Thursday, July 31, 2008

Be Kind Rewind

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
Directed by: Michel Gondry

Tahu film ini dari trailer yang ada di dvd bajakan yang saya beli beberapa waktu yang lalu hehehe hmm kok kayaknya lucu. Kemarin ketika sedang cari2 film di gerai dvd bajakan dekat rumah ternyata film ini sudah nangkring di sana. Tanpa pikir panjang langsung saya sambar, walaupun sepertinya judul ini tak terdengar gaungnya di Indonesia. Tapi karena pemainnya adalah Jack Black dan Mos Def, wah saya pikir ini bakalan jadi film yang bagus, apalagi trailer juga terlihat sangat menggelitik.

Suatu hari Mr. Fletcher (Danny Glover) dipanggil oleh pemerintah daerah Passaic, New Jersey, perkaranya gedung rental video yang saat ini ditempatinya akan direnovasi karena dianggap sudah tidak layak dengan kemajuan daerah tersebut. Mr. Fketcher diberi 2 opsi. Merenovasi bangunan dengan biaya sendiri atau pindah ke tempat yang telah disediakan pemda setempat. Masalahnya gedung itu adalah tempat yang sangat bersejarah bagi penduduk Passaic, konon kabarnya di gedung itulah sang maestro jazz Fats Waller Lahir.

Maka Mr. Fletcher pun memulai perjalanan untuk mencari inspirasi agar mendapatkan dana segar untuk merenovasi gedungnya. Tugas menjaga rental video diserahkan kepada Mike (Mos Def). Malangnya, Jerry (Jack Black) seorang teman Mike yang karena suatu “kecelakaan”, memiliki tubuh elektromagnetik dan menghapus semua film di video rental milik Mr. Fletcher. Maka dengan bermodal camcorder jadul, mereka berusaha membuat film sendiri sesuai dengan judul2 koleksi video yang terhapus tersebut.

And they… SELLLLL….!!!! Film2 tersebut tanpa disangka malah laku keras. Tapi di saat mereka sukses mengisi pundi2 dollar hasil dari menyewakan film2 versi mereka itu, masalah baru pun muncul. Sanggupkah mereka menyelematkan gedung bersejarah milik Mr. Fletcher?

Film yang dirilis Februari 2008 oleh New Line Cinema ini, walaupun mungkin luput dari pengamatan kita, tapi sungguh film ini layak tonton karena sangat menghibur. Cerita tentang perjuangan mempertahankan sesuatu yang bersejarah memang hal yang biasa. Tapi Be Kind Rewind mengemasnya dengan unik dan cukup orisinil. Belum lagi tingkah Jack Black dan Mos Def yang sangat lucu membuat saya beberapa kali terpingkal2. Komedinya segar, coba lihat bagaimana 2 film maker tersebut membuat visual efek seadanya untuk menandingi film aslinya, duh lucunya hahaha…

Memang sih kalau dipikir jalan ceritanya agak maksa, siapa juga yang mau membayar mahal untuk menyewa film super duper ancur yang mereka buat ala kadarnya tersebut? Tapi hey, ini kan cuma film komedi, rasanya semua sah2 saja. Yang perlu mendapat poin bagus dalam film ini selain cerita dan akting para pemainnya adalah endingnya. Ya endingnya dibuat dengan sangat elegan, menguras emosi dan dieksekusi dengan sangat baik. Memang dibuat agak menggantung, tapi di situlah seninya. Film ini tidak hanya menawarkan mimpi semata, tapi memang begitulah kenyataan yang harus kita hadapi dalam menghadapi perkembangan jaman.

Kadang perjuangan keras yang kita kerjakan memang tidak mendapat hasil yang setimpal, tapi paling tidak kita masih bisa tersenyum karena telah memberikan yang terbaik untuk sesuatu yang patut diperjuangkan.

Oia jika anda ingin melihat film2 yang dibuat oleh Jerry dan Mike coba saja klik websitenya

Mission Accomplished

Kemarin rencana gila2an itu akhirnya terlaksana juga. Setelah nonton Hancock hari sabtu, Minggunya langsung dilanjutkan nonton The Dark Knight. Agak bingung juga dengan blog yang ditulis oleh seorang teman. Karena ketika saya tiba di bioskop, sama sekali tidak ada tulisan Batman di sana. Semua judulnya The Dark Knight, termasuk yang tercantum di tiket masuknya. Jadi heran, teman saya itu nonton di bioskop mana ya? Hahaha kok bisa2nya di tiket masuk bioskopnya tercantum judul Batman?

