Saturday, November 21, 2009

Kantong Ajaib Seperti Milik Doraemon

Ingat tidak salah satu episode di serial tv Doraemon? Pernah diceritakan sang ayah lupa membawa dokumen penting ke kantor. Jadilah sang anak atau istri yang harus repot mengantarkan dokumen penting tersebut ke kantor ayahnya. Cerita seperti ini agaknya pernah berulang beberapa kali dalam cerita Doraemon (atau malah crayon shinchan ya)...

Doraemon sih enak... dia punya kantong ajaib, masalah serumit apapun dia bisa saja mengeluarkan alat2 aneh untuk mengatasi semua masalah yang timbul. Nobita tinggal merengek... tring... keluar deh solusinya.

Hal serupa dialami oleh saya kemarin... Laporan yang sudah saya ketik capek2 eh malah ketinggalan di rumah. Saya baru menyadarinya setelah naik angkot. Oh no... flashdisknya kelupaan tidak saya bawa. Duh apa jadinya... Tapi untungnya saya ingat, saya pun memiliki kantong ajaib, walaupun tidak secanggih milik Doraemon...

Keajaiban itu bernama Internet (ah lagi2 dia) hehehehe...

Langsung saja saya minta tolong pada Papa Dee di rumah untuk mengirimkan laporan setengah jadi yang saya buat kemarin malamnya itu lewat e-mail. Tidak ada masalah, akhirnya saya bisa melanjutkan membuat laporan setibanya di kantor. Fiuh... and the problem's solved...

Saya bersyukur Papa Dee termasuk orang yang melek teknologi, jadi sudah biasa berurusan dengan dunia maya. Saya jadi teringat salah satu film animasi yang rilis baru2 ini, Cloudy with the Chance of Meatballs... Hahaha apa jadinya... kebetulan ayah Flint Lockwood itu gaptek kalau tidak bisa dibilang anti teknologi... Tentu saja beliau kerepotan ketika anaknya minta tolong untuk dikirimi software melalui e-mail.

Yah begitulah... Lagi2, saya terselamatkan oleh Internet
... dan Papa Dee tentunya


Sunday, November 15, 2009

Biarlah Roti yang Berbicara...

Ini hasil jepretan saya ketika tadi sore berbelanja bersama Dee di sebuah gerai roti terkenal di Indonesia

Astaga... Ternyata pengunjungnya tidak hanya saya dan Dee... Masih ada 2 ekor lagi yang sedang santai di sana....


Hmmm yang ini sepertinya lagi asik makan....


Wah... kalau yang ini sepertinya kekenyangan makan, sampai pingsan

Mohon maaf jika sekiranya saya mengurangi selera anda dalam menyantap hidangan, khususnya roti yang pandai berbicara...


Tuesday, November 3, 2009

Komputer, Bakwan, dan....

Apa yang aneh dari gambar berikut ini...???


Kalo komputer dan printer sih, ya wajar lah di setiap kantor pasti ada...

Bakwan? yaaa... itu juga masih normal... Maklum banyak yang belum sempat sarapan dari rumah...

Nah kalo yang ijo2 itu hahaha ini baruuuu RRRUUUAAARRR Biasa hihihihi...

Satu keunikan lagi dari kantor tempat saya bekerja. Yup, hari ini kami panen pete di kantor.

Anda juga mau saya kasih ijo2...?

Sunday, October 11, 2009

Michael Jordan #2 Sang Legenda Bola Basket




Bersama Chicago Bulls, Michael Jordan dan seluruh rekannya berhasil meraih gelar juara pertama NBA mereka dengan susah payah. Tapi pada momen itulah sepertinya terjadi sebuah titik balik. Mereka kesulitan untuk meraih gelar pertama, tetapi setelah berhasil diraih, sepertinya tak ada lagi yang mampu menghalangi jalan mereka menuju gelar juara berikutnya. Tak tanggung2, mereka meraih threepeat. Menjadi juara NBA selama tiga tahun berturut2 adalah suatu prestasi yang amat fenomenal. Dan Michael Jordan pun bangkit menjadi seorang legenda.

