Sunday, October 11, 2009

Michael Jordan #1 Awal Sebuah Kebangkitan



Tahun ini, tepat 10 tahun yang lalu, sang maestro bola basket yang tak lain dan tak bukan adalah seorang Michael Jordan sendiri, secara resmi mengundurkan diri dari dunia perbolabasketan (atau yang di Amerika lebih dikenal dengan NBA, National Basketball Association). Di jamannya dahulu, mulai dari era 80-90an, siapa sih yang tak kenal MJ? Mulai dari anak2 hingga orang dewasa pasti mengidolakan beliau. Dunia pun diserang wabah demam bola basket dan NBA, semua orang ingin menjadi Jordan. Ya slogan itu, I wanna be like Mike.

Entah kenapa, tiba2 kemarin saya jadi teringat dengan MJ. Tiba2 saya ingin sekali menyaksikan aksinya  bermain bola basket. Agak sulit memang, kalau saja tidak ada internet hehehe untunglah sekarang keadaannya berbeda, tinggal cari2 di internet, download, dan saksikan… Itu sudah ^_^ Mau melihat slam dunk kontes MJ Vs Dominiq Wilkins? Hmm ini yang sulit, gagal saya menemukannya. Tapi coba lihat di youtube, wah ternyata ada, cukup lumayan pula kualitasnya. Tanpa ragu Orbit Downloader pun saya gunakan. Tak berapa lama video di Youtube itu pun sudah bersemayam di hardisk saya.

Oops jadi ngelantur, kembali ke MJ. Setelah menyaksikan 2 film dokumenter MJ (hasil illegal download tentunya) itulah akhirnya saya lebih mengenal beliau. Dahulu, ketika saya masih sekolah dan kuliah, yang saya tahu hanyalah kehebatan MJ dalam bermain basket. Berhasil membawa timnya, Chicago Bulls 6 x meraih gelar juara NBA. Yang saya tahu dulu, MJ adalah seorang manusia super yang tak terkalahkan, anak ajaib yang hanya dilahirkan 1x dalam 1000 tahun. Lompatannya yang sangat tinggi di atas rata2 manusia biasa, membuatnya dijuluki Michael Air Jordan. Siapa saja pasti terkesima jika melihat slam dunk fenomenalnya yang dilakukan dari garis free throw.

Tapi ternyata, di balik semua itu, MJ hanyalah seorang manusia biasa. Lahir dari keluarga biasa pula. Seorang anak yang hobi bermain basket di lapangan dekat rumahnya bersama sang kakak. Apakah waktu kecil MJ sudah jenius dalam bermain basket? Aha, ternyata tidak. Kala itu, MJ selalu kalah bila bertanding melawan kakaknya. Tetapi justru semua kekalahan itu yang memicu semangat MJ untuk terus berlatih da berlatih. Hingga akhirnya dia berhasil membawa kampusnya menjadi juara NCAA (liga basket universitas).

Singkat cerita, setelah 2x membawa kampusnya menjadi juara, MJ memutuskan untuk melangkah ke jenjang profesional dan direkrut oleh sebuah tim NBA, Chicago Bulls. Nama Jordan langsung melambung tinggi. Dia adalah seorang pemain yang lengkap, sangat bagus dalam bermain bertahan dan apalagi menyerang. Dia tak hanya piawai dalam mencetak poin melalui shooting, slam dunk maupun lay-up shoot. Tetapi juga ulet dalam menjaga pertahanan, cukup banyak steal, block, maupun rebound yang dikumpulkannya.