Monday, July 28, 2008

The Dark Knight

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Directed by: Christipher Nolan

Setelah kemarin terpuaskan oleh Batman Begins, sekali lagi DC akhirnya menancapkan cakarnya di dunia perfilman internasional. The Dark Knight adalah sebuah masterpiece, terima kasih kepada Warner Bross yang memberikan kebebasan kepada Christopher Nolan, yang tidak hanya duduk di kursi sutradara, tetapi juga sebagai produser, penulis cerita dan penulis skrip sekaligus. Salut buat Nolan yang mampu menghadirkan Batman dengan image yang baru, kelam dan mencekam.

Gotham City meradang, kriminalitas terjadi di mana2, Batman (Christian Bale) pun sibuk beraksi menghadang para gerombolan mafia. Dibantu Letnan Polisi James Gordon (Gary Oldman) dan Jaksa wilayah Harvey Dent (Aaron Eckhart), penjara Gotham pun penuh sesak dengan para kriminal. Sampai suatu hari, datanglah Joker (Heath Ledger), sang psikopat yang ditakuti para penegak hukum manapun. Dia membunuh tanpa perlu alasan, menghancurkan kota tanpa motif yang jelas. Kesenangan pribadi, kegilaan yang tak terukur dan kesukaannya akan kekacauan umat manusia menjadi motif utama. Dan dia bertekad untuk merubah semua orang untuk menjadi seperti dirinya. Gawatnya lagi, Joker adalah seorang perancang rencana yang brilian, semua aksinya telah diperhitungkan masak2 dan dijalankan dengan sangat rapi. Tak pelak lagi, hal ini membuat Batman dan Gordon menjadi salah langkah dan berkali2 gagal menjinakkannya.

Menyaksikan The Dark Knight (TDK) tidak seperti menyaksikan film superhero pada umumnya. Kejar2an antara Batman dan Joker yang dipadukan dengan adu pintar dalam menyusun strategi mengingatkan saya akan film Bourne Ultimatum, begitu cepat, pandai dan intens. Aksi kebut2an dan tabrak2an di jalan raya memang digarap secara aduhai. Kalau anda mengaharapkan aksi spektakuler, anda tidak akan dikecewakan oleh TDK ini.

Dari segi certita, sepertinya Nolan menjadi lebih santai sekarang. Maksud saya, Batman Begins yang notabene merupakan versi Reboot dari film sebelumnya, membuat Nolan harus kembali ke awal lagi menceritakan latar belakang si manusia kelelawar ini. Berbeda dengan sekuelnya, dalam TDK, Nolan tidak perlu repot2 berbasa-basi lagi, lansung tancap gas dari awal, straight to the point. Yang akhirnya menjadikan film ini lebih padat dan memacu adrenalin. Alhasil film yang durasinya mencapai 2,5jam, menjadi tak terasa sampai akhirnya credit tittle bergulir.

Oke, siapa pun pasti tahu, kalau yang membangun pondasi kengerian dalam film ini adalah keberhasilan Ledger dalam memerankan tokoh Joker. Ledger secara sempurna menjelma menjadi Joker yang psikopatik. Entah apakah ini juga yang menyebabkan kematiannya Januari 2008 lalu. Seorang aktor yang berhasil masuk 100% ke dalam perannya kadang memang sulit untuk “kembali” lagi ke dunia nyata. Sementara peran Bruce Wayne di sini masih tetap seperti biasanya, calm, cool and confident… Halah apaan sih Sky hehehe…

The Dark Knight memang film yang lengkap, ada aksi yang memukau, drama percintaan, sapuan komedi untuk sekadar refreshing dan thriller yang mencekam. Dan Nolan berhasil mengangkat Batman dari sekedar film superhero biasa, ke dalam level yang lebih berkelas. Maaf, tapi untuk saya, The Dark Knight bukanlah film superhero. Dan saya rasa ini tidak berlebihan, mengingat Batman memang tidak mempunyai kekuatan super seperti halnya superhero lainnya.