 

Tetapi sayangnya, berhasil menjadi juara bersama Chicago Bulls sebanyak 3x tidak membuat MJ menjadi bahagia. Ketenaran dan kekayaan yang berhasil diraihnya tidak berhasil mengisi kekosongan di hatinya. Dia merasa bosan bermain basket. Olahraga yang dahalu amat sangat dicintainya itu kini sudah tidak menantang lagi baginya, tidak ada lagi yang bisa dibuktikan. Dalam kegalauan hatinya, ia pun berkonsultasi dengan sang ayah tercinta, mencurahkan segenap gundah di hatinya.

 

“Cobalah hal yang baru, baseball, mungkin?”

 

Rupanya itu nasihat terakhir yang diterima MJ dari sang ayah, tak lama, terjadilah hal tragis itu. Sang ayah tewas mengenaskan, menjadi korban pembunuhan. MJ yang sedang goyah hatinya, kini makin makin mantap untuk menjalankan nasihat terakhir dari sang ayah. Hijrah dari bola basket dan beralih menjadi pemain baseball. Dan dunia pun menertawakannya. Tentu saja kemampuan MJ bermain baseball masih sangat jauh dari kualitas seorang bintang. Tapi toh ia tak mau menyerah begitu saja. Ia selalu berlatih baseball lebih lama daripada pemain lainnya, berusaha untuk beradaptasi dan meningkatkan performa permainannya.

 

Tetapi apapun yang terjadi, Michael Jordan memang tercipta untuk bermain basket. Baru setahun ia meninggalkan dunia yang dicintainya itu, kerinduan akan kepiawaiannya memasukkan bola ke dalam keranjang menyerangnya tanpa ampun. Dan sang bintang itu pun kembali, tidak dengan hati yang kosong, melainkan dengan semangat yang meletup2 untuk membawa kembali timnya, Chcago Bulls menuju puncak papan atas tim bola basket NBA. Sebuah tim yang selalu membuka pintu untuknya, kapan saja MJ siap untuk kembali.

 

Kembali dengan nomer 45, Jordan langsung menghentak dan berhasil membawa timnya menuju babak playoffs. Tapi malang tak dapat ditolak, cuti setahun yang diambilnya ternyata berdampak buruk. Bulls tak kuasa menahan terjangan Orlando Magic yang berisikan pemain2 muda penuh semangat juang yang tinggi. Bahkan beralihnya MJ ke nomer seragam 23 pun, tetap membuat Bulls takluk di tangan Shaquile O’Neal dkk. Terbukti nomer keberuntungan takkan sanggup mengantarkan MJ dan timnya meraih supremasi tertinggi. Bukan nomer, bukan pula sepatu mahal. Terbukti, hanya kerja keras dan semangat pantang menyerah yang bisa membawa mereka menjadi juara.

 

Kekalahan itu memang sangat menyakitkan. Seluruh dunia pun berseru, Michael Jordan sudah habis dan kehebatannya tinggal kenangan. Dan lucunya, saya pun, dengan berat hati mengakui, termasuk yang percaya dengan hal itu. Era MJ sudah berakhir, sudah waktunya digusur oleh pemain2 mudah penuh harapan lainnya.

 

Tetapi bukan MJ namanya kalau menyerah begitu saja. Seusai kakalahan yang tragis dari Orlando Magic, ia kembali berlatih dengan keras untuk mengembalikan performanya. Walaupun tak bisa kembali ke asal tentunya, karena bagaimanapun juga, usia turut mempengaruhi kemampuan fisiknya.

 

Tapi toh kerja kerasnya selama musim liburan itu telah membawa hasil yang memuaskan. Karena di tahun berikutnya ia berhasil membawa timnya untuk menjadi juara NBA yang keempat kalinya. Tak puas hanya sampai di situ, MJ lagi2 kembali berhasil membawa Bulls meraih gelar juara NBA selama 3 tahun berturut2. Double Threepeat istilahnya, walapun threepeatnya kali ini tak semudah kali pertamanya. Tapi yang lebih dramatisnya, tembakan terakhir yang dilakukan Jordan ke jaring lawan menjadi angka terakhir yang menentukan guna membawa Bulls menghempaskan Utah Jazz untuk menjadi juara NBA yang keenam kalinya sebelum MJ pensiun.