 

Tapi tetap, MJ adalah seorang manusia biasa, walaupun tak ada seorangpun yang meragukan kemampuan individunya, masih ada satu hal yang mengganjal. Dia belum berhasil membawa timnya menjadi juara NBA, belum ada cincin juara yang melingkar di jarinya. Langkahnya selalu terhenti di final wilayah timur. Ketika Detroit Pistons harus berhadapan dengan Chicago Bulls di final playoffs wilayah timur, mereka dengan entengnya sesumbar

 

“Tidak ada yang tidak mungkin, kami bisa kok menghentikan seorang MJ”

 

Begitu kira2 ucapan mereka. Dan akhirnya Pistons memang bisa membuktikan ucapan mereka, MJ diberikan penjagaan khusus untuk mematikan ruang geraknya. Lagi2 Bulls gagal, jangankan meraih juara NBA, juara wilayah timur saja gagal mereka raih. Kekalahan 3 tahun berturut2 di final wilayah timur melawan Detroit Pistons tentu saja membuat MJ frustasi. Impian Bulls untuk bisa berlaga di final NBA lagi2 kandas di tangan Isiah Thomas dkk.

 

Musim berganti, semua kekalahan menyakitkan yang dialami oleh Bulls akhirnya cukup membuat MJ tersadar, untuk meraih gelar juara, seorang MJ takkan pernah cukup. Untuk melawan tim hebat yang lolos ke babak playoffs memang diperlukan kerja sama tim yang kompak. Saat inilah kebangkitan MJ menuju kedewasaan dimulai. Dari seorang dengan kemampuan inidvidu yang brilian, ia bertransformasi menjadi seorang pemimpin yang mumpuni. Dia mengesampingkan semua ego masa kanak2nya dan mulai membangun kerjasama dengan timnya. Toh di Bulls tidak hanya ada Jordan, masih ada Scottie Pippen, Horace Grant dan lainnya.

 

Dan lagi2 Bulls bertemu dengan Pistons di final wilayah timur. Tapi kali ini tentu saja sudah berbeda, Jordan hanya tersenyum ketika diberi pengawalan khusus, karena itu berarti dia bisa leluasa memberikan assist kepada rekan2 satu timnya untuk mencetak angka. Dan tentu saja semua orang tahu, jika suatu tim memberikan pengawalan khusus kepada satu pemain, harus ada yang dikorbankan, pemain lain menjadi lebih leluasa mencetak angka. Pistons terperangah dengan perubahan gaya permainan Bulls dan tak ayal lagi, mereka takluk (kalau tidak bisa dibilang dibantai) oleh keperkasaan Chicago Bulls.

 

Saat Bulls berhasil mengalahkan Pistons itulah lembaran baru dimulai, mereka, bersama sang kapten, Michael Jordan, telah menjadi tim yang sangat solid dan sukar untuk dikalahkan. Bahkan LA Laker dengan Magic Johnsonnya pun tak kuasa untuk membendung laju the new emerging forces ini. Bulls pun meraih gelar juara NBA untuk pertama kalinya.

Wednesday, August 5, 2009

My Neighbors The Yamadas (1999)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
Directed by: Isao Takahata

Pertama saya melihat cuplikan gambar dari film yang diadaptasi dari manga ini… Astaga hancur sekali, gambarnya bahkan lebih buruk dari animasi Crayon Shinchan hahaha seperti layaknya gambar sketsa storyboard yang diberi warna tipis sekedarnya saja. Tapi tak urung saya bertekad untung mendownloadnya. Nama besar Studio Ghibli dan Isao Takahata menjadi taruhannya. Sekedar info, ini adalah film pertama Ghibli yang murni dikerjakan secara digital.

Dan benar saja, film ini memang tidak menjadikan kualitas animasi sebagai nilai jualnya, tetapi justru pada inti ceritanya yang amat menarik. Film yang berdurasi sekitar 100 menit ini merupakan gabungan dari beberapa kisah pendek yang menceritakan keseharian keluarga Yamada yang terdiri dari bapak, ibu, 2 orang anak dan seorang nenek yang tinggal bersama dalam 1 rumah. Kisah2nya sangat lucu dan mengocok perut penonton. Beberapa kali kekonyolan mereka membuat saya terbahak2. Beberapa kali kisah2 mereka membuat saya terharu. Dan beberapa kali pula ucapan mereka membuat saya merenungi hidup ini.

