
Sunday, November 30, 2008
Goodbye My FRIEND
Lama tidak mengikuti dunia komik, tahu2 manga 20th century boys yang biasa saya ikuti ternyata sudah tamat di Jepun... ck ck ck... Kemarin saat diskon 30% saya membeli jilid yang ke 20 dan 21, tapi sampai sekarang masih belum juga dibaca hiks...


[Gaptek Mode] : ON
Blog ini masih ada hubungannya dengan speedy hehehe maklum saya memang lagi norak2nya.
Ceritanya hari ini speedy saya bermasalah lagi, apalagi kalau bukan RTO, Request timed-out. Damn speedy, apalagi yang terjadi ini... Kemarin saat menginstal speedy, malamnya memang sempat RTO. Internet ngambek tidak mau terkoneksi, indikator pada modem menunjukkan kalau ADSLnya bermasalah. Keesokan harinya, selama 2 hari koneksi berjalan lancar tanpa ada gangguan. Tetapi hari ini RTO kembali membuat ulah, padahal semua indikator di modem menunjukkan semuanya dalam keadaan normal dan berjalan sebagaimana mestinya.
Akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk menelpon 147 saja.
CS: Hmm... saya sudah mengecek, sepertanya tidak ada gangguan.
Sky: Tapi kenapa RTO terus ya seharian ini?
CS: Hmm... Apa kemarin bapak pernah mengganti password speedy?
Oh... Shit...!!!!
Sky: Iya kemarin saya memang mengganti passwordnya...
CS: Apakah pada saat mengganti itu didampingi teknisi dari speedy?
Sky: Tidak.
CS: Oh oh.. kalau mengganti password, modemnya harus disetting ulang.
Oh crap....!!!
Lalu setelah menanyakan merk modem...
CS: Tunggu sebentar ya. Ok... ketik ini di browser... bla bla bla
Sky: Ya (menulis di catatan)
CS: Sudah diketik pak?
Sky: Wah, ini pesawat telponnya dibawah mas, sedangkan komputernya di atas. Apa tidak bisa saya catat saja?
CS: Tidak bisa pak, ini agak rumit, coba saja bapak telpon lagi di atas dengan menggunakan ponsel.
Damn....!!!
Akhirnya saya coba setting sendiri saja. Dan ternyata, halah... tidak perlu setting dari awal lagi kok. Yang perlu saya lakukan hanya mengetik URL berupa angka2 untuk masuk ke settingan modem, menulis "admin" 2x ( tahu dari buku manual modem), klik next beberapa kali, dan mengetik password yang baru tentunya.
Voila, and we're back online hahaha fiuh...
Duh speedy, bilang2 dong kalau ganti password harus menyetting modemnya juga

Ceritanya hari ini speedy saya bermasalah lagi, apalagi kalau bukan RTO, Request timed-out. Damn speedy, apalagi yang terjadi ini... Kemarin saat menginstal speedy, malamnya memang sempat RTO. Internet ngambek tidak mau terkoneksi, indikator pada modem menunjukkan kalau ADSLnya bermasalah. Keesokan harinya, selama 2 hari koneksi berjalan lancar tanpa ada gangguan. Tetapi hari ini RTO kembali membuat ulah, padahal semua indikator di modem menunjukkan semuanya dalam keadaan normal dan berjalan sebagaimana mestinya.
Akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk menelpon 147 saja.
CS: Hmm... saya sudah mengecek, sepertanya tidak ada gangguan.
Sky: Tapi kenapa RTO terus ya seharian ini?
CS: Hmm... Apa kemarin bapak pernah mengganti password speedy?
Oh... Shit...!!!!
Sky: Iya kemarin saya memang mengganti passwordnya...
CS: Apakah pada saat mengganti itu didampingi teknisi dari speedy?
Sky: Tidak.
CS: Oh oh.. kalau mengganti password, modemnya harus disetting ulang.
Oh crap....!!!
Lalu setelah menanyakan merk modem...
CS: Tunggu sebentar ya. Ok... ketik ini di browser... bla bla bla
Sky: Ya (menulis di catatan)
CS: Sudah diketik pak?
Sky: Wah, ini pesawat telponnya dibawah mas, sedangkan komputernya di atas. Apa tidak bisa saya catat saja?
CS: Tidak bisa pak, ini agak rumit, coba saja bapak telpon lagi di atas dengan menggunakan ponsel.
Damn....!!!
Akhirnya saya coba setting sendiri saja. Dan ternyata, halah... tidak perlu setting dari awal lagi kok. Yang perlu saya lakukan hanya mengetik URL berupa angka2 untuk masuk ke settingan modem, menulis "admin" 2x ( tahu dari buku manual modem), klik next beberapa kali, dan mengetik password yang baru tentunya.
Voila, and we're back online hahaha fiuh...
Duh speedy, bilang2 dong kalau ganti password harus menyetting modemnya juga


