Wednesday, November 5, 2008

SMS Malam Pertama

Tadi pagi di mikrolet saya tersenyum2 sendiri… Apa pasal? Saya iseng cek e-mail di Hape. Lalu membaca guyonan yang dikirim Mahesa ini…

 

Alkisah ada 3 orang saudara, sebut saja mereka Vira, Voni, dan Veni yang dinikahkan secara masal oleh orangtuanya. Setelah itu mereka pergi berbulan madu bersamaan. Kalau Vira pergi ke Pulau Batam, Voni pergi Ke Kepulauan Seribu dan Veni si bungsu pergi ke Bali . Namanya orang Tua sayang sama anak, selama mereka berbulan madu kedua Orang Tua mereka minta dikirim kabar tentang segala yang terjadi selama mereka berbulan madu.

 

Tapi agar berita yang dikirim singkat dan tidak terlalu Vulgar, mereka menggunakan Kode/Sandi tentang moto-moto (tagline –sky) Iklan. Supaya praktis dan murah, berita dikirim lewat SMS. 3 hari setelah kepergian anak mereka berbulan madu, diterimalah sebuah SMS... yang rupanya dari VIRA di Pulau Batam. Isi beritanya cukup sederhana, “STANDARD CHARTERED”.

 

Setelah membaca berita tersebut mereka mencari Iklan Standard Chartered di koran dan terbacalah tulisan besar berbunyi, “BESAR, KUAT dan BERSAHABAT!” Tersenyumlah kedua orang tua mereka membaca berita dari Vira. Hari ke 4 datang SMS kedua, yang rupanya berasal dari Voni di Kepulauan Seribu. Isi beritanya juga cukup singkat yaitu, “NESCAFE”.

 

Setelah membaca surat tersebut, dengan tergesa-gesa kedua orang tua mereka mencari koran dan membaca Iklan NESCAFE yang berbunyi, “NIKMATNYA SAMPAI TETES TERAKHIR”. Maka kedua orang tua mereka pun tersenyum bahagia sambil sedikit haha.. hihi..

 

Hari ke 5 ditunggu tidak ada berita/SMS yang datang. Hari ke 6 begitu pula tidak ada sebuah SMS pun. Hari ke 7 begitu pula tidak ada kabar dari anak bungsu mereka si Veni yang berbulan Madu... Memasuki hari ke 8... akhirnya kedua orangtua mereka menerima SMS juga dari Veni yang berbulan madu di Bali dan isi beritanya cukup singkat, “CATHAY PASIFIC”.

 

Segera kedua orang tua mereka mencari Iklan penerbangan Cathay Pasific yang ada dikoran, dan dijumpailah iklan penerbangan dengan tulisan besar: “7 KALI SEMINGGU, 3 KALI SEHARI, 5 JAM NON-STOP”.

Monalisa

Alkisah Paman saya beserta seluruh keluarganya berkesempatan untuk liburan ke Eropa. Salah satu negara yang dikunjungi tentu saja Perancis. Lalu berkunjunglah mereka ke museum Louvre yang fenomenal itu. Saat itu ruangan yang paling ramai dikunjungi adalah, tentu saja ruangan tempat di mana lukisan Monalisa dipajang…

 

Salle des États

 

Tergantung dengan sangat elegan di sana, di dalam sebuah kaca anti peluru dengan suhu dan kelembaban udara yang diatur dan terkontrol setiap saat.

Mengantrilah paman saya beserta istri dan anak2nya… Setelah sekiaaaaan lama mengantri, akhirnya sampailaih mereka, berdiri, di hadapan maha karya sang maestro Leonardo da Vinci itu…

.

.

.

Hening sejenak

.

.

.

Tak lama anak tengah mereka yang masih duduk di bangku 3 SMP pun berkomentar…

 

“Yah papa, cuma ngeliat lukisan ini aja kok pake capek2 ngantri segala sih? Di rumah uwak Pondok Kelapa kan juga ada…?!”

 

LOLZ….!!!!

Monday, November 3, 2008

A Tribute to My Father

Tepat 2 minggu lalu saya kehilangan seseorang yang saya cintai. Bapak. Beliau memang sudah terdeteksi suatu penyakit pada akhir tahun 2007 kemarin. Saya sendiri agak kaget ketika bapak masih bisa berdiri menyambut para tamu saat pernikahan kami di awal tahun 2008. Memang secara medis bapak harus menjalani operasi kala itu, tapi seperti yang saya duga, bapak menolak.

