Apartemen bersubsidi atau yang lebih dikenal dengan nama Rusunami (rumah susun sederhana hak milik) ini memang merupakan proyek baru  pemerintah. Sudah ada beberapa tower yang dibangun di seantero jakarta, bekasi dan bandung. Tapi yang jelas proyek ini belum bisa dikatan settle, karena memang baru saja dimulai. Tapi ya itu tadi, saya nekat menganggap dan berharap bahwa proyek ini akan berjalan sukses, sehingga bisa terwujud dan akhirnya bisa nyaman untuk dijaikan tempat tinggal bagi keluarga kecil.

 

Indonesia bukan Jepang, Indonesia juga bukan Amerika. Cukup banyak yang tidak setuju ketika kami memutuskan untuk membeli rusun 15 lantai ini. Mereka menyayangkan keputusan kami yang tidak membeli rumah tanah konvensional biasa saja. Saya mengerti bahwa bangsa Indonesia memang belum terbiasa untuk tinggal di flat layaknya penduduk Jepang dan Amerika. Yang menjadi bahan pertimbangan saya dalam membeli rusun ini tidak lain adalah kepraktisannya saja. Lokasinya sangat dekat dengan tempat saya menunggu jemputan, selain itu lokasinya juga sangat dekat dengan tempat istri saya bekerja. Dengan harga yang sama, saya jelas tidak akan dapat menemukan lokasi sestrategis ini jika memaksakan diri untuk membeli rumah konvensional.

 

Dengan harga tersebut paling2 saya hanya dapat membeli sebuah rumah konvensional di daerah bekasi timur atau bahkan utara. Saya sih sebenarnya tidak terlalu masalah, karena jemputan kantor juga melalui jalur bekasi barat, tapi kasihan istri yang harus menempuh perjalanan panajang menuju Jakarta Timur, capek di jalan istilahnya. Saya juga beranggapan lelah di jalan pasti akan menrunkan kualitas hidup. Ya, akhirnya hal inilah yang membuat saya nekat membeli sebuah unit Rusunami. Toh hitung2 sebagai investasi untuk di masa yang akan datang.

 

Saya hanya bisa berharap dan berdoa agar proyek ini dapat berjalan lancar dan sukses di kemudian hari. Maka tak sia2 lah pengorbanan saya untuk membayar cicilan uang muka yang selama ini saya rasakan sangat berat. Saya dan istri benar2 “berdarah-darah’ lah istilah kerennya hehehe habis bagaimana tidak, cicilan DPnya tiap bulan masih lebih besar  daripada gaji kami berdua digabung. Yah, tapi hidup adalah perjuangan bukan? Sedikit pengorbanan akan menjadikan hidup semakin manis untuk dijalani. Ya Allah, semoga kami akan beroleh kepuasan dan keberkahan di akhir perjalanan.

 

Amin.

Thursday, June 19, 2008

Stardust

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Neil Gaiman
Ladies and gentleman, fasten your seatbelt, please Cuz u’re gonna read the best fantasy novel from Neil Gaiman, well at least in my opinion hehehe Oke, imo novel Gaiman ynag saya baca terakhir ini adalah yang paling keren dari ketiga novel gaiman yang pernah saya baca. Yup stardust memang yang paling menarik, tak heran kemudian muncul adaptasinya dalam layar lebar.

Berbeda dengan novel2 sebelumnya saya review di sini, Stardust memliki setting waktu (timeline) beberapa abad sebelum abad 20/21 (Anansi Boys dan Neverwhere bersetting waktu masa kini). Alkisah seorang pemudah usia belia yang bernama Tristran yang tinggal di sebuah desa tenang bernama Desa Tembok. Tristran sedang dimabuk asmara. Demi cintanya, dia bersumpah pada pujaan hatinya, untuk membawakan bintang jatuh yang mereka lihat di malam hari.

Maka diimulailah petualang Tristran meninggalkan desanya untuk menuju negeri peri. Dia tidak tahu apa yang sedang menunggunya di sana. Karena yang mengincar sang bintang jatuh tak hanya Tristran seorang, tapi juga penyihir dan keluarga kerajaan. Penyihir dengan motif awet muda dan Keluarga kerajaan dengan motif takhta dan singgasana istana. Semuanya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan si bintang jatuh. Oh oh malangnya Tristran yang muda belia harus tenggelam dalam petualangan berbahya penuih intrik yang berat dan melelahkan.

Membaca Stardust, saya teringat dengan kisah Lord of The Rings, karena nuansanya yang memang mirip walaupun tentu saja Stardust lebih simpel, ringan dan tidak serumit pendahulunya. Stardust sangat enak dibaca kisahnya, mulai dari kehidupan bersahaja di desa kecil, petualangan Tristran di negeri peri sampai akhirnya dia mengungkap latar belakang kehidupannya, semua diceritakan secara ringan dan membumi. Tak terasa lembar demi lembar terbaca. Walaupun bukunya memang paling tipis di antara yang lainnya, tapi bukan berarti kualitas ceritanya di bawah Anansi dan Neverwhere. Sebaliknya, Stardust memiliki jalinan cerita yang kuat dan memorable. Stardust is definitely a must-read, indeed.

Ini adalah sebuah kisah…
Kisah seorang pemuda yang pergi demi cinta monyetnya dan pulang membawa cinta sejatinya.