Saturday, December 1, 2012
Tentang Dela
Dari sekadar percakapan di forum internet, media komunikasi kami pun berkembang, kami bertukar nomer HP, kemudian berlanjut saling bertegur sapa hingga ngobrol2 lewat sms, kadang2 lewat YM juga sih, tapi jarang, karena dahulu akses saya ke internet agak susah, baru mulai sering chat di YM adalah ketika membeli Nokia E63 yang aksesnya lebih mudah karena ada apps ebuddy. Tapi memang dahulu SMS lah media yang paling mudah dan murah untuk berkomunikasi.
Dela mempunya jadwal kerja yang tidak seperti orang kebanyakan.Mulai masuk kantor jam sepuluh (tapi dia mengaku lebih sering jam 12 siang) dan baru pulang larut malam sekali, paling cepat jam 10 malam, atau bisa juga sampai jam 12 malam. Dela adalah seorang pekerja keras, suatu waktu dia pernah bercerita kalau dia sedang perlu uang lebih, akhirnya jebolan Sastra Mandarin dari Universitas Darma Persada ini pun mengambil pekerjaan paruh waktu juga di pagi hari, menjadi guru bahasa mandarin bagi anak2 pra sekolah, dia mengakui sangat menyukai pekerjaan mengajar ini, anak2 mungil itu begitu lucu dan menggemaskan katanya.
Monday, November 3, 2008
A Tribute to My Father
Tepat 2 minggu lalu saya kehilangan seseorang yang saya cintai. Bapak. Beliau memang sudah terdeteksi suatu penyakit pada akhir tahun 2007 kemarin. Saya sendiri agak kaget ketika bapak masih bisa berdiri menyambut para tamu saat pernikahan kami di awal tahun 2008. Memang secara medis bapak harus menjalani operasi kala itu, tapi seperti yang saya duga, bapak menolak.
Mungkin bapak masih bersama kami kalau beliau memutuskan untuk menjalani operasi. Ah, tapi sudahlah, garis takdir bapak memang sudah seperti ini adanya. Toh kemungkinan itu bagai 2 sisi mata uang. Kalau misalnya operasi tersebut gagal, bapak bahkan mungkin tidak bisa menghadiri pernikahan saya dengan dee.
Kenangan saya bersama bapak memang cukup dalam, sebenarnya saya terlalu sedih untuk dapat menulis tentang bapak. Itulah mengapa saya terus menunda untuk mengetik tulisan ini. Tapi saya bertekad untuk menyelesaikan tulisan ini, betapapun sulitnya menahan emosi saya dalam setiap kata yang terlontar dari pikiran saya. Ya, saya harus menyelesaikannya. Paling tidak, hanya inilah yang bisa saya lakukan untuk bapak di Multiply.
Hubungan saya dengan bapak memang cukup dekat layaknya seorang teman. Sampai saat ini saya masih bisa mengingat kala Bapak mengajarkan saya sholat untuk kemudian menjadi makmun ketika adzan magrib tiba. Saya masih ingat betapa lucunya saya saat bapak mengajarkan saya bermain catur. Ya lucu, karena sampai saat ini saya tidak juga mahir dalam strategi catur haha yah minimal saya jadi tahu bagaimana langkah tiap biji catur.
Saya juga masih ingat ketika dulu selalu mengajak kami sekeluarga ke blok m untuk sekedar menghabiskan akhir pekan. Ya saya yang manja, selalu minta digendong bapak kala kaki kecilku terlalu lelah untuk melangkah. Ah ya, maklum bapak kalau memarkir mobil itu agak jauh dari tujuan haha bapak malas berdesak2an dengan manusia dan mobil2 lain saat memarkir kendaraan.
Tempat favorit saya dan bapak, apalagi kalau bukan toko buku Gramedia. Ketika saya dan kakak masih kecil, orang tua kami memang sangat jarang membelikan kami mainan. Setahun paling hanya 2x, yaitu saat kami ultah dan saat natal tiba (hadiah mainan bukan dari bapak, tapi dari sinterklas karena kami mau berbaik hati memberi makan rerumputan di dalam sepatu kami untuk rusa2 yang lelah dan kelaparan menempuh perjalan panjang dari kutub).
Tetapi kalau untuk membelikan buku, bapak sangat royal. Tiap ke toko buku saya pasti membeli buku. Waktu itu buku yang sering saya beli adalah novel anak Noddy maupun buku2 dongeng lainnya. Ketika saya beranjak SD, saya sangat suka membeli buku komik Smurf, Johan dan Pirlouit, Asterix, dll. Kadang bapak suka kesal melihat kelakuan saya. Belum juga tiba di rumah, buku komik yang saya beli sudah habis dibaca di dalam mobil hahaha “Bayar mahal2 kok belum sampai rumah sudah habis dibaca sih?” , begitu bapak selalu protes.