Sepotong Kisah Menjelang Malam

Sore itu menjelang magrib

Ketika kulangkahkan kaki letihku di perkampungan itu

Rumah petak berjejer di tepi jalan kecil nan sempit

Rumah petak itu terlihat kumuh

Begitu banyak barang

Begitu sempit ruang tuk menampung

Ah sesak rasanya…

 

Lalu suara itu terdengar

 

Lirih dan kecil… melantunkan sesuatu…

Kemudian menjadi jernih dan jelas

Tak salah lagi, Itu adalah sastra

Hasil Mahakarya sang Pencipta

Bagitu indah dan menyejukkan hati

 

Mereka Benar…

 

Bahkan suara terindah pun

Bisa keluar dari sepetak rumah kumuh

Yang membuatku sekali lagi berpikir sejenak

Merenungkan arti hidup ini

Hancock

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Directed by: Peter Berg

Wah tahun ini, ternyata juga menjadi tahun yang menarik buat para moviegoers seperti saya. Setelah kemarin disuguhi aksi kocak Kungfu Panda. Sekarang giliran Will Smith yang menghibur lewat aksi superheronya yang kocak dalam Hancock. Seperti yang kita tahu, Will Smith memang tidak pernah gagal dalam mencetak box-office dalam setiap film yang diperankannya. Baik itu film aksi, komedi, maupun drama. Kali ini dia kembali lagi ke jalur action comedy lewat perannya sebagai superhero yang membumi dan sangat manusiawi (di luar kekuatan supernya tentu).

Hancock (Will Smith) adalah seorang superhero, tetapi berbeda dengan superhero lainnya, Hancock tidak menjadi idola masyarakat, justru ia sering dikecam karena merugikan masayarakat. Aksinya menghentikan para penjahat di jalan tol, malah merusak fasilitas umum dan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi negara. Ditambah lagi dengan kebiasaan buruknya yang gemar mabuk2an dan temperamental, jadilah Hancock semakin dibenci oleh masyarakat.

Sampai kemudian Hancock berkenalan dengan Ray Embrey (Jason Bateman). Seorang konsultan di bidang pembentukan brand & image yang secara dramatis diselamatkan oleh Hancock. Maka Hancock pun setuju untuk di”garap” oleh Ray, meskipun istri Ray, Mary (Charlize Theron) yang jutek tidak menyetujui hal ini. Maka kursus kepribadian pun dimulai agar Hancock bisa lebih disukai masyarakat. Tak lupa Ray pun mendesain kostum khusus ala Wolverine untuk Hancock dalam menjalani aksinya menggebuk para penjahat di kota.

Sampai akhirnya Hancock berhasil mengungkap latar belakang kehidupannya yang kelam dari Mary Embrey.

Film yang disutradarai oleh Peter Berg yang sangat menghindari efek visual khusus dengan bantuan komputer ini memang sangat menghibur. Saya malah tidak menyadari kalau film ini minimalis dalam hal CGI, karena terbawa oleh suasana seru dan lucunya film ini. Berg memang memangkas habis adegan berkelahi yang mengharuskan pemakain CGI dalam film Hancock ini. Tapi toh adegan seru nan memukau tetap banyak menghiasi film ini.

Terlepas dari buruknya penilaian kritikus terhadap film ini, saya tetap merekomendasikan film ini untuk disaksikan bersama keluarga. Oke, film ini memang tidak terlalu spesial, tapi juga tidak buruk, sangat menghibur malah. Bahkan kejadian di Bourne Supremacy dan Utimatum juga terulang, saking menikmati film ini, saya tidak menyadari kalo adegan di film ini diambil dengan handheld camera dan menghasilkan gambar yang shaky. Kualitas akting Smith juga rasanya tidak perlu dipertanyakan lagi. Humor2 segar yang dilontarkan juga dapat membuat kita tertawa atau minimal tersenyum.

Lupakan alur ceritanya yang kurang sempurna, mari kita berkenalan dengan Hancock, si superhero yang kesepian, membumi dan manusiawi.

Friday, July 25, 2008

Rencana Gila-Gilaan

Sudah agak lama juga saya dan istri tidak nonton film di bioskop. Sampai2 saya sempat lupa ketika ditanyakan film apa yang terakhir saya lihat di 21. Setelah agak lama berpikir, barulah saya ingat bahwa Indiana Jones and the Kingdom of Crystal Skull itulah jawabannya. Makanya besok, tepatnya 2 hari ke depan, saya punya rencana gila2an dengan Dee yang sekarang lagi ngambek gara2 ditinggal 3 hari 2 malam oleh suaminya hehe..