Kisah keluarga Yamada ini begitu simpel menceritakan tentang kehidupan perkawinan yang tidak simpel. Kisah yang begitu membumi dan pastinya banyak juga dialami oleh keluarga di mana pun. Film ini berhasil mengcapture kejadian2 nyata yang kerap terjadi dalam kehidupan berumah tangga dan memolesnya dengan sentuhan komedi yang menawan. Menertawakan keluarga Yamada ini rasanya seperti menertawakan diri kita sendiri.

Sebuah sajian yang sangat sayang untuk dilewatkan bagi mereka yang telah maupun akan berumah tangga. Keluarga Yamada ini memang bukan keluarga yang sempurna, jauh dari sempurna, mereka konyol dan nyeleneh. Kita boleh saja menertawakan mereka, tetapi justru keluarga seperti inilah yang biasanya awet bertahan sampai akhir masa. Keluarga Yamada tidak hanya membuat kita tertawa, tetapi juga sekaligus memberikan pelajaran yang amat berharga untuk kita renungkan.

Porco Rosso (1992)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Directed by: Hayao Miyazaki

”I’m a pig. I don’t fight for honor, I fight for PAYCHECK”

Bersetting paska Perang Dunia I, Porco Rosso adalah seorang pilot yang karena suatu sebab, disersi dari angkatan udara Italia. Menjadi pahlawan pada PD I, lantas kemudian memilih menjalani hidup sebagai bounty hunter yang memerangi para pembajak di udara. Dengan sea plane merah bututnya, nama Porco Rosso menjadi amat terkenal dan disegani lawan2nya. Menjadi pahlawan di perairan Adriatic, tetapi menjadi buronan di negaranya sendiri, ironis.

Film Miyazaki kali ini menurut saya adalah film paling realis (kecuali bentuk fisik tokoh utama, tentunya) dari semua film Miyazaki yang pernah saya saksikan. Tak ada sihir, makhluk gaib maupun keajaiban yang tidak manusiawi di sini. Dalam film ini, Miyazaki benar2 mengekplorasi segala hal yang berhubungan dengan pesawat dan penerbangan. Beberapa adegan action yang sangat seru ditawarkan dalam ini, plane chasing yang seru dan dogfight yang memukau tentu saja tak luput dihadirkan.

Seperti biasa, walaupun ini film action, tentu saja Miyazaki tak lupa untuk menyematkan drama dan sedikit kisah percintaan di dalamnya. Impian Gina untuk bisa hidup bersama Porco yang sepertinya mustahil untuk terwujud. Porco yang tak pernah lupa mendatangi klab malam milik wanita cantik tersebut karena suatu alasan sentimentil yang cukup mengharukan dan membawa kita kepada alasan Porco untuk hengkang dari AU Italia.

Tapi bagian favorit saya adalah ketika Porco memperbaiki pesawatnya di Milan. Apalagi yang mendesain ulang pesawat milik Porco ini adalah gadis muda belia yang sangat berapi2. Fio Picollo, gadis muda berusia 17 tahun tetapi begitu menguasai tentang mesin pesawat dan aerodinamika. Hmm untunglah kejadiannya berlangsung pada tahun 1920an, entahlah, tetapi menurut saya propeller engine biasa itu walaupun sangat konvensional, tetapi rasanya kok ya lebih elegan ^_^

Menarik melihat bagaimana Fio yang semula dianggap remeh oleh Porco itu akhirnya malah membuat Porco terkagum2 dengan sedikit modifikasi yang dibuatnya. Bagaimana tidak, hal tersebut membuatnya lolos dari kejaran polisi Milan dan berhasil melakukan lepas landas yang mendebarkan dari sungai di Milan. Ow kereeeen… Menurut saya inilah scene yang paling menarik, lebih seru bahkan, daripada dogfight terakhirnya dengan rival beratnya dari Amerika, Donald Curtis.

Sebuah film dari Miyazaki, yang murni tentang pesawat dan penerbangan (and hell yeaaahhh, it’s good).