 

Ya itulah Michael Jordan, bersamanya Bulls berhasil meraih enam kali juara NBA. Suatu prestasi yang sangat fantastis. Sebuah pencapaian yang hanya bisa diraih oleh bakat, kemauan untuk mengasahnya, determinasi tinggi dan tentu saja…

 

Kerja Keras.

Michael Jordan #1 Awal Sebuah Kebangkitan



Tahun ini, tepat 10 tahun yang lalu, sang maestro bola basket yang tak lain dan tak bukan adalah seorang Michael Jordan sendiri, secara resmi mengundurkan diri dari dunia perbolabasketan (atau yang di Amerika lebih dikenal dengan NBA, National Basketball Association). Di jamannya dahulu, mulai dari era 80-90an, siapa sih yang tak kenal MJ? Mulai dari anak2 hingga orang dewasa pasti mengidolakan beliau. Dunia pun diserang wabah demam bola basket dan NBA, semua orang ingin menjadi Jordan. Ya slogan itu, I wanna be like Mike.

Entah kenapa, tiba2 kemarin saya jadi teringat dengan MJ. Tiba2 saya ingin sekali menyaksikan aksinya  bermain bola basket. Agak sulit memang, kalau saja tidak ada internet hehehe untunglah sekarang keadaannya berbeda, tinggal cari2 di internet, download, dan saksikan… Itu sudah ^_^ Mau melihat slam dunk kontes MJ Vs Dominiq Wilkins? Hmm ini yang sulit, gagal saya menemukannya. Tapi coba lihat di youtube, wah ternyata ada, cukup lumayan pula kualitasnya. Tanpa ragu Orbit Downloader pun saya gunakan. Tak berapa lama video di Youtube itu pun sudah bersemayam di hardisk saya.

Oops jadi ngelantur, kembali ke MJ. Setelah menyaksikan 2 film dokumenter MJ (hasil illegal download tentunya) itulah akhirnya saya lebih mengenal beliau. Dahulu, ketika saya masih sekolah dan kuliah, yang saya tahu hanyalah kehebatan MJ dalam bermain basket. Berhasil membawa timnya, Chicago Bulls 6 x meraih gelar juara NBA. Yang saya tahu dulu, MJ adalah seorang manusia super yang tak terkalahkan, anak ajaib yang hanya dilahirkan 1x dalam 1000 tahun. Lompatannya yang sangat tinggi di atas rata2 manusia biasa, membuatnya dijuluki Michael Air Jordan. Siapa saja pasti terkesima jika melihat slam dunk fenomenalnya yang dilakukan dari garis free throw.

Tapi ternyata, di balik semua itu, MJ hanyalah seorang manusia biasa. Lahir dari keluarga biasa pula. Seorang anak yang hobi bermain basket di lapangan dekat rumahnya bersama sang kakak. Apakah waktu kecil MJ sudah jenius dalam bermain basket? Aha, ternyata tidak. Kala itu, MJ selalu kalah bila bertanding melawan kakaknya. Tetapi justru semua kekalahan itu yang memicu semangat MJ untuk terus berlatih da berlatih. Hingga akhirnya dia berhasil membawa kampusnya menjadi juara NCAA (liga basket universitas).

Singkat cerita, setelah 2x membawa kampusnya menjadi juara, MJ memutuskan untuk melangkah ke jenjang profesional dan direkrut oleh sebuah tim NBA, Chicago Bulls. Nama Jordan langsung melambung tinggi. Dia adalah seorang pemain yang lengkap, sangat bagus dalam bermain bertahan dan apalagi menyerang. Dia tak hanya piawai dalam mencetak poin melalui shooting, slam dunk maupun lay-up shoot. Tetapi juga ulet dalam menjaga pertahanan, cukup banyak steal, block, maupun rebound yang dikumpulkannya.

