Wednesday, December 17, 2008

Ada Perang di Dunia Maya

Hari ini Dee pulang dengan membawa majalah gratisan.

Ya majalahnya sih bapuk banget, Cosmo Girl hahaha tidak saya banget. Cuma yang bikin kaget itu iklannya. Iya iklannya, saya cuma browsing sekilas, sudah menemukan 3 iklan ISP disitu. Mulai dari First Media, berlanjut ke IM2, lalu berakhir d Speedy.

Internet kini memang kian terjangkau oleh masyarakat. Mudah2an dalam waktu dekat Indonesia bisa memasuki masanya euforia dunia maya. Bagaimana tidak, gara2 perang tarif yang dimulai oleh Firstmedia, ISP lain pun berlomba2 menurunkan tarif mereka. Firstmedia d/h Kabelvision memang langsung menggebrak setelah disuntik dana oleh Lippo Group. Bayangkan, cuma dengan 100ribu pelanggan bisa menikmati akses internet sepuasnya tanpa batas.

Alhasil bagi mereka yang rumahnya dialui jaringan kabel Firstmedia, pasti langsung beralih ke provider tersebut. Lalu bagaimana kualitasnya? Kakak dan sepupu saya fine2 saja. Tetapi rekan kerja saya mengeluh, pada saat weekend sangat sulit baginya untuk menjelajah dunia maya. Maklum di daerah tempat tinggalnya memang tidak ada yang tidak memasang Firstmedia.

Speedy pun tak mau kalah, langsung meluncurkan paket cermat dengan modem gratis, tentunya untuk menarik pelanggan yang sudah kocar kacir diserbu ISP lain yang menawarkan paket unlimited. Tapi tetap saja, walaupun perbulannya hanya 75ribu, pemakaian dibatasi hanya 15jam, lebih dari itu ya tambah 4500 untuk setiap jamnya. Tentu pelanggan takkan puas, apalagi promo pemakaian gratis dari malam sampai pagi sebentar lagi akan berakhir. Telkom harus memikirkan cara yang tepat agar pelangganya tidak pindah ke lain hati provider. Memang sih dari segi kecepatan, speedy sampai saat ini belum pernah mengecewakan saya. Download speednya lumayan tinggi walaupun saat surfing pada jam gratis.

Lain lagi dengan IM2, mengikuti jejak telkomsel flash, ISP yang juga beramunisi koneksi 3G ini pun akhirnya menawarkan paket unlimited 100ribu/bulan. Speednya memang dibatasi hanya 256kbps sampai di kuota 2GB, lewat dari itu, speed diturunkan menjadi setara kecepatan dial-up 64kbps. Speed memang dibatasi, tapi pemakaian sepuasnya sudah tentu akan menarik minat pelanggan speedy yang sebentar lagi akan berakhir masa promosinya.

Oke bagaimana kecepatannya? Oops, ternyata sudah mulai ada yang mengeluhkan buruknya akses IM2 di forum Kafegaul. Yah, tidak aneh sih, wajar kalau masalah muncul, karena orang pun berbondong2 untuk beralih ke IM2. Sekarang saja pelanggan IM2 sudah mencapai 100ribu orang, itu belum termasuk pelanggan yang menggunakan akses internet 3G indosat (non M2). Wow...

Internet di Indonesia kini memang sudah lebih terjangkau, sayang hal ini belum dibarengi dengan kualitas pelayanan yang memuaskan. Semoga ke depannya, dengan persaingan yang sehat, tidak hanya harga yang menjadi lebih terjangkau, tetapi juga kualitas koneksi turut dipertahankan atau malah ditingkatkan.

Friday, December 12, 2008

Takkan Pernah Cukup

Sedikit sebenarnya cukup untuk manusia. Tetapi terkadang yang terlalu banyak pun tak pernah cukup untuk memuaskan keserakahan manusia. Hari ini saya mendengar ceritanya, ya benar, hanya mendengar, dan itu rasanya sudah cukup untuk membuat saya bergidik.

Bagaimana tidak, saat sebuah nafsu harus dipuaskan, mungkin itu hal tak cukup menyeramkan, tapi dengan menindas rekannya sendiri? Yang jelas2 bernaung pada atap yang sama, mengais dari sumber rejeki yang sama, diberi nafkah oleh sumber yang sama? Sampai saat ini saya masih tak habis pikir bagaimana mereka bisa tega melakukan semua itu pada saudaranya sendiri.