Wednesday, July 29, 2009

Only Yesterday (1991)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Directed by: Isao Takahata

Taeko Okajima, akhirnya kesampaian juga untuk berlibur ke daerah pedesaan. Selama 26 tahun tinggal, sekolah dan akhirnya bekerja di Tokyo, Taeko tak pernah merasakan nikmatnya pergi berlibur ke daerah pedesaan. Kali ini saat menginjak usia yang ke 27, Taeko ingin mengulangi pengalaman tahun lalu dengan melepas penat ke sebuah desa bernama Yamagata. Hanya anehnya, kali ini pikirannya selalu dibayangi oleh memori masa kanak2nya ketika ia masih seorang gadis mungil berusia 10 tahun.

Semua pengalaman masa kecilnya itu tak henti2nya hadir dalam pikiran, semua masa2 indah dan pengalaman sedihnya tiba2 muncul begitu saja. Tak luput cinta monyetnya pun ikut2an hadir ke dalam benaknya. Tapi itu semua masa lalu, sedangkan masa kini tetap harus dihadapi, sampai akhirnya ia sampai pada suatu titik yang mengharuskannya mengambil suatu pilihan. Ya, pilihan yang mungkin dapat mengubah jalan hidupnya, selamanya.

Saya termasuk beruntung karena bisa menyaksikan film ini, terima kasih kepada internet dan rapidshare. Kenapa? Karena di Amerika film ini urung diedarkan. Alasannya? Entahlah, tapi rumor yang beredar adalah, Disney sebagai pemegang lisensi peredaran film2 studio Ghibli merasa bahwa film ini kurang cocok sebagai pengusung image Disney yang selama ini sudah kadung melekat sebagai pembuat film2 keluarga. Nah, di film ini memang ada adegan seorang ayah yang menampar anaknya, selain itu juga ada adegan di mana anak2 SD membicarakan masalah (maaf) menstruasi. Jadi mungkin karena inilah Disney takut kalau hal2 tersebut malah menjatuhkan imagenya sebagai produser film2 keluarga berkualitas.

Oke terlepas dari itu semua, film ini terasa sangat membosankan, boring, atau dragging istilahnya jaman sekarang. Tapi entah kenapa saya malah sangat menikmati alur dan cerita yang ditawarkan dalam film ini. Alur maju dianimasikan secara detail, dan penuh warna. Uniknya, alur flashback saat Taeko masih SD, digambarkan dengan background layaknya lukisan cat air dengan warna2 tipis. Ah indah sekali, what a piece of art.

Sebuah film tentang keseharian anak2 Jepang yang tinggal di kota besar dan kerinduannya akan suasana asri pedesaan yang tenang, dikemas dalam balutan animasi yang menawan. Ah, tak hanya Hayao Miyazaki, ternyata saya juga mulai jatuh cinta dengan karya2 Isao Takahata.

Friday, July 10, 2009

Pemilu... 2 Putaran Saja...


Ahhh... akhirnya mimpi ini pupus juga di tengah jalan, tadinya saya berharap pemilu Presiden bisa 2 berlangsung 2 putaran. Ya memang, jujur saya termasuk orang yang berharap kalau hal ini bisa terjadi. Eits, bukannya saya tidak senang kalau pasangan SBY Boediono menang. Tapi kalau pilpres berlangsung 2 putaran, saya kan bisa mendapat liburan gratis sekali lagi hehehe, kapan lagi coba? Hanya 5 tahun sekali...



Hidup 2 putaraaaannnn....!!!! Hehehe tapi apa daya, setelah melihat quick count yang sudah mencapai 100%, rasanya SBY-B memang terlalu amat sangat sulit digeser. Saya pikir tadinya kalau saja mereka "hanya" mendapat 49%, pasti kita semua bisa mendapat liburan gratis lagi. Tapi jangankan 49%, 50% saja tembus jauh hingga ke 60% hihihihi...

Mereka incumbent, mereka bagus, wajarlah jika tak tergeserkan...

Oke, selamat tinggal libur colongan, LANJUTKAN....!!!