 

Mungkin bapak masih bersama kami kalau beliau memutuskan untuk menjalani operasi. Ah, tapi sudahlah, garis takdir bapak memang sudah seperti ini adanya. Toh kemungkinan itu bagai 2 sisi mata uang. Kalau misalnya operasi tersebut gagal, bapak bahkan mungkin tidak bisa menghadiri pernikahan saya dengan dee.


Kenangan saya bersama bapak memang cukup dalam, sebenarnya saya terlalu sedih untuk dapat menulis tentang bapak. Itulah mengapa saya terus menunda untuk mengetik tulisan ini. Tapi saya bertekad untuk menyelesaikan tulisan ini, betapapun sulitnya menahan emosi saya dalam setiap kata yang terlontar dari pikiran saya. Ya, saya harus menyelesaikannya. Paling tidak, hanya inilah yang bisa saya lakukan untuk bapak di Multiply.


Hubungan saya dengan bapak memang cukup dekat layaknya seorang teman. Sampai saat ini saya masih bisa mengingat kala Bapak mengajarkan saya sholat untuk kemudian menjadi makmun ketika adzan magrib tiba. Saya masih ingat betapa lucunya saya saat bapak mengajarkan saya bermain catur. Ya lucu, karena sampai saat ini saya tidak juga mahir dalam strategi catur haha yah minimal saya jadi tahu bagaimana langkah tiap biji catur.


Saya juga masih ingat ketika dulu selalu mengajak kami sekeluarga ke blok m untuk sekedar menghabiskan akhir pekan. Ya saya yang manja, selalu minta digendong bapak kala kaki kecilku terlalu lelah untuk melangkah. Ah ya, maklum bapak kalau memarkir mobil itu agak jauh dari tujuan haha bapak malas berdesak2an dengan manusia dan mobil2 lain saat memarkir kendaraan.

 

Tempat favorit saya dan bapak, apalagi kalau bukan toko buku Gramedia. Ketika saya dan kakak masih kecil, orang tua kami memang sangat jarang membelikan kami mainan. Setahun paling hanya 2x, yaitu saat kami ultah dan saat natal tiba (hadiah mainan bukan dari bapak, tapi dari sinterklas karena kami mau berbaik hati memberi makan rerumputan di dalam sepatu kami untuk rusa2 yang lelah dan kelaparan menempuh perjalan panjang dari kutub).

 

Tetapi kalau untuk membelikan buku, bapak sangat royal. Tiap ke toko buku saya pasti membeli buku. Waktu itu buku yang sering saya beli adalah novel anak Noddy maupun buku2 dongeng lainnya. Ketika saya beranjak SD, saya sangat suka membeli buku komik Smurf, Johan dan Pirlouit, Asterix, dll. Kadang bapak suka kesal melihat kelakuan saya. Belum juga tiba di rumah, buku komik yang saya beli sudah habis dibaca di dalam mobil hahaha “Bayar mahal2 kok belum sampai rumah sudah habis dibaca sih?” , begitu bapak selalu protes.

 

Selain buku, bapak juga sering mengajak saya nonton bioskop. Bukan bioskop 21 tentunya, tetapi bioskop kampung tak ber-AC di dekat rumah nenek. Filmnya? Pembalasan Nyi Blorong hihihi or some sort lah… Frekwensi menonton bioskop bertambah tinggi saat di bekasi dibuka bioskop baru (bukan 21, tapi lumayan sudah ada ACnya). Masih ingat saat saya, bapak dan sepupu ditolak masuk ruang bioskop saat ingin menonton Pembalasan Ratu Selatan hahaha alasannya? Saya dan sepupu masih belum cukup umur untuk menyaksikan film yang masuk kategori 17 tahun ke atas tersebut.

 

Barulah setelah saya menginjak bangku SMP (atau SMA ya?), bapak kerap kali mengajak saya nonton di 21. Yah namanya juga bukan anak gaul, bukannya jalan2 sama teman atau pacar, saya malah menghabiskan malam minggu dengan bapak dan mama nonton film di 21 Blok M Plaza. Kalau mama sedang malas, ya paling2 saya berdua saja dengan bapak nonton film. Mulai dari pertunjukan biasa, midnight show, bahkan sampai pertunjukan old & new pernah kami jabani. Ya, pernah saya dan bapak nonton pertunjukan old & new di 21 dekat rumah. Film pertama saya masih ingat judulnya Fair Game (Cindy Crawford). Tapi film kedua saya lupa judulnya, maklum saya keburu terlelap di dalam bioskop.