 

Tapi tetap, MJ adalah seorang manusia biasa, walaupun tak ada seorangpun yang meragukan kemampuan individunya, masih ada satu hal yang mengganjal. Dia belum berhasil membawa timnya menjadi juara NBA, belum ada cincin juara yang melingkar di jarinya. Langkahnya selalu terhenti di final wilayah timur. Ketika Detroit Pistons harus berhadapan dengan Chicago Bulls di final playoffs wilayah timur, mereka dengan entengnya sesumbar

 

“Tidak ada yang tidak mungkin, kami bisa kok menghentikan seorang MJ”

 

Begitu kira2 ucapan mereka. Dan akhirnya Pistons memang bisa membuktikan ucapan mereka, MJ diberikan penjagaan khusus untuk mematikan ruang geraknya. Lagi2 Bulls gagal, jangankan meraih juara NBA, juara wilayah timur saja gagal mereka raih. Kekalahan 3 tahun berturut2 di final wilayah timur melawan Detroit Pistons tentu saja membuat MJ frustasi. Impian Bulls untuk bisa berlaga di final NBA lagi2 kandas di tangan Isiah Thomas dkk.

 

Musim berganti, semua kekalahan menyakitkan yang dialami oleh Bulls akhirnya cukup membuat MJ tersadar, untuk meraih gelar juara, seorang MJ takkan pernah cukup. Untuk melawan tim hebat yang lolos ke babak playoffs memang diperlukan kerja sama tim yang kompak. Saat inilah kebangkitan MJ menuju kedewasaan dimulai. Dari seorang dengan kemampuan inidvidu yang brilian, ia bertransformasi menjadi seorang pemimpin yang mumpuni. Dia mengesampingkan semua ego masa kanak2nya dan mulai membangun kerjasama dengan timnya. Toh di Bulls tidak hanya ada Jordan, masih ada Scottie Pippen, Horace Grant dan lainnya.

 

Dan lagi2 Bulls bertemu dengan Pistons di final wilayah timur. Tapi kali ini tentu saja sudah berbeda, Jordan hanya tersenyum ketika diberi pengawalan khusus, karena itu berarti dia bisa leluasa memberikan assist kepada rekan2 satu timnya untuk mencetak angka. Dan tentu saja semua orang tahu, jika suatu tim memberikan pengawalan khusus kepada satu pemain, harus ada yang dikorbankan, pemain lain menjadi lebih leluasa mencetak angka. Pistons terperangah dengan perubahan gaya permainan Bulls dan tak ayal lagi, mereka takluk (kalau tidak bisa dibilang dibantai) oleh keperkasaan Chicago Bulls.

 

Saat Bulls berhasil mengalahkan Pistons itulah lembaran baru dimulai, mereka, bersama sang kapten, Michael Jordan, telah menjadi tim yang sangat solid dan sukar untuk dikalahkan. Bahkan LA Laker dengan Magic Johnsonnya pun tak kuasa untuk membendung laju the new emerging forces ini. Bulls pun meraih gelar juara NBA untuk pertama kalinya.

Wednesday, August 5, 2009

My Neighbors The Yamadas (1999)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
Directed by: Isao Takahata

Pertama saya melihat cuplikan gambar dari film yang diadaptasi dari manga ini… Astaga hancur sekali, gambarnya bahkan lebih buruk dari animasi Crayon Shinchan hahaha seperti layaknya gambar sketsa storyboard yang diberi warna tipis sekedarnya saja. Tapi tak urung saya bertekad untung mendownloadnya. Nama besar Studio Ghibli dan Isao Takahata menjadi taruhannya. Sekedar info, ini adalah film pertama Ghibli yang murni dikerjakan secara digital.

Dan benar saja, film ini memang tidak menjadikan kualitas animasi sebagai nilai jualnya, tetapi justru pada inti ceritanya yang amat menarik. Film yang berdurasi sekitar 100 menit ini merupakan gabungan dari beberapa kisah pendek yang menceritakan keseharian keluarga Yamada yang terdiri dari bapak, ibu, 2 orang anak dan seorang nenek yang tinggal bersama dalam 1 rumah. Kisah2nya sangat lucu dan mengocok perut penonton. Beberapa kali kekonyolan mereka membuat saya terbahak2. Beberapa kali kisah2 mereka membuat saya terharu. Dan beberapa kali pula ucapan mereka membuat saya merenungi hidup ini.

