Thursday, September 4, 2008

? Digital Music Store ? Yes or No?

Miris rasanya membaca sebuah artikel di harian kompas hari Minggu kemarin. Di situ tertulis kalau grup band Naif baru saja membagi2kan secara gratis album mereka yang terbaru dan mempersilahkan siapa saja untuk membajaknya. Itu adalah wujud dari protes dan keputusasaan mereka menghadapi tindak pembajakan yang kian menggila terjadi di negeri kita.

 

Lain lagi dengan The Upstairs dan Koil, band inidie ini memang sudah memutuskan untuk menggratiskan album mereka mulai saat ini. Lalu dari mana mereka dapat uang? Mereka hanya berharap dari honor konser dan royalti penjualan merchandise dan pernak-pernik lain yang berhubungan dengan band mereka. Lagu2 yanhg tercipta hanyalah sekedar media promosi untuk lini produk mereka yang lain.

 

Untuk band kecil yang terbiasa dengan biaya yang kecil (dan tentu saja pendapatan yang juga tak terlalu besar) mungkin hal ini tidak terlalu bermasalah. Tapi bagi band besar yang sudah terbiasa hidup dengan biaya produksi yang tinggi, tentu saja berat untuk menggratiskan album2 mereka. Lalu bagaimana ya? Rasanya semua jadi serba salah. Kasihan juga sih kalau melihat para pemusik lokal yang bertalenta tinggi akhirnya harus menyerah pada hancurnya industri musik yang diterpa badai pembajakan.

 

Saya sendiri punya mimpi, di suatu saat nanti di negeri ini akan muncul yang namanya Digital Music Store. Jadi kalau kita ke mall, kita bisa membeli file mp3 atau aac musik2 dari artis lokal. Ya hanya filenya, terserah akan di download langsung ke flashdisk, ponsel ataupun mp3 player (non iPod) milik kita. Jadi diharapkan hal ini akan memangkas biaya produksi album mereka, tidak perlu cost lagi untuk produksi CD/kaset dan biaya percetakan.

 

Bisa tidak ya? Untuk menghemat biaya, para pemusik putus hubungan dengan major label mereka, kerjasama hanya dilakukan antara 2 pihak yaitu pemusik dan toko musik digital tersebut. Tentu saja bagi hasilnya bisa mereka bagi 50:50. Kalau 1 lagunya dihargai Rp 2.000, berarti 1 album harganya bisa menjadi Rp 20.000. Kalau membeli single/mix, tentu saja tidak masalah, hanya saja harganya menjadi per-lagu, dan tentu saja harus sedikit lebih mahal daripada membeli paket 1 album. Jadi jika albumnya terjual 1 juta kopi, pemusik bisa menikmati penghasilan kotor sebesar 10 miliar.

 

Jadi dengan harga lebih murah, konsumen sudah bisa mendapatkan kualitas suara yang aduhai beningnya, daripada membeli kaset yang walaupun original, tetap saja kualitasnya masih di bawah mp3. Selain itu karena formatnya digital, paket album juga bisa disertai dengan file2 lain yang berupa foto artis, lirik lagu, maupun iklan2 dari para sponsor yang bisa diakses melalui PC tanpa harus menambah biaya produksi lagi.

 

Tentu saja sistem seperti ini memiliki kelebihan dan kekurangannya. Salah satu kekurangannya adalah kerepotan di awal penerapan sistem. Karena sifatnya digital, sebenarnya barang yang diperjualbelikan juga tak berwujud. Jadi harus dibuat software khusus untuk melakukan transaksi agar tidak terjadi penyalahgunaan. Kekurangan yang lain adalah sistem ini hanya membuat harga produk menjadi lebih terjangkau, tapi tidak menjamin dapat 100% mengatasi masalah pembajakan. Hanya saja dengan harga yang terjangkau, diharapkan masyarakat tidak lagi tergiur untuk membeli produk bajakan. Saya sendiri tidak keberatan mengeluarkan Rp 20.000 untuk sebuah album musik yang legal, no more piracy for our local product.

 

Kelebihannya? Tentu saja band2 indie/kecil tak akan kesulitan lagi menembus pasar musik di Indonesia. Album mereka dengan mudahnya beredar di toko2 musik terkemuka tanpa harus memikirkan biaya produksi kaset dan CD. Jadi, yang terpenting ,tak perlu khawatir jika albumnya tidak laku terjual. Hmm… Saya takkan lagi kesulitan untuk membeli lagu2 Mocca dan Pure Saturday kesukaan saya hehehe

 

Well, apapun yang terjadi, itu semua hanyalah mimpi saya. Jadi jangan menertawakan saya ya hehehe… Bagaimana dengan anda? Apakah anda mempunyai solusi lain untuk menyelamatkan industri musik di Indonesia?

15 comments:

  1. ow ow! berat niiihhhh :))

    tapi ok juga idenya, secara dirikuw juga suka mocca!!!!!!!!

    my secret admirer.... :D

    ReplyDelete
  2. hehehe maaf rada berat kontennya :))

    kliyengan ya mbacanya?

    ReplyDelete
  3. saya sudah biasa dengan yang berat2 juragan...

    dikau kan juga beraaattttt!!!! hahaha

    ReplyDelete
  4. halah saya enteng begini... apalagi bulan puasa, diet :)

    ReplyDelete
  5. waks! ketiban juragan saya gepeng! wakakakak

    anyway, nice post, gan!

    cieh cieh

    ReplyDelete
  6. hehehe thanx... baru bisa mimpi kok.
    biasalah, kaya wacana tapi miskin implementasi hahaha

    ReplyDelete
  7. hahaha kaya kita ajaaaaa!!!!!
    kaya rencana tapi miskin pelaksanaan
    next project! huhuhu

    ReplyDelete
  8. kecuali dapet subsidi dari nyonya besar hahahaha

    ReplyDelete
  9. hai, sky! salam kenal yah...
    impiannya boleh juga. Bisa2 nanti musisi tinggal duduk di studio (or komputernya) trus tinggal beri judul lagu, upload file-nya, beres. Tinggal ongkang2 kaki tapi tiap kali ada yang ngedownload, ada tambahan nominal di rekening bank-nya....hehehe.

    everything begin with a dream....ayo, siapa yang berminat mewujudkannya?

    ReplyDelete
  10. hai bisma, salam kenal juga...
    Ya jika penetrasi internet di Indonesia sudah tinggi, penjualan musik secara online ala iTMS pastinya bisa menambah efisiensi.

    ReplyDelete
  11. jadi inget ucapan Chester Bennington (Linkin Park) di Rolling Stones (ed. 33, Januari 08). Katanya : "Sistem perusahaan yang sempurna itu akan seperti Microsoft atau Google. Artis-artis akan diperlakukan seperti teknisi-jadi ada artis, produser dan sisi tehnologi dari perusahaan itu...".

    Eh, tapi denger2 udah ada online music store yang namanya Digital Beat or something......

    ReplyDelete
  12. ayo2 wujudkan impianmu itu hihiihi

    ReplyDelete
  13. @bisma: ya memang ada juga Digital Music Store di Blitz Megaplex, tapi harga 1 lagunya 5000, ya mendingan beli CDnya dong? Lebih murah

    @Dee: hahaha kan miskin implementasi :))

    ReplyDelete
  14. setuju! kaya iTunes gitu kan? saya juga mauu

    ReplyDelete
  15. iya, kalau iTunesMS kan secara online, tapi berhubung di sini penetrasi internet masih terbilng rendah, jadi ada juga penjualan musik digital secara offline di toko2 musik dalam Mall :)

    ReplyDelete