 

Mall favorit saya dan bapak saat saya menginjak bangku SMA tak lain dan tak bukan adalah PIM hahaha ya Pondok Indah Mall. Memang sangat jauh dari tempat tinggal kami. Ah andai saja dahulu jalan tol JORR sudah rampung dibangun, perjalanan dari rumah menuju PIM mungkin hanya memakan waktu 30 menit saja. Kami sering menghabiskan hampir setiap hari sabtu atau minggu dengan jalan2 ke sana. Dengan dibekali uang 50ribu dari bapak, biasanya saya membelanjakannya untuk membeli komik maupun kaset.

 

Bapak jualah yang pertama kali mengakrabkan saya dengan komputer bersistem operasi windows. Ceritanya sepulang dari kantor bapak memberi kejutan dengan membawa pulang sebuah laptop bekas. Uh, merknya abal2, Chicony. Prosesornya? Ajaib juga, citrix namanya. Awalnya saya agak marah dengan keputusan yang diambil bapak, bukan karena merk laptop, tapi masalahnya kami sekeluarga gaptek soal komputer. Apakah nanti bisa mengoperasikannya?

 

Terakhir ada komputer di rumah kami adalah sebuah desktop tua, PC-XT dengan layar CGA, tak berharddisk, dengan sistem operasi DOS yang ada di floppy disk ukuran raksasa. Tetapi setelah saya mengeksplor laptop itu, waw ternyata asyik juga. Apalagi ada microsoft word yang lebih user friendly dibandingkan Wordstar dan mesin ketik portable bermerk canon yang menjadi andalan kami sebelumnya dalam ketik mengetik. Alhasil di kemudian hari saya dipermudah dalam mengerjakan tugas akhir di SMA yang berupa karya tulis. Terima kasih untuk bapak yang mengenalkan saya dengan windows.

 

Bapak adalah seorang ayah yang sangat demokratis terhadap kedua anaknya, belum pernah sekalipun beliau memaksakan kehendak. Saya sangat yakin tentang hal ini, karena saya memang pernah mengecewakan beliau dengan pilihan pendidikan tinggi yang saya ambil. Tapi toh akhirnya bapak menyerahkan sepenuhnya segala keputusan di tangan saya. Saya sangat berterima kasih untuk hal ini, dan saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk menunjukkan rasa terima kasih saya, dan alhamdulilah saya akhirnya berhasil menyelesaikan S1 saya tepat waktu dengan nilai yang cukup memuaskan.

 

Mungkin itu sudah… Pengalaman saya bersama bapak yang bisa saya tumpahkan dalam blog ini. Mungkin bukan pengalaman terindah yang biasa dilalui oleh anak dan ayahnya, tapi minimal ini adalah kenangan terindah dalam hidup saya selama 29 tahun hidup bersama beliau. Walaupun kini beliau telah tiada, segala kenangan hidup saya bersama beliau tetap rapi tersimpan dan terus hidup dalam kenangan saya. Dan bila telah tiba nanti giliran saya, kenangan secuil ini semoga bisa tetap hidup dalam halaman ini, blog yang cukup panjang ini, selama server Multiply masih menyala dan terus aktif.

 

Alhamdulilah saya bisa sampai di sisimu saat siang menjelang. Sekedar untuk membacakan bait2 surat Yasin yang (semoga) bisa menerangi langkahmu dalam memasuki dunia berikutnya. Sore yang kelabu itupun tiba, saat saya tengah khusyuk membaca Yasin, lalu tiba2 tanpa saya sadari suster tengah sibuk mengecek denyut nadi bapak. Saya tidak sadar kalau nafas bapak sudah mulai jarang. Seketika saya pun menghentakkan buku Yasin itu ke tempat tidur bapak. Saya menelungkupkan muka, tak kuasa untuk menahan tangis.

 

Saya tahu, saya tidak boleh menangis, karena ini mungkin adalah yang terbaik untuk bapak, dan saya harus meringankan jalannya. Ya saya tahu tentang hal ini, tapi akhirnya saya mengalami juga hal ini, saat emosi tak dapat lagi saya tahan. Maka meledaklah tangisan. Toh saya hanya manusia biasa, saya hanya bisa berdoa, semua tangisan saya tidak sampai memberatkan langkahmu.