Sunday, July 5, 2009

KING

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Sports
Directed by: Ari Sihasale

Manusia takkan pernah berhenti bermimpi, karena mimpi membuat manusia menjadi lebih bersemangat dalam menjalani… Hidup.

Begitu pula dengan Guntur, seorang bocah jagoan bulutangkis di sebuah desa kecil di Jawa. Bermodalkan raket kayu yang sudah bengkok, tak jua meredupkan impiannyanya untuk menjadi pemain bulutangkis profesional yang dapat mengharumkan nama bangsa. Masalahnya, impian tersebut menjadi rancu, karena selama ini, ternyata sang ayah rupanya mempunyai mimpi yang sama, menjadikan anaknya menjadi masestro bulutangkis sekaliber Liem Swie King. Jadi sebenarnya impian siapakah ini? Guntur atau ayahnya?

Seringkali Guntur merasa frustasi dengan kerasnya disiplin yang diterapkan sang ayah dalam melatihnya. 100 x squat jump dan lari 50 x mengelilingi desa menjadi santapan sehari2 sebagai hukuman apabila Guntur mengalami kekalahan pada pertandingan bulutangkis yang kerap dilaksanakan di desanya. Sampai di suatu titik Guntur menjadi muak dengan bulutangkis dan berbalik membenci sang ayah.

Tapi toh Guntur tak bisa begitu saja melupakan bulutangkis, olahraga yang sudah mengalir dalam darahnya sejak ia kecil. Berkat usaha dan pertolongan sahabat karibnya, Raden, ia akhirnya bisa masuk ke sebuah klub kecil di desa sebelah dan berpeluang untuk mengikuti seleksi menjadi murid di klub bulutangkis di kota Kudus. Sebuah klub besar yang telah melahirkan atlet nasional kenamaan seperti Rudi Hartono, Heryanto Arbi, dan tentu saja Liem Swie King sendiri.

Di suatu titik Guntur pernah merasa frustasi, tetapi di titik lain Guntur menyadari, bahwa ayahnya begitu mencintainya. Dan kedisiplinan yang keras selama bertahun2 itu kini berbuah hasil. Lari mengelilingi desa membuat fisik dan staminanya kuat, squat jump membuat lompatannya tinggi untuk menghasilkan smes yang tajam dan keras. Guntur sadar, ayah dan teman2nya telah bersusah payah membukakan gerbang menuju impiannya. Dan kini tak ada kata mundur, Guntur bertekad untuk tidak menyia2kan usaha mereka, orang2 yang dicintainya, dengan mewujudkan impiannya.

Tak ada yang dapat saya sampaikan untuk mengomentari film yang disutradai oleh debutan Ari Sihasale, selain rasa takjub dan acungan dua jempol. Film ini begitu lengkap, cerita yang sangat menarik dikemas dalam skrip yang ciamik, akting yang jempolan dari Lucky Martin (pemeran Raden) dan Mamiek Pakoso (ayah Guntur), sinematografi yang indah dalam menggambarkan suasana pedesaan yang asri , musik score dan orginal soundtrack yang memukau, dan tentu saja sebagai hiburan tambahan juga diselipkan banyolan2 segar yang membuat penonton tergelak. Semuanya menjadikan film ini begitu apik dan tidak membosankan.

Menyaksikan film ini mengingatkan kita akan kejayaan Indonesia di masa lampau, yang pernah manjadi maestro bulutangkis dan disegani oleh negara2 lain mulai dari Asia hingga Eropa. Sekaligus juga mengingatkan kita, bahwa semuanya itu bukan hanya mimpi, tetapi begitu dekat dengan kenyataan. Dan bukan tidak mungkin, dengan dukungan dari semua pihak, kalau suatu saat nanti supremasi tertinggi itu bisa kita raih kembali.