 

Memang apa sih rencana gila2an itu? Yah, sebenarnya biasa aja sih. Rencananya besok weekend saya mau refreshing sehabis lelah melototin, nyocokin, dan nyusun angka2 buat laporan. Refreshing yang murah2 aja, kami kepingin nonton. Jadi jika tidak ada halangan hari Sabtu kami akan nonton Hancock dan dilanjutkan hari Minggunya nonton The Dark Knight. Fiuh… mudah2an sukses deh acara yang udah direncanain dari kemarin.

 

Dengan bekal situs resmi bioskop 21, kemarin saya sibuk mencari tempat yang paling ideal untuk nonton kedua film tersebut, dan akhirnya dapat. Hore, senangnya hatiku…

 

                              

 

 

 

Nah, selamat menikmati weekend, semuanya..!!! Have Fun

 

 

 

 

 

 

 

Thumbsucker

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Directed by: Mike Mills

Film produksi Sony Pictures Classics ini sebenarnya merupakan film keluaran tahun 2005 yang dirilis terbatas di bioskop Amerika, tapi kebetulan saya baru mengetahui tentang film ini dari majalah film yang biasa saya beli. Kebetulannya lagi, dvdnya juga beredar banyak di pasaran, dengan sistem penjualan royalti putus, alhasil dvdnya pun nangkring di rak2 toko dengan bandrol yang sangat terjangkau, 15.900 sekeping (dengan casing). Thumbsucker jelas film festival, hal ini dapat dilihat dari cover depan dvdnya yang penuh dengan simbol penghargaan dan nominasi yang diperoleh dari beberapa jenis festival film.

Ceritanya berkisah tentang anak sulung keluarga Cobb yang bernama Justin (Lou Taylor Pucci). Di usianya yang menginjak 17 tahun, Justin masih kesulitan menghilangkan kebiasaannya menghisap jempol. Hal ini tak hanya mengganggu kehidupannya sendiri dan tapi juga mencemaskan sang ayah (Vincent D’Onofrio) , seorang mantan pemain football perfeksionis yang berhenti karena cedera lutut dan kini menjadi seorang pekerja kantoran. Ibunya (Tilda Swinton) adalah seorang suster yang terobsesi dengan seorang aktor sinetron. Salah satu cara yang ditempuh untuk menghilangkan kebiasaan menghisap jempolnya adalah dengan diterapi secara hipnosis oleh dokter giginya (Keanu Reeves).

Justin juga mengalami masalah dengan klub debat yang diikutinya. Dalam bimbingan Mr. Geary (Vince Vaughn), Justin selalu gagal untuk fokus dan berkonsentrasi bila harus maju mempresentasikan tulisannya. Sampai akhirnya ia didiagnosa ADHD (Attention-Deficit Hiperactivity Disorder) dan diberi Ritalin sebagai obatnya, yang ternyata manjur dan membuatnya fokus, konsentrasi, dan percaya diri untuk membawa Justin ke pertandingan debat tingkat nasional. Sampai akhirnya ia mendapat informasi bahwa Ritalin itu tidak beda jauh dengan kokain dan memutuskan untuk berhenti mengkonsumsinya.

Thumbsucker adalah film yang menurut saya agak sulit untuk dibuatkan sinopsisnya. Ceritanya tentang seorang anak remaja yang memiliki berbagai macam masalah khusus dalam mengejar cita2nya. Tapi di luar itu, kisah sub-plotnya mengenai seputar permasalahan keluarga juga cukup banyak dan menarik untuk diikuti. Memang masalah yang diangkat di sini tidak seberat di American Beauty, jadi kita bisa agak santai mengikutinya tanpa harus me’nyureng’kan jidat untuk mengikuti kisah yang cukup mencerahkan ini.

Saya tidak mengenal siapa itu Lou Taylor Pucci, tapi aktingnya di sini patut diberi acungan jempol, apalagi wajah Lou yang nerdy juga mendukung peran Justin. Begitu pula Tilda Swinton dengan peran susternya yang sangat keibuan. Kekurangan film ini mungkin sama seperti tokoh Justin, tidak fokus, terlalu banyak yang ingin dikisahkan dalam durasi 1,5 jam. Lihat saja betapa singkat Justin melepaskan diri dari ritalin, tiap masalah terasa berkejaran diburu waktu 90 menit. Tapi secara keseluruhan, film ini memang menarik untuk disaksikan, ah film2 festival seperti ini memang nyaman untuk diikuti.

Tiap remaja memang tak luput dari masalah, tapi semuanya berpulang pada pribadi masing2, tentu saja dukungan dari keluarga dan lingkungan juga sangat berperan dalam membentuk kepribadian dan keberhasilan sang anak.