Friday, November 28, 2008
Akhirnya Pakai Speedy
Akhirnya kami jatuh juga ke lembah nista hehehe setelah saya dan dee cukup lama menimbang2 dalam memilih ISP, akhirnya keputusan kami bulat juga, memutuskan untuk menggunakan spidol. Sempat berpikiran untuk memilih indosat karena penawaran yang cukup menggiurkan, tetapi modemnya itu yang mahal, 1.200.000 perak, WEDEW....!!!!
Ya speedy, dengan modem gratis dan ongkos pasang hanya 50ribu, sepertinya sih nothing 2 lose saja deh. Kalau ternyata jelek pun, berhenti di tengah jalan juga rasanya tidak rugi. Oia, Firstmedia tidak masuk hitungan kami karena provider yangditakuti oleh telkom speedy ngetop banget itu memang belum memasang jaringan di tempat tinggal kami.
Ini hasil tes yang saya lakukan sepulangnya dari kantor, saat memasuki jam promosi yang tidak mengurangi kuota.

Ya lumayan juga sih, mudah2an besok2 juga lancar terus deh.
Ya speedy, dengan modem gratis dan ongkos pasang hanya 50ribu, sepertinya sih nothing 2 lose saja deh. Kalau ternyata jelek pun, berhenti di tengah jalan juga rasanya tidak rugi. Oia, Firstmedia tidak masuk hitungan kami karena provider yang
Ini hasil tes yang saya lakukan sepulangnya dari kantor, saat memasuki jam promosi yang tidak mengurangi kuota.


Ya lumayan juga sih, mudah2an besok2 juga lancar terus deh.
Thursday, November 27, 2008
His Dark Materials Trilogy