Selain buku, bapak juga sering mengajak saya nonton bioskop. Bukan bioskop 21 tentunya, tetapi bioskop kampung tak ber-AC di dekat rumah nenek. Filmnya? Pembalasan Nyi Blorong hihihi or some sort lah… Frekwensi menonton bioskop bertambah tinggi saat di bekasi dibuka bioskop baru (bukan 21, tapi lumayan sudah ada ACnya). Masih ingat saat saya, bapak dan sepupu ditolak masuk ruang bioskop saat ingin menonton Pembalasan Ratu Selatan hahaha alasannya? Saya dan sepupu masih belum cukup umur untuk menyaksikan film yang masuk kategori 17 tahun ke atas tersebut.
Barulah setelah saya menginjak bangku SMP (atau SMA ya?), bapak kerap kali mengajak saya nonton di 21. Yah namanya juga bukan anak gaul, bukannya jalan2 sama teman atau pacar, saya malah menghabiskan malam minggu dengan bapak dan mama nonton film di 21 Blok M Plaza. Kalau mama sedang malas, ya paling2 saya berdua saja dengan bapak nonton film. Mulai dari pertunjukan biasa, midnight show, bahkan sampai pertunjukan old & new pernah kami jabani. Ya, pernah saya dan bapak nonton pertunjukan old & new di 21 dekat rumah. Film pertama saya masih ingat judulnya Fair Game (Cindy Crawford). Tapi film kedua saya lupa judulnya, maklum saya keburu terlelap di dalam bioskop.
Mall favorit saya dan bapak saat saya menginjak bangku SMA tak lain dan tak bukan adalah PIM hahaha ya Pondok Indah Mall. Memang sangat jauh dari tempat tinggal kami. Ah andai saja dahulu jalan tol JORR sudah rampung dibangun, perjalanan dari rumah menuju PIM mungkin hanya memakan waktu 30 menit saja. Kami sering menghabiskan hampir setiap hari sabtu atau minggu dengan jalan2 ke
Bapak jualah yang pertama kali mengakrabkan saya dengan komputer bersistem operasi windows. Ceritanya sepulang dari kantor bapak memberi kejutan dengan membawa pulang sebuah laptop bekas. Uh, merknya abal2, Chicony. Prosesornya? Ajaib juga, citrix namanya. Awalnya saya agak marah dengan keputusan yang diambil bapak, bukan karena merk laptop, tapi masalahnya kami sekeluarga gaptek soal komputer. Apakah nanti bisa mengoperasikannya?
Terakhir ada komputer di rumah kami adalah sebuah desktop tua, PC-XT dengan layar CGA, tak berharddisk, dengan sistem operasi DOS yang ada di floppy disk ukuran raksasa. Tetapi setelah saya mengeksplor laptop itu, waw ternyata asyik juga. Apalagi ada microsoft word yang lebih user friendly dibandingkan Wordstar dan mesin ketik portable bermerk canon yang menjadi andalan kami sebelumnya dalam ketik mengetik. Alhasil di kemudian hari saya dipermudah dalam mengerjakan tugas akhir di SMA yang berupa karya tulis. Terima kasih untuk bapak yang mengenalkan saya dengan windows.
Bapak adalah seorang ayah yang sangat demokratis terhadap kedua anaknya, belum pernah sekalipun beliau memaksakan kehendak. Saya sangat yakin tentang hal ini, karena saya memang pernah mengecewakan beliau dengan pilihan pendidikan tinggi yang saya ambil. Tapi toh akhirnya bapak menyerahkan sepenuhnya segala keputusan di tangan saya. Saya sangat berterima kasih untuk hal ini, dan saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk menunjukkan rasa terima kasih saya, dan alhamdulilah saya akhirnya berhasil menyelesaikan S1 saya tepat waktu dengan nilai yang cukup memuaskan.
Mungkin itu sudah… Pengalaman saya bersama bapak yang bisa saya tumpahkan dalam blog ini. Mungkin bukan pengalaman terindah yang biasa dilalui oleh anak dan ayahnya, tapi minimal ini adalah kenangan terindah dalam hidup saya selama 29 tahun hidup bersama beliau. Walaupun kini beliau telah tiada, segala kenangan hidup saya bersama beliau tetap rapi tersimpan dan terus hidup dalam kenangan saya. Dan bila telah tiba nanti giliran saya, kenangan secuil ini semoga bisa tetap hidup dalam halaman ini, blog yang cukup panjang ini, selama server Multiply masih menyala dan terus aktif.
Alhamdulilah saya bisa sampai di sisimu saat siang menjelang. Sekedar untuk membacakan bait2
Saya tahu, saya tidak boleh menangis, karena ini mungkin adalah yang terbaik untuk bapak, dan saya harus meringankan jalannya. Ya saya tahu tentang hal ini, tapi akhirnya saya mengalami juga hal ini, saat emosi tak dapat lagi saya tahan. Maka meledaklah tangisan. Toh saya hanya manusia biasa, saya hanya bisa berdoa, semua tangisan saya tidak sampai memberatkan langkahmu.