Lalu kau pergi dengan tenang, disaksikan oleh semua anggota keluarga, disaksikan oleh orang2 yang sangat mencintaimu, disaksikan oleh orang2 yang pernah mengisi setiap lembar kehidupanmu. Dulu kau yang merawat kami, sekarang giliran kami telah tiba untuk memandikan dan mensholatkanmu, untuk yang terakhir kalinya. Giliran kami untuk mengantarkanmu sampai ke liang lahat, pembaringanmu yang terakhir.

 

Selamat jalan Pak, maaf saya belum bisa memberikan yang terbaik untukmu. Maafkan saya, anakmu yang sampai saat ini mungkin belum bisa membahagiakanmu. Maafkan segala dosa2 yang telah saya berbuat selama ini kala diskusi denganmu kerap berubah menjadi sebuah perdebatan yang sengit. Semoga Tuhan juga senantiasa memaafkan segala dosamu.

 

Bapak, engkau kini tenang di sana, semoga rasa sakit yang selama ini kau derita dapat membantu menghapus segala dosa dan kesalahan yang telah kau perbuat semasa hidup. Semoga Tuhan menerima segala amal dan ibadahmu. Semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.

 

Amin ya Allah, Amin…



Thursday, October 30, 2008

Extreme Weather

Fiuh cuaca memang aneh. Kemarin orang2 mengeluh kepanasan, cuaca tak bersahabat, panasnya mentari bahkan sempat diindikasi bisa sangat berbahaya bagi kesehatan kulit. Saya yang biasa berangkat pagi buta saat hari masih gelap gulita, sempat agak bingung ketika pertama kali berangkat kerja dengan suasana yang terang benderang, padahal jadwal keberangkatan saya (halah) tidak berubah.

Semuanya berubah drastis saat kemarin lusa hujan deras mengguyur negeri ini. Cuaca yang sebelumnya panas membakar, berubah menjadi dingin menggigit. Saya sampai mengkerut kedinginan di dalam bus, cuaca yang dingin di luar, ditambah lagi dinginnya AC di dalam, oh yeah, beruntung saya tidak sampai biru membeku.

Perubahan cuaca yang esktrim memang kurang baik bagi kesehatan. Tubuh yang tadinya mulai beradaptasi dengan cuaca yang panas, mau tak mau harus segera menyesuaikan diri dengan udara yang dingin. Alhasil daya tahan tubuh menurun, belum lagi virus flu yang mulai berkembang biak.

Jadi, hati2 ya... Jangan sampai kita jatuh sakit terkena flu.

Halah Sky, pake nasihatin orang segala. paling2 juga nanti kamu juga yang ujung2nya terkena flu hehehe

Facebook VS Friendster

Hayo, anda pilih yang mana?

Facebook
 
 7

Friendster
 
 2

Ya, saat ini saya sedang asyik bermain dengan FB. Dulu awalnya saya sign up karena penasaran saja, seperti apa sih social networking website yang mengguncangkan dunia maya itu hehehe kabarnya lebih keren dari FS. Kesan pertama ketika sign up, wah manis juga tampilan lay outnya, enak dipandang, simpel tapi padat. Nampaknya benar juga kata orang2, FS memang untuk remaja, tapi FB lebih cocok bagi mereka yang lebih dewasa.

 

Tapi masalahnya membuka FB itu lumayan berat juga untuk saya yang memiliki akses internet yang super duper lelet. Belum lagi thin client yang saya gunakan hanya mempunya 1 browser, Internet Explorer versi 6. Jadilah mengakses FB menjadi selayaknya mimpi buruk di tengah sundal hari bolong. Maka akhirnya FB pun saya abaikan. Saya malah memberikan mandat kepada kakak untuk meng-add sepupu2 untuk sekedar menambah daftar friend saya yang masih zero hahaha

 

Nah, baru2 ini saya saya mulai membuka2 lagi FB yang sudah lusuh tertutup debu. Semakin saya mengeksplor FB lebih dalam, semakin juga saya menyadari bahwa begitu banyak keunggulan FB dibandingkan dengan FS. Rasanya saya termasuk orang yang lebih cocok dengan FB, walaupun saya yakin pengguna FS di Indonesia pasti masih lebih banyak daripada FB.