Rating: | ★★★★★ |
Category: | Books |
Genre: | Childrens Books |
Author: | Philip Pullman |
Buku I : The Golden Compass
Cerita anak, fantasy, keren, seru, rada nyeleneh hehehe kontroversi... Awal membaca buku ini saya teringat Narnia, hanya saja dalam versi yang lebih seru, menarik dan bikin penasaran. Campur dengan original sin dan kitab kejadian, maka jadilah novel pertama His Dark Materials ini. Kita dibawa mengikuti petualangan gadis cilik yg ditakdirkan sebagai the choosen one. Awalnya biasa saja, tapi makin dibaca, semakin tangan kita tak bisa lepas dari buku ini.
Buku II : The Subtle Knife
Perjalanan menuju beragam dunia pararel pun dimulai. Lyra sang terpilih akhirnya bertemu dengan Will si pembawa pisau. Petualangan yg seru pun dilalui oleh mereka, berdua berusaha untuk mengungkap pertanyaan yang harus dijawab, yg menyangkut takdir Lyra dan siapa sebenernya ayah Will. Ceritanya makin menarik, seru dan yang jelas bikin penasaran untuk membaca sampai halaman terakhir.
Buku III : The Amber Spyglass
Pertempuran terakhir yang menentukan nasib spiritual umat manusia ceile hehehe... Di buku yang terakhir ini petualangan Lyra dan Will berlanjut, ke lebih banyak dunia pararel lagi. Tokoh Mary, sang ilmuwan mantan biarawati mendapat porsi yang banyak di sini, untuk menyibak partikel debu dan orignal sin. Semua pertanyaan yang ada di 2 buku sebelumnya akhirnya terjawab. Pertempuran yang dahsyat tidak menjadi ending di sini, ending yang sebenarnya terasa sangat menyentuh, humanis, filosofis dan sarat akan pesan moral tanpa kita harus merasa digurui. Go grab these books guys, these r definitely a MUST READ...!
Tambahan untuk Multiply:
Kekuatan di buku I adalah, tentu saja pertarungan duel sang beruang kutub, Iorek, yang digambarkan dengan sangat dahsyat oleh Pullman. Sedangkan buku II sangat memukau dengan pertempuran mendebarkan yang harus dihadapi oleh Lee Scoresby seorang diri di ngarai Alamo demi menyelamatkan Lyra, mengingatkan saya akan gaya shoot-out mencekam yang harus dihadapi oleh Leonardo Di Caprio pada film Blood Diamond. Buku III, ah sudahlah, tentu saja endingnya yang paling menggetarkan hati saya.
Cerita yang dijalin pada trilogi ini memang tidak semenarik dan seheboh apa yang ditawarkan oleh J.K. Rowling dalam serial Harry Potter. Bahkan awal ceritanya cenderung membosankan, tetapi semakin dalam saya tenggelam dalam ceritanya, semakin tangan saya sulit untuk lepas dari buku ini. Tema kontroversi yang ditawarkan memang berhasil membuat saya penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Petualangan yang dihadapi oleh Lyra dan Will juga cukup seru dan mendebarkan.
Bahkan buku III yang menurut sebagian orang membosankan, ternyata malah berhasil menarik perhatian saya. Memang actionnya tidak terlalu banyak, tapi terdamparnya Lyra di negeri mulefa untuk memahami lebih dalam tentang debu dan original sin menurut saya sangat mengasyikkan untuk dibaca.
Memang ada pertempuran terakhir, tapi menurut saya bukan itulah kekuatan utama trilogi ini. Justru ending yang mengisahkan pengorbanan yang harus dilakukan oleh Lyra dan Will lah yang menurut saya sangat sempurna. Janji yang mereka ucapkan benar2 menyentuh hati saya yang paling dalam. Tak pelak, ini adalah salah satu ending terbaik yang pernah saya baca, jauh mengungguli ending yang ditulis Rowling pada Harry Potter and the Deathly Hallows.
Wednesday, November 26, 2008
Rokok?
Di mana2 rokok dilarang, orang yang merokok dirazia...
Di sini? Rokok dibuang ke wastafel, ck ck ck...
Di sini? Rokok dibuang ke wastafel, ck ck ck...