Lalu kau pergi dengan tenang, disaksikan oleh semua anggota keluarga, disaksikan oleh orang2 yang sangat mencintaimu, disaksikan oleh orang2 yang pernah mengisi setiap lembar kehidupanmu. Dulu kau yang merawat kami, sekarang giliran kami telah tiba untuk memandikan dan mensholatkanmu, untuk yang terakhir kalinya. Giliran kami untuk mengantarkanmu sampai ke liang lahat, pembaringanmu yang terakhir.
Selamat jalan Pak, maaf saya belum bisa memberikan yang terbaik untukmu. Maafkan saya, anakmu yang sampai saat ini mungkin belum bisa membahagiakanmu. Maafkan segala dosa2 yang telah saya berbuat selama ini kala diskusi denganmu kerap berubah menjadi sebuah perdebatan yang sengit. Semoga Tuhan juga senantiasa memaafkan segala dosamu.
Bapak, engkau kini tenang di
Amin ya Allah, Amin…
Tuesday, September 23, 2008
Suatu Sore di Mushola Kecil
Sore itu matahari bersinar malu2, sudah terlalu larut dan tak sabar ingin bersandar ke ufuk barat. Dari kejauhan terlihat seorang pemulung berbaju lusuh berjalan ke arah mushola yang berisi kegiatan kecil yang diikuti oleh pengurus mushola dan bapak2 warga sekitar. Lalu terjadilah percakapan itu.
Maaf Pak, apakah masih dibuka?
Waduh, maaf, bapak terlambat datangnya, semua kupon sudah habis kami bagikan.
Oh, maksud saya, apakah penerimaan zakat sudah ditutup? Saya ingin membayar zakat fitrah
Tak ada kata lagi. Bapak2 itu hanya bisa terdiam, terpana dan terenyuh menyaksikan seorang pemulung kelelahan yang berhasrat kuat untuk membayar zakat. Untuk kemudian tersadar dan menyaksikan seorang Hamba Allah yang paling mulia tengah berdiri canggung di hadapannya.
Oh ya tentu saja masih bisa Pak, mari kita masuk ke dalam mushola, nanti sekalian kita berbuka bersama dengan yang lain
Terima Kasih
Keesokan harinya mushola dipenuhi para dhuafa yang mengantri pembagian zakat fitrah, beberapa diantaranya datang mengendarai sepeda motor.
*Berdasarkan kejadian nyata dari sebuah mushola kecil di timur
Wednesday, August 13, 2008
Senandung Sunyi
Lelah
Terasa ketika badan itu terhempas
Badan bobrok yang tak kuasa lagi
Menahan beban hidup yang terus menghantam
Bagai karang rapuh yang dipaksa menahan
Barisan ombak yang tinggi membumbung
Tak kuasa
Entah untuk berapa tahun lagi
Mungkin saatnya akan datang
Ketika tubuh lemahnya terbaring
Untuk selamanya
Tak Siap
Dia merasa tak siap
Terlalu sedikit amalan mengalir
Begitu banyak dosa tertoreh
Takkan pernah siap
Sampai kapanpun
Senyuman
Yang membuatnya mampu menjalani hidup
Sebuah senyuman kecil itu
Yang selalu setia menemani harinya
Puluhan tahun yang penuh makna
Masih, mencoba tuk bertahan
Biarlah
Bila saatnya nanti
Sang malaikat maut
Mungkin akan disambutnya
Dengan tangan terbuka
Ayo tersenyum lagi bidadari kecilku
Wednesday, November 14, 2007
Sepenggal Kisah di Malam Hari
Malam telah larut saat aku tiba di rumah
Kulihat kau masih terjaga, tersenyum padaku
Letihku hilang melihatmu mengajakku bercanda
Oh, baru teringat aku harus memotong kukumu nak
Ah, biarlah, tak mungkin memotong kukumu yang mungil saat kau masih terjaga
Tak lama bercanda rasa kantuk menyerangmu lagi.
Perlahan kuraih jemarimu
Kugunting kukumu yang mulai terlihat panjang
Maafkan ibu nak
Maafkan ibumu yang selalu meninggalkanmu
Begitu banyak momen manismu yang terlewat oleh ibumu ini
Biarkanlah orang2 mencibirku, menyalahkanku
Tahukah kau nak, ibu selalu mencintaimu
Kurasakan cairan hangat itu meleleh di pipiku
Ah, kau terbangun lagi, mungkin turut merasakan galauku
Tapi kau tersenyum, tangan kecilmu meraih tanganku
Padahal belum selesai nak,
Belum lagi selesai aku mengguntingi kukumu
Tapi biarlah kulanjutkan esok hari saja.
Rasa kantuk pun telah datang menyerang ibumu
Akupun terlelap, dengan kau dalam dekapku
Bersama, ditelan gelapnya malam
didedikasikan untuk semua ibu yang tulus bekerja demi anaknya, kami semua mencintaimu.