Saya beruntung hanya mendengarkan kisahnya saja, entah bagaimana dengan mereka yang jelas2 ada di sana saat semua ini terjadi. Yang jelas, semoga semua ini tak hanya sekedar berakhir menjadi sebuah cerita yang miris dan memilukan. Semoga ini semua dapat menyadarkan kami bahwa keserakahan itu memang ada, sangat nyata di hadapan kami, di dalam tubuh kami, mengalir deras dalam aliran darah kami. Bagai jurang kelam yang menganga lebar, menunggu semua umat manusia untuk terjerumus di dalamnya.

Biarlah semua ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kami semua, untuk dapat menyalakan setitik pijar dalam nurani agar terhindar dari nafsu serakah yang menjerumuskan itu.


Wednesday, December 10, 2008

Maryamah Karpov, Finally.

Setelah menanti sekian lama, akhirnya novel yang ditunggu2 oleh jutaan umat ini terbit juga. Maryamah Karpov, seri pamungkas dari Tetralogi Laskar Pelangi. Entah isinya apa, saya baru membaca bab2 awal, belum sampai kepada intisari cerita.

Pertama mengenal Laskar Pelangi, adalah 2 tahun yang lalu melalui forum kafegaul. Dan ternyata salah satu yang meramaikan threadnya adalah seorang teman SMA saya, yang begitu saya tanya2 dia langsung merekomendasikan buku itu untuk saya baca. Maka langsunglah saya membeli bukunya, dan tak memakan waktu lama bagi saya untuk membuktikan kebenaran kata2nya. Hmm... kalau tidak salah, dari beliau juga saya meminjam buku keduanya yag berjudul sang pemimpi (apa iya ya? duh saya lupa). Beliau mengatakan kalau buku keduanya terlalu ringan dan lebih mirip cerita Lupus. Memang ringan sih, tetapi imo sangat bagus, lucu dan menghibur.

Sempat kecewa juga ketika ada diskon gede2an di sebuah toko buku di dekat rumah, ternyata MK belum juga beredar, pupuslah harapan saya untuk memiliki MK dengan harga diskon (halah sky.... dasar mental diskon hahaha). Habisnya lumayan juga kan diskonnya 30%. Saat itu akhirnya saya pun memborong buku tanpa adanya MK dalam genggaman. Tak lama kemudian, berita nan menghebohkan itu pun menyeruak, MK akan dirils tanggal 28 Nov 2008. Ah ya sudahlah, saya memutuskan untuk menunda pembelian MK, mengingat beberapa minggu sebelumnya saya sudah menghabiskan budget yang cukup besar dalam membeli buku. Enough is enough, maybe next time sky...

Dasar rejeki memang tidak kemana. minggu lalu rekan kerja menunjukkan bahwa toko buku tersebut mengadakan acara diskon lagi dalam rangka pembukaan toko baru mereka di bilangan Fatmawati, begitu yang tertera di harian warta kota. Rejeki memang tidak ke mana, harian tersebut sejatinya adalah bukan milik teman saya, tetapi milik orang lain yang sudah ditinggalkan di bis jemputan hahaha... Dan Fatmawati bisa berarti satu hal, di tempat itulah salah seorang rekan kerja saya yang lain ber-indekos.

Mestakung, semesta mendukung... Begitulah ceritanya sampai akhirnya saya menitip kepada sang teman untuk dibelikan buku MK. Oh yeah, dan kini bukunya telah ada dalam genggaman, menunggu untuk dibaca, dinikmati, diambil sari2nya dan... dihabiskan.

Waduh sky... kamu kan masih punya 2 novel dan 2 komik lagi yang belum sempat dibaca. 

Ouch... 

Saturday, December 6, 2008

Krisis Ekonomi Global 2008

Dari Sistem Riba Menuju Kehancuran Ekonomi Dunia.