Jadi tunggu apa lagi? Buat anda yang belum menyaksikan, segeralah saksikan film ini di bioskop selagi masih diputar, karena film ini memang nyaris sempurna. Kalaupun ada kekurangan, paling2 hanyalah tokoh yang diperankan oleh Wulan Guritno yang sepertinya hanya menjadi tempelan saja, apa alasannya ia pindah ke desa juga tidak dijelaskan, seperti sempalan saja untuk memenuhi durasi film. Tetapi hal ini tentu saja tak mengurangi hasrat saya untuk memberikan 5 bintang untuk film yang memukau ini ^_^ Sebuah film tentang cita2, semangat, kerja keras dan persahabatan.

Manusia boleh saja bermimpi, tapi untuk menggapai impian tersebut, diperlukan usaha dan kerja keras. Dan kalau toh segalanya menjadi berat, kita harus ingat, bahwa selalu ada keluarga dan teman2 yang selalu mendukung di belakang kita dan menjadikan segalanya lebih mudah, indah dan bermakna.

Grave of the Fireflies

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Animation
Directed by: Isao Takahata

September 21, 1945.
That was the night I died.

Mengambil seting di Jepang pada penghujung perang dunia kedua, dua orang kakak beradik harus berjuang untuk bertahan dalam kerasnya kehidupan peperangan. Untuk membumihanguskan Kobe, tentara sekutu menjatuhkan lempengan2 berapi dari pesawat tempur mereka. Korban berjatuhan, termasuk seorang anak laki2 bernama Seita dan adik perempuan mungilnya, Setsuko. Dalam 1 hari, mereka kehilangan rumah dan ibu mereka yang meninggal akibat luka bakar. Mereka pun kehilangan kontak dengan sang ayah yang mengabdi menjadi seorang marinir.

Awalnya mereka mengungsi ke rumah tante dari pihak ibu mereka, tapi karena berselisih, akhirnya Seita memutuskan untuk pergi dari situ dan memilih untuk tinggal di dalam bomb shelter yang sudah tidak terpakai. Waktu berlalu, persediaan uang mereka menipis, Setsuko pun terancam malnutrisi, belum lagi karena buruknya sanitasi, penyakit kulit dan diare datang menggerogoti bocah perempuan mungil nan imut tersebut.

Dari awal penonton sudah mengetahui, kalau Seita dan Setsuko gagal untuk bertahan hidup. Maka ceritanya pun menjadi flashback tak berapa lama setelah Seita meninggal dan bergabung dengan Setsuko, mereka menaiki sebuah kereta api dan mengunjungi kehidupan lama mereka, maka kisah mereka pun dimulai. Ceritanya sendiri diangkat dari sebuah novel semi-autobiografi yang ditulis oleh Akiyuki Nosaka yang merasa bersalah akibat kematian adiknya pada perang dunia kedua.

Menyaksikan film ini, penonton bagaikan dibawa menuju kesedihan mendalam yang diakibatkan oleh satu hal, perang. Ya, sampai kapanpun perang tidak akan pernah menyelesaikan masalah, yang ada hanyalah kesedihan dan penderitaan. Maka siapkan tissue yang banyak jika anda memutuskan untuk menonton film ini. Tidak percaya? Tengok saja adegan ketika Seita ketahuan mencuri buah dan sayur, pemilik kebun memukuli dan membawanya ke pos polisi. Seita diseret pergi ke polisi diiringi oleh teriakan lirih dari Setsuko kecil. Perang telah merenggut ibu dari sisinya, dan kini apakah polisi juga harus memisahkan kakak tersayang darinya?

Tapi disitulah memang kelebihan dari film klasik ini, Isao Takahata berhasil menangkap semua emosi dari sang penulis dan menghadirkannya lewat film animasi yang apik ini. Oh ya dalam film ini, Takahata tak hanya menyutradari, tetapi juga menulis skripnya. Mengharukan sekali rasanya melihat betapa sayangnya Seita kepada sang adik. Setsuko, mungil dan kecil yang selalu ada dalam gendongan Seita. Ya, adegan Setsuko saat digendong pada punggung Seita sepertinya menjadi ikon dalam film ini, sebuah kasih sayang tulus dari kakak kepada adiknya.

Sebuah film yang wajib disaksikan, tak hanya tentang perang dan kesedihan, tetapi juga kasih sayang.