Kisah keluarga Yamada ini begitu simpel menceritakan tentang kehidupan perkawinan yang tidak simpel. Kisah yang begitu membumi dan pastinya banyak juga dialami oleh keluarga di mana pun. Film ini berhasil mengcapture kejadian2 nyata yang kerap terjadi dalam kehidupan berumah tangga dan memolesnya dengan sentuhan komedi yang menawan. Menertawakan keluarga Yamada ini rasanya seperti menertawakan diri kita sendiri.

Sebuah sajian yang sangat sayang untuk dilewatkan bagi mereka yang telah maupun akan berumah tangga. Keluarga Yamada ini memang bukan keluarga yang sempurna, jauh dari sempurna, mereka konyol dan nyeleneh. Kita boleh saja menertawakan mereka, tetapi justru keluarga seperti inilah yang biasanya awet bertahan sampai akhir masa. Keluarga Yamada tidak hanya membuat kita tertawa, tetapi juga sekaligus memberikan pelajaran yang amat berharga untuk kita renungkan.

Porco Rosso (1992)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Directed by: Hayao Miyazaki

”I’m a pig. I don’t fight for honor, I fight for PAYCHECK”

Bersetting paska Perang Dunia I, Porco Rosso adalah seorang pilot yang karena suatu sebab, disersi dari angkatan udara Italia. Menjadi pahlawan pada PD I, lantas kemudian memilih menjalani hidup sebagai bounty hunter yang memerangi para pembajak di udara. Dengan sea plane merah bututnya, nama Porco Rosso menjadi amat terkenal dan disegani lawan2nya. Menjadi pahlawan di perairan Adriatic, tetapi menjadi buronan di negaranya sendiri, ironis.

Film Miyazaki kali ini menurut saya adalah film paling realis (kecuali bentuk fisik tokoh utama, tentunya) dari semua film Miyazaki yang pernah saya saksikan. Tak ada sihir, makhluk gaib maupun keajaiban yang tidak manusiawi di sini. Dalam film ini, Miyazaki benar2 mengekplorasi segala hal yang berhubungan dengan pesawat dan penerbangan. Beberapa adegan action yang sangat seru ditawarkan dalam ini, plane chasing yang seru dan dogfight yang memukau tentu saja tak luput dihadirkan.

Seperti biasa, walaupun ini film action, tentu saja Miyazaki tak lupa untuk menyematkan drama dan sedikit kisah percintaan di dalamnya. Impian Gina untuk bisa hidup bersama Porco yang sepertinya mustahil untuk terwujud. Porco yang tak pernah lupa mendatangi klab malam milik wanita cantik tersebut karena suatu alasan sentimentil yang cukup mengharukan dan membawa kita kepada alasan Porco untuk hengkang dari AU Italia.

Tapi bagian favorit saya adalah ketika Porco memperbaiki pesawatnya di Milan. Apalagi yang mendesain ulang pesawat milik Porco ini adalah gadis muda belia yang sangat berapi2. Fio Picollo, gadis muda berusia 17 tahun tetapi begitu menguasai tentang mesin pesawat dan aerodinamika. Hmm untunglah kejadiannya berlangsung pada tahun 1920an, entahlah, tetapi menurut saya propeller engine biasa itu walaupun sangat konvensional, tetapi rasanya kok ya lebih elegan ^_^

Menarik melihat bagaimana Fio yang semula dianggap remeh oleh Porco itu akhirnya malah membuat Porco terkagum2 dengan sedikit modifikasi yang dibuatnya. Bagaimana tidak, hal tersebut membuatnya lolos dari kejaran polisi Milan dan berhasil melakukan lepas landas yang mendebarkan dari sungai di Milan. Ow kereeeen… Menurut saya inilah scene yang paling menarik, lebih seru bahkan, daripada dogfight terakhirnya dengan rival beratnya dari Amerika, Donald Curtis.

Sebuah film dari Miyazaki, yang murni tentang pesawat dan penerbangan (and hell yeaaahhh, it’s good).