Ah ya, akhirnya saya membahas juga tentang topik ini hehe ya sebagai anak ekonomi, sudah sepantasnya saya menulis masalah ini di blog sebagai tanggung jawab ilmu pengeetahuan saya. Halah ribet banget, ya pokoknya knowledge responsibilities gitu deh hahaha

Bukannya saya sok ahli dalam hal ekonomi, pada dasarnya saya malah agak buta dengan perkembangan ekonomi belakangan ini, karena malas baca koran. Makanya jangan ngetawain saya yah, blog ini memang saya tulis hanya dengan modal nekat dan pengetahuan yang amat sangat terbatas, mudah2an tidak menyesatkan pambacanya hihihi (emanganya ada gitu yang baca? wakakak)

Yang saya tahu adalah krisis global ini datangnya dari Amerika. Saya sendiri heran kok bisa ya hanya gara2 kredit macet di sektor properti di Amerika, berakibat hancurnya ekonomi global. Apa sih subprime mortgage itu?

Subprime Mortgage adalah suatu kredit yang diberikan kepada masyarakat yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan kredit biasa (prime) dan/atau memiliki historis kredit yang buruk. Dengan downpayment yang kecil atau persyaratan pencairan kredit yang demikian mudah, tentu saja resikonya juga sangat tinggi. Resiko tinggi tentu saja diimbangi dengan suku bunga yang tak kalah tinggi.

Bayangkan, masyarakat yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan kredit biasa, kini bisa mendapatkan kredit beresiko tinggi dan harus membayar bunga yang begitu tinggi, untuk kepentingan konsumsi pula. Sebut saja kredit pemilikan rumah, kredit mobil, kredit pelunasan tunggakan kartu kredit dan kredit konsumsi penuh resiko lainnya.

Makanya mulai sekarang, pikir2 dulu deh sebelum apply kartu kredit atau KTA, dengan iming2 kemudahan, sebenarnya anda sedang digiring ke jurang maut. Lihat apa yang sudah terjadi di Amerika, lihat akibat dari begitu banyaknya subprime mortgage yang diberikan kepada penduduknya. Saat mereka tak lagi mampu untuk melunasi hutang2nya (gagal bayar), bom waktu itu pun meladak, ujung2nya hanya membawa kita semua ke dalam krisis ekonomi global.

Yah namanya juga negara raksasa, pasti efeknya menyebar ke seluruh negara yang mempunyai hubungan ekonomi dangan Amerika. Dan menjelang pasar perdagangan bebas seperti saat ini, siapa sih yang tidak punya kerjasama dengan negara adidaya tersebut?

Ibaratnya sang raksasa sedang sakit, ya teman2nya juga ketularan sakit deh. Terus bagaimana dengan keadaan di Indonesia? Kelihatannya sih negara kita santai saja tuh, tidak separah waktu tahun 1998 bukan? Tapi jangan salah, krisis kali ini jauuuuuuhhh lebih dasyat daripada krisis 1998 yang hanya terasa dampaknya di kawasan asia saja. Krisis 2008 ini cakupannya  tidak hanya ekonomi regional, tetapi Ekonomi Internasional, seluruh dunia terkena dampaknya.

Lalu kenapa Indonesia belum hancur sementara Singapura sudah resmi masuk ke dalam zona resesi akibat pertumbuhan ekonominya yang minus 6%? Harus kita akui, keadaan fundamental kita memang jauh lebih kuat dibandingkan dengan keadaan kita pada tahun 1998. Yang kelihatan turun adalah nilai tukar rupiah dan IHSG. Kenapa? Bukan alasan fundamental.

Bursa Efek Indonesia adalah salah satu bursa paling mengiurkan bagi investor asing, tak hanya asia, tapi juga dunia, karena menawarkan keuntungan investasi yang tinggi. Jadi begitu banyak sumber dana dari luar negeri yang diinvestasikan di BEI. Saat Amerika memasuki resesi, tentu saja mereka akan menarik semua dana yang diinvestasikan di negara lain, karena mereka pun butuh dana yang besar untuk di negaranya sendiri. Begitulah maka harga saham jatuh dan nilai tukar rupiah pun turun karena begitu banyak dollar yang ditarik keluar dari Indonesia. Ini memang sudah menjadi resiko yang harus dihadapi oleh investasi jangka pendek seperti bursa saham.

Oke itu dari sektor keuangan, bagaimana sektor riil? Kalau dunia mengalami resesi, tentu saja setiap negara akan memangkas anggaran belanja mereka, keran impor pun disumbat. Tentu saja para eksportir kita yang akan kelimpungan karena komoditas mereka tidak laku. Kalau produk mereka tak laku dijual, tentu saja mereka harus mengurangi kapasitas produksi, sampai pada tahap yang paling parah mereka pun harus menutup pabrik.