 

Salah satu fitur FB yang bikin saya kaget adalah RSS feed. Ya, saya bisa mengintegrasikan blog saya ke dalam FB. Seorang teman bahkan memasukkan account twitternya ke dalam status message di FB. Hebat. Kalau begini caranya, tak heran kalau semakin banyak orang yang hijrah dari FS ke FB, tinggal menunggu waktu saja. Walaupun tentu saja FS masih mempunyai segmen pasar yang lebih luas daripada FB.

 

Mencari dan menambah jaringan juga menjadi lebih mengasyikkan, terima kasih untuk tools people you may know yang sangat membantu. Belum lagi fasilitas photo tag yang sangat brilian itu. Ah, FB telah menjadi candu baru dalam kehidupan maya, dan saya pun terjebak di dalamnya hehehe bela2in buka FB walaupun ngaksesnya susah.

 

FB atau FS? Ah sudahlah, mereka sama baiknya, toh pada akhirnya semua berpulang kepada selera kita masing2. Saya mungkin lebih nyaman menggunakan FB, bagaimana dengan anda?

Wednesday, October 29, 2008

Buah Kecapi Bukan Kedondong

Dicicipi dulu dong…!!!

 

Ceritanya kemarin seorang anak SMK yang sedang praktek kerja lapangan di tempat kerja kami membawa oleh2 dari rumahnya, buah kecapi sebanyak 1 keranjang ukuran sedang hehehe lumayan banyak juga ya.

 

Tapi yah, namanya juga manusia, sukanya berkomentar tanpa memikirkan perasaan si pemberi oleh2.

 

“UUUhhh buah masam ini”, begitu ucap salah seorang rekan.

 

Saya juga sebenarnya menyangka kalau yang namanya kecapi itu pasti rasanya masam. Cuma saya pikir, buat apa sih diucapkan? Apalagi kemarin saya juga sedang tenggelam dengan pekerjaan yang menumpuk akibat saya tinggal selama seminggu, jadi tak sempat lagi berkomentar.

 

Eh, setelah rekan kerja, adalagi tamu dari bagian lain yang kebetulan masuk ke ruangan… “Duh siapa yang bawa buah masam ini?”. Setelah ditawari, beliau langsung menolak mentah2. Duh, benar2 kasihan deh kalau memikirkan perasaan anak PKL yang sudah repot2 membawa oleh2 tersebut. Niat baik tapi ditanggapi dengan kurang baik.

 

Nah, akhirnya ada juga seorang rekan kerja yang mencicipi kecapi tersebut…

 

“Wah ngga nyangka, ternyata kecapinya manis sekali…!!!”

 

Lalu berbondong2lah barudak akuntansi mengambil buah tersebut. Termasuk saya pun mengambil 1 butir. Langsung menuju ke pintu, krak… Akhirnya terbuka juga kulit kerasnya dengan menjepitkan ke pintu (cara konvensional tapi sangat efektif dalam mengupas kecapi hehe)

 

Ya dan akhirnya kami semua membuktikan bahwa kecapi yang dengan tulus dibawa oleh murid PKL itu ternyata sangat manis rasanya. Sekali lagi fakta kehidupan mengajarkan umat manusia untuk tidak menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja.

 

Alhasil kecapi 1 keranjang pun ludes tak bersisa. Untung saya masih berkesempatan mencicipi walaupun hanya sebutir. Tinggallah sisanya kulit kecapi berserakan di tempat sampah. Tak hanya itu, serat daging kecapi ternyata juga ikut2 tertinggal nyangkut di sela2 gigi kami hahaha…

Tuesday, October 28, 2008

Supir Angkot, Istri dan Temannya

Halah, kok ngeblog tentang angkot mulu nih hahaha ketahuan deh ngga punya mobil. Lama2 saya jadi pemerhati angkot juga deh. Sebenarnya ini cerita aslinya saya peroleh dari Dee, yang waktu itu kebetulan lagi naik angkot (juga) hihihi

 

Alkisah seorang supir angkot yang lagi narik dengan membawa serta istrinya. Ketika sedang ngetem di pinggir jalan, ada angkot lain yang menyalip. Kebetulan itu adalah temannya. Dasar sesama supir angkot emang suka usil. Sambil lalu berceletuklah dia:

 

“Iya mpok, ikutin aja terus tuh suaminya. Dia sering naikin perempuan tuh kemarin2…!!!”

 

LOLZZZ….