Tanya ken...apa?
Tuesday, November 25, 2008
I Was a Rat

Rating: | ★★★★ |
Category: | Books |
Genre: | Childrens Books |
Author: | Philip Pullman |
Bob Jones dan Joan adalah sepasang suami istri yang sampai pada masa tuanya belum juga dikaruniai anak. Hingga pada suatu malam, ada seorang anak laki2 yang mengetuk pintu rumah mereka dan berkata, “Dulu aku tikus.” Mereka memutuskan untuk merawat anak yang tak memiliki nama tersebut dan memberinya nama Roger.
Walaupun secara fisik bocah tersebut tampak seperti selayaknya anak laki2 biasa, namun tingkah lakunya benar2 mencerminkan seekor tikus sejati. Sampai kemudian anak itu menghilang dan membuat kedua ortu angkatnya khawatir. Ke manakah Roger?
Berpetualang, mulai dari menjadi tontonan sirkus nomaden, direkrut menjadi maling profesional, sampai kemudian nyawanya terancam karena dianggap sebagai monster yang berbahaya bagi masyarakat.
Benarkah Roger dulunya adalah tikus? Atau apakah itu hanya bualannya belaka? Jawabannya tentu saja bisa anda dapatkan pada akhir cerita.
Unik. Ilustrasi pada buku ini tidak hanya ilustrasi biasa, tapi ada juga kliping berita dari koran setempat, The Daily Scourge. Isinya berhubungan dengan kejadian yang diceritakan di novel ini. Jenaka, sepertinya Philip Pullman memang sengaja mengolok2 pers, khususnya surat kabar dengan gaya ilustrasi ini. Lumayanlah untuk membuat pembacanya tersenyum.
Ceritanya juga cukup menarik dan menghibur, saya jadi penasaran, siapa sih sebenarnya Roger ini? Apa benar dulunya dia memang seekor tikus? Oalah… Ternyata endingnya… Ini semua adalah kisah dongeng yang sukses diparodikan oleh Pullman, dilihat dari sudut pandang tokoh pembantu (benar2 pembantu karena porsinya di dalam dongeng aslinya memang sangat kecil). Hahaha maaf2… saya tak tahan untuk spoiler.
In the end, kita tidak boleh menyesali segala keputusan yang telah kita ambil. Kalau kita mau belajar untuk mencintai dan menghargai apa yang telah kita dapatkan, niscaya semuanya akan lebih mudah untuk dijalani. Dan mudah2an ada kebahagiaan yang akan kita raih di akhir. Amin.
Monday, November 24, 2008
Clockwork

Rating: | ★★★★ |
Category: | Books |
Genre: | Mystery & Thrillers |
Author: | Philip Pullman |
Karl adalah seorang murid pembuat jam di kota Glockenheim. Syarat kelulusannya hanya satu, ia harus membuat patung mekanis untuk ditempatkan pada jam besar di pusat kota. Sampai saat terakhir, ia belum juga berhasil membuat patung tersebut.
Di saat akhir keputus-asaannya, tiba2 seorang tokoh dari dongeng yang ditulis oleh Fritz, teman Karl yang berbakat dalam menulis, hadir membawa jawaban. Dr. Kalmeneius yang sejatinya adalah tokoh dongeng yang diciptakan Fritz, tiba2 hadir di dunia nyata menawarkan sebuah patung mekanis untuk dipakai oleh Karl.
Edan… begitu komentar saya saat membaca buku ini. Dari awal pembaca sudah dibawa ke dalam suasana yang mencekam. Tensi ketegangan ini juga terjaga dari awal hingga menjelang kisahnya berakhir. Suspense yang ditawarkan oleh Pullman juga membuat saya menjadi penasaran untuk segera merampungkankan novel tipis 100 halaman ini.
Gaya penulisan novel ini, oh brilian, dengan gaya alur maju dan mundur. Seperti ada cerita di dalam cerita, awalnya alur maju yang menceritakan keputusasaan Karl dan dongeng tulisan Fritz, lalu kemudian alurnya mundur untuk menceritakan latar belakang yang belum diceritakan pada kisah dongeng Fritz. Setelah beberapa bab berlalu, kedua cerita itu pun akhirnya menyatu menjadi sebuah satu kesatuan cerita yang utuh. Dahsyat.
Seperti biasa, layaknya dongeng Pullman, tak lengkap rasanya bila novel ini tidak menawarkan suatu pesan moral yang tersirat. Walaupun makananya tidak sesarat The Firework-Maker’s Daughter, tetapi cerita tentang hasrat dan keserakahan manusia yang tak pernah puas dengan apa yang telah mereka dapatkan, cukuplah untuk menyentil pembacanya. Oia, gambar sketsa yang menjadi ilustrasi pada novel ini juga cukup artistik dan indah dilihat.
Tak ayal lagi, anda semua harus membacanya, apalagi harganya sangat murah karena jumlah halaman yang sedikit. Lalu? Menceburlah ke dalam buaian kengerian yang mencekam.
Subscribe to:
Posts (Atom)