Ledakan lagi, pengangguran di mana2. Itulah asal muasal kehebohan SKB 4 menteri. Di satu sisi pemerintah memahami akan dampak krisis ekonomi global dan berusaha mempertahankan ekonomi makro nasional. Di sisi lain para buruh yang nasibnya dari dulu sudah terhimpit, makin terancam tak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari2.

Oh ya, China sebagai raksasa asia, sudah pasti merasakan dampak yang sangat signifikan akibat daya beli dunia yang menurun drastis. Saya jadi berpikir, ke mana larinya ekspor mereka yang sebelumnya dialamatkan ke Amerika dan Eropa ya? Hua, jangan2 ke Indonesia. Ya sudahlah, kalau memang tidak penting2 banget, ada baiknya mulai sekarang kita mengurangi konsumsi produk luar negeri. Lebih baik kita memajukan perekonomian nasional dengan mengkonsumsi produk dalam negeri bukan?

Indonesia memang belum memasuki tahap krisis karena pertumbuhan ekonominya masih positif sampai hari ini. Entah sampai kapan. Ini semua tak lepas dari kekompakan tim ekonomi yang digawangi oleh Sri Mulyani dan Budiono. Mereka solid dan disiplin dalam membangun fundamental perekonomian nasional. Ha, ternyata mereka tak hanya bisa ngomong doang kan, tapi bisa mengaplikasikan ilmunya di negara ini.

Lihat bagaimana Sri Mulyani menyindir IMF saat melunasi semua hutang2 kita, keren banget. Jarang2 saya merasa bangga menjadi bangsa Indonesia, tapi waktu itu saya merasa bangga sekali. Ya, jangan khawatir, sekarang kita tidak mempunyai hutang lagi kepada IMF, kita agak lebih independent sakarang. Entah apalagi yang sedang direncakan oleh Budiono, karena semua program BInya kini dirahasiakan agar tidak direspon negatif oleh para spekulan dadakan.

Fiuh, saya sendiri tidak tahu dan tidak berani untuk meramalkan bagaimana nasb Indonesia selanjutnya. Ah, apalagi sebentar lagi ada pemilu 2009. Kalau SBY kalah, apakah Sri Mulyani dan Budiono digusur ya? Tidak terbayangkan kalau duo itu digantikan oleh orang2 yang tidak kompeten di bidangnya. Mudah2an, siapapun Presidennya, berilah kesempatan kepada Sri Mulyani dan Budiono untuk menyelesaikan apa yang telah mereka bangun selama ini. Semoga kita semua bisa melalui krisis ini dengan selamat.

Kapitalisme berkoar saat Marxisme jatuh. Kini kapitalisme pun runtuh. Kapitalisme dan sistem riba yang banyak dianut (termasuk oleh Indonesia) terbukti tidak sekuat yang mereka gembar-gomborkan selama ini. Kapitalisme tak ubahnya bagai gunung es yang kelihatan kokoh di luar, tetapi ternyata sangat rapuh di dalam dan dasarnya. Tak salah kan kalau Al-Qur’an mengharamkan riba? Waktu jualah yang akhirnya membuktikan. Membungakan uang hanya membawa kesengsaraan. Saat semua terpuruk, toh hanya sektor riil yang bisa membantu. Ya, sektor riil… yang kerap dilupakan itu…

Lalu? Bagaimana dengan Sistem Ekonomi Syariah…. Mau? Ah, sistem itu… kami semua merindukanmu, bagai oase segar di padang pasir yang panas membakar.

Thursday, December 4, 2008

Kamis Kelabu

Sebuah SMS malam ini menyambangi HP, saya termenung membacanya di tengah gerimis yang menghajar atap rumah.

Isinya memang agak aneh, tapi inforrmatif. Saya hanya ingin mengucapkan turut berbela sungkawa kepada sang manusia platonis. Semoga semua amal ibadah nenekmu diterima oleh Allah SWT.

Saya tahu, hal ini pasti sangat berat utukmu. Yang tabah ya We... Semoga kesedihan ini bisa menjadikan kita semakin kuat dalam menghadapi cobaan menuju jalan setapak pendewasaan diri.

Wednesday, December 3, 2008

For One More Day

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Mitch Albom
Speechless… sumpah buku ini keren banget. Sebenarnya sudah agak lama juga saya mengetahui tentang Mitch Albom ini. Dulu bukunya yang sering saya timang2 adalah The Five People You Met in Heaven, tapi entah kenapa, setelah membaca sampul belakang, saya urung membelinya. Tapi kemarin, saya melihat buku ini, For One More Day, saya melihat sampul belakang dan membaca sinopsisnya. Anjret, sepertinya buku ini bagus banget. Lalu saya pun urung membelinya. Hahaha di rumah saya tidak bisa tidur, maka 2 hari kemudian saya kembali ke toko buku untuk membelinya.

Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan

Mungkin itulah salah satu makna utama dari buku ini. Charles “Chick” Benetto adalah seorang mantan pemain baseball tak terkenal yang karirnya sudah tamat. Hidupnya hancur seiring dengan karir baseballnya. Minuman keras menjadi teman sejati dalam menjalani kehidupannya yang muram. Pernikahannya juga kandas di tengah jalan. Puncaknya, ketika ia merasa bahwa anak gadisnya tak menghargainya lagi, ia memilih jalan pintas untuk mengakhiri penderitaannya, bunuh diri.

Ajaib, ketika usaha bunuh dirinya gagal, ia malah bertemu dengan ibunya yang telah meninggal 8 tahun yang lalu. Ibu yang selama ini menyayanginya. Ibu yang selama ini tidak pernah dipedulikannya. Ibu yang selama ini berusaha mati2an untuk menghidupinya tapi tak pernah ia hiraukan kehadirannya. Lalu apa yang dilakukan Chick saat bertemu kembali dengan ibunya? Apakah ini semua hanya mimpi?

Novel ini menggunakan alur maju dan mundur yang berselang-seling dalam menceritakan kisah hidup Chick. Alur maju saat Chick memutuskan untuk bunuh diri dan kemudian bertemu ibunya, lalu mengadakan perjalanan menemui beberapa kenalan ibunya. Alur mundur digunakan saat menceritakan masa kanak2 Chick hingga ia dewasa. Ada bab2 khusus juga yang berjudul “Saat2 ketika ibu membelaku” dan “Saat2 ketika aku tidak membela ibu” yang menarik dan juga sangat menyentuh.

Saya merasa cengeng saat membaca buku ini, entah kenapa. Tapi ternyata bukan saya saja yang merasa, sebuah surat kabar berkata bahwa Mitch Albom memang sangat piawai dalam mememainkan titik emosional pembacanya. Ah pantas saja, ini memang kali pertama saya membaca karya Mitch Albom. Brilian, dengan gaya yang ringan kita bisa merasa sangat tersentuh. Jadi kalau anda menangis ketika anda membaca buku ini, jangan khawatir, ternyata anda tidak sendirian bukan?

Membaca kehidupan Chick membuat saya menjadi termenung, banyak pelajaran yang bisa kita petik di dalamnya. Betapa selama ini saya telah banyak berdosa dengan apa yang telah saya perbuat kepada ibu saya. Padahal selama ini ibu lah yang selalu menyayangi saya, sebuah rasa sayang dan cinta tanpa syarat, penuh keikhlasan dalam memberi dan mengorbankan hidupnya agar saya merasa nyaman dan terlindungi.

Ya, sepertinya itu yang ingin diketuk oleh Albom pada pintu hati pembacanya. Cerita mengharukan tentang keluarga Chick bolehlah kita anggap sebagai bonus yang menarik untuk diikuti. Tak lupa klimaks yang mengejutkan juga disisipkan untuk menjadi pemikat dalam buku ini. Semua pertanyaan yang memenuhi pikiran para pembaca pun akhirnya terjawab di akhir.

Ini kisah tentang seseorang yang pernah kehilangan segalanya, tetapi kemudian mendapatkan lagi sebuah kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, mengembalikan lagi cinta ke dalam hatinya.

Jadi tidak ada salahnya kalau kita memberikan sedikiiiiit saja perhatian untuk ibu kita bukan? Yakinlah, tak peduli sehancur apapun keadaan kita, tak peduli seberapa buruk perlakuan kita terhadap ibu kita, asalkan kita masih menyimpan rasa cinta yang tulus kepada ibu, percayalah ibu akan selalu ada. Ibu akan selalu ada untuk memaafkan kita, menerima kita dengan seulas senyum dan tangan lebar terbuka. Maka, peluklah beliau, niscaya kita akan merasakan kehangatan, sebuah kehangatan yang mungkin telah kita lupakan saat ibu memeluk tubuh bayi kita yang kecil, lucu, dan tidak berdaya.

Buku ini saya rekomendasikan untuk semua anak laki2 yang merasa masih memiliki ibu. Kita belum terlambat, maka janganlah menyesal di kemudian hari. Karena kita mungkin tak akan seberuntung Chick yang mendapatkan kesempatan langka itu.

Monday, December 1, 2008

Coraline

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Neil Gaiman
Ah, akhirnya ketemu lagi dengan Neil Gaiman. Sudah 4 novel fantasinya yang telah saya baca. Entah kenapa Gramdia tidak menerbitkan bukunya yang paling menghebohkan, American Gods, padahal karya tersebut didengung2kan juga dalam iklan pada bagian belakang buku yang akan saya review kali ini. Novel ini agak berbeda dengan karyanya yang lain. Kalau biasanya Gaiman menghadirkan novel2 fantasi untuk dikonsumsi oleh orang dewasa, kali ini karyanya diperuntukkan bagi anak2.

Coraline beserta ayah dan ibunya pindah ke sebuah rumah besar yang kini telah terbagi2 menjadi beberapa flat dan dihuni oleh keluarganya dan beberapa orang lainnya. Sampai akhirnya Coraline menemukan sebuah pintu terkunci yang dibaliknya ternyata sudah ditutup dengan batu bata. Ketika akhirnya Coraline berhasil menembus ke dalam pintu tersebut, ia menemukan seorang ibu dan ayah yang lain. Di dunia pararel tersebut segalanya terasa lebih menyenangkan. Ya, menggoda di satu sisi, tetapi juga mencurigakan di sisi yang lain.

Kecurigaan Coraline cukup beralasan karena ternyata ibunya yang lain itu menginginkan dia tinggal di situ selamanya, meninggalkan kehidupan lamanya, meninggalkan ibu dan ayah aslinya. Dan, sang ibu yang satunya itu akan melakukan apapun demi mendapatkan Coraline dalam genggamannya. Dikejar oleh waktu, Coraline berusaha untuk melepaskan diri dari jerat licik ibu gadungan tersebut dan berkumpul lagi dengan kedua orangtua kandungnya.

Menurut saya, salah satu kekurangan dari karya2 Gaiman adalah, karya2nya banyak memiliki kesamaan satu sama lain. Bagi yang pernah membaca Stardust, Neverwhere maupun Anansi Boys mungkin merasakan hal yang sama dengan saya. Ketiga tokoh utamanya memiliki garis besar cerita yang benar2, hampir 100%, sama, walaupun tentu saja dibalut oleh cerita yang berbeda.

Entah kenapa novel ini juga mengingatkan saya dengan karya Gaiman yang sebelumnya pernah saya baca, Neverwhere. Hanya kesamaan tema saja sih, tidak seidentik seperti ketiga novel yang telah saya review sebelumnya. Kalau Neverwhere ceritanya jauh lebih kompleks, sebaliknya Coraline sangat simpel dan ringan karena ditujukan untuk anak2 ataupun remaja.

Ok, stop mengkritik. Diluar dari kekurangan yang sebutkan tadi, buku ini juga menawarkan kelebihan yang jauh lebih banyak. Neil Gaiman memang layak mendapatkan gelar the master of story teller. Sepertinya karya2nya yang lain, buku ini juga menawarkan sebuah petualangan seru nan mendebarkan. Mengajak pembacanya ke dalam suasana tegang yang mencekam, dan dalam sekejap terbuai dalam kemisteriusan dunia pararel yang diciptakan lewat kata2 ajaib ala Gaiman. Sampai saat ini, saya belum pernah merasa bosan saat membaca novel2nya, baik cerita yang simpel untuk anak maupun yang lebih kompleks untuk dewasa.

Apalagi, karena Coraline ini buku anak, tentu saja ada ilustrasinya. Dan Dave McKean melakukannya dengan sangat baik. Ilustrasi yang ditampilkan di sini sangat berbeda dengan buku2 anak lainnya. Gambar sketsanya begitu indah, bahkan menurut saya terasa agak “dewasa” karena nilai artistiknya.

Buku yang baik, mengingatkan anak untuk senantiasa mencintai kedua orangtuanya dengan segala kekurangan yang